Kiprah Angkasa Pura Airports 2016

Bandara Juanda Paling Tepat Waktu di Dunia

| dilihat 328

AKARPADINEWS.COM | BANDARA Internasional Juanda – Sidoarjo, Jawa Timur dinilai oleh OAG – travel analis dari Inggris, sebagai bandara besar (yang melayani 10 – 20 juta penumpang / tahun) yang paling tepat waktu di dunia, sepanjang tahun 2016.

General Manager Bandara Internasional Juanda, Yuwono mengabarkan, Kamis (5/1/17), bahwa bandara yang dipimpinnya itu mendapat peringkat pertama dalam penilaian itu, di antara 20 bandara terbaik.

OAG sendiri, yang merilis penilaiannya pada Rabu (4/1/17 waktu Inggris), menilai, bandara yang dikelola Angkasa Pura Airports, itu dinilai mencapai kinerja tepat waktu hingga 90,30 persen. Menyusul di peringkat kedua, dengan kinerja hingga 87,53 persen adalah Bandara Internasional Honolulu di Oahu – Hawaii yang di tahun sebelumnya menduduki peringkat ke 8.

Kemudian, tercatat, bandara internasional International Airport Salt Lake City di Utah – Amerika Serikat dengan kinerja hingga 87,20 persen. Selanjutnya adalah Brasilia International Airport (Brazil) dengan capaian kinerja 87,07 persen, Brisbane International Airport – Australia dengan capaian kinerja 86,71 persen.

Peringkat berikutnya diduduki oleh Sao Paulo – Congonhas – Brazilia  (85,40 persen), Portland – Oregon – Amerika Serikat (85,17 persen), Johannesburg International Airport – Afrika Selatan (84,32 persen), Athens International Airport – Attica – Greece (83,64 persen), dan Copenhagen International Airport – Denmark (83,12 persen).

Menurut siaran pers Yuwono, OAG mengamati 54 juta penerbangan di dunia.  Pengertian ketepatan waktu dalam penilaian OAG adalah penerbangan yang tiba atau berangkat dalam waktu 14 menit dan 59 detik, di bawah 15 menit dari waktu kedatangan / keberangkatan yang dijadualkan.

Dalam rilisnya OAG menyebut, bandara internasional Juanda (Surabaya Airport) memimpin peringkat di bandara besar. Untuk bandara skala menengah, Birmingham International Airport – Inggris (91,28 persen), sedangkan untuk Bandara skala major adalah Haneda International Airport – Tokyo (87,49 persen) yang meraih posisi itu untuk kedua kalinya. Akan halnya bandara skala kecil diraih oleh Newcastle – Inggris (90,94 persen).

Selebihnya untuk bandara tepat waktu seluruh skala, pencapaian kinerja berada pada kisaran kinerja di bawah 90 persen.

Pencapaian kinerja bandara internasional Juanda, tersebut sangat membanggakan. Terutama ketika arus besar aviasi sedang bