Bisnis Kuliner ala Food Truck

| dilihat 1492

AKARPADINEWS.COM | “TAHU bulat...., digoreng…, dadakan… 500-an…, anget-anget…., wakwaw!" Warga Jakarta tentu tidak asing mendengar rekaman suara lewat speaker yang mengiklankan tahu bulat. Di jalan-jalan, di perkampungan, dari pagi hingga malam, pesan itu sering terdengar, mengajak orang-orang untuk mengonsumsi tahu bulat yang harganya terjangkau.

Mungkin, sebagian khalayak menganggap jualan tahu bulat sama dengan jualan jenis makanan lainnya yang dijual luas. Namun, tahu bulat adalah salah satu bisnis truk makanan (food truck) yang mulai menjamur, tidak hanya di Jakarta, namun juga di berbagai wilayah di Indonesia. Food truck adalah cara berdagang dengan menggunakan kendaraan dengan bak terbuka (pick up).

Cara itu berbeda dengan cara berdagang umumnya. Kebanyakan, para pedagang hanya berdiam di spot-spot tertentu, menunggu konsumen. Sementara food truck, berbeda. Pedagang lebih aktif, bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan.

Food Truck mendatangi konsumen dari kampung ke kampung dan hadir di keramaian saat menjajakan produknya. Untuk menarik konsumen, kendaraan pun didesain lebih unik, melalui design food truck. Tentu, disertai dengan beragam menu makanan yang ditawarkan. 

Saat kendaraan berada di tengah keramaian, pedagangnya pun mulai sibuk. Tak hanya meladeni pembeli. Ada pula yang menggoreng tahu yang bercampur adonan yang sudah disediakan. Akan lebih terasa nikmat memang jika tahu bulat dimakan saat tahu masih hangat.

“Tahu mentahnya diambil dari Bogor, adonannya berasal dari ampas, lalu dicampur kuning telur dan penyedap rasa biar gurih,” tutur Wawan, penjual tahu bulat yang sudah beroperasi sekitar hampir satu tahun saat ditemui di Stasiun Tebet, belum lama ini. Uniknya, dalaman tahu itu sebenarnya kopong.

Menurut Wawan, itu karena penambahan baking powder yang biasa digunakan untuk mengembangkan adonan roti atau kue. Saat digoreng, adonan akan mengembang sehingga membuat tahu menjadi kopong dalamnya. Untuk menarik minat pembeli, pedagang tahu bulat memberikan kebebasan dalam memilih dan menambah bumbu penyedap rasa. Ada yang rasanya asin, pedas, dan keju.

Soal harga, Wawan mengatakan, sangat terjangkau. Tahu bulat yang digoreng dadakan itu harganya hanya Rp500 per biji. “Enak dan hangat, dinikmati apalagi saat hujan gerimis seperti ini” ujarnya. Karena punya citra rasa yang khas, tahu bulat pun cukup populer di masyarakat. Pembelinya merambah dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.

Wawan bergabung dalam grup penjual tahu bulat di Jakarta yang terdiri dari beberapa mobil. Setiap hari, dia berjualan bersama seorang asistennya, berkeliling dari satu perumahan ke perumahan lainnya, dari sekolah ke sekolah, dan berbagai tempat keramaian. Dia berangkat pukul 10.00 hingga malam atau hingga habis tahu terjual.

 “Jualan di mobil gini kan enaknya gak kehujanan, bisa cari tempat sendiri, mau di mana, asal gak bentrok aja dengan penjual lain. Kalau keliling terus, sayang bensin soalnya."

Setiap hari, Wawan mengatakan, dia biasanya mampu menjual 2.000 hingga 3.000 butir tahu. Dan, dalam sehari, Wawan mendapatkan sekitar Rp1 juta, termasuk pengeluaran modal untuk membeli minyak goreng, bumbu, makan, dan bensin. Sisanya, dia setor ke bosnya. Dalam sehari, Wawan dan asistennya mendapatkan pendapatan bersih sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.

Makanan dan minuman adalah kebutuhan manusia. Karenanya, bisnis makanan dan minuman, tidak tidak pernah surut peminatnya. Namun, dalam menjajakannya, tidak cukup hanya mengandalkan kualitas rasanya. Dibutuhkan pula inovasi, kreasi, dan promosi yang gencar. Namun, tidak bisa dipungkiri, salah satu kendala yang dihadapi pedagang umumnya adalah lahan atau tempat untuk berbisnis makanan dan minuman.

Selain harus membayar sewa tempat yang terus naik dari waktu ke waktu. Belum lagi biaya operasional yang harus dikeluarkan tiap harinya. Tentu, nilainya tidak sedikit.

Nah, salah satu satu cara untuk mengatasi masalah itu, selain berbisnis lewat online, food truck adalah pilihan jitu. Food Truck merupakan konsep berdagang dengan menggunakan kendaraan. Sebelum populer di Indonesia, bisnis ini telah menjadi strategi dagang di negara lain. Amerika Serikat (AS) adalah negara pertama yang mempopulerkan bisnis food truck, dimulai tahun 1866.

Food truck menjadikan kendaraan, umumnya truk yang modifikasi, menjadi tempat berjualan. Jadi, pemesanan dan pelayanan makan, dilakukan di dalam kendaraan yang telah didesain sedemikan rupa untuk menarik para konsumen.

Pada masa itu, kesibukan masyarakat AS, menyebabkan penyediaan makanan dan minuman serba cepat, instan dan praktis. Lantaran mampu menjawab kebutuhan masyarakat itu, bisnis food truck pun semakin maju pesat. 

Tren food truck, tentu memberi warna baru dalam industri kuliner di Indonesia yang kaya akan cita rasa ini. Apalagi, harganya yang relatif terjangkau. Tahu bulat misalnya, selain berasal dari racikan makanan tradisional Indonesia, juga memperlihat dimensi kerakyatkan. Berbeda dengan produk pangan dengan berbagai jenis dan inovasinya yang diproduksi perusahaan-perusahaan makanan dan minuman berskala besar yang harganya cenderung mahal.

Ternyata, meski harganya lebih "merakyat", bisnis food truck nyatanya sangat menjanjikan. Menurut Ketua Asosiasi Food Truck Indonesia (AFTI) Joko Waluyo, melalui laman foodtruck Indonesia, usaha kuliner berkonsep food truck memiliki prospek yang bagus. Namun, berdasarkan data yang dihimpun selama enam bulan, 20-30 persen dari pengusaha food truck, gugur di dua bulan pertama operasional.

Masalahnya, Joko menjelaskan, adalah perpecahan kongsi antar pemilik usaha hingga bahan baku yang sulit didapat. Karenanya, pengusaha food truck harus berusaha sendiri memutar otak untuk mengatasi permasalahan. Pengusaha yang tak kuat, lebih memilih untuk menutup usaha food truck.

Padahal, peluang bisnis food truck terbuka lebar dan pangsa pasar yang yang luas. Tentu, peluang itu bisa direngkuh jika ada kerjasama yang baik antara pengusaha, pemerintah, asosiasi dagang, dan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bisnis food truck. Misalnya, kerjasama dengan pengelola acara-acara besar seperti festival dan memberikan ruang bagi food truck untuk berdagang di ruang-ruang publik. | Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Budaya
12 Jul 19, 13:30 WIB | Dilihat : 490
Menikmati Instalasi Bambu Avianto di Pusar Jakarta
11 Jul 19, 16:53 WIB | Dilihat : 686
Mengikuti Langkah Diro dan Yesmil Mengolah Daya Haiku
10 Jun 19, 14:52 WIB | Dilihat : 284
Menjadi Betawi
05 Jun 19, 20:28 WIB | Dilihat : 368
Bubur Lambuk Rasa Johor
Selanjutnya
Energi & Tambang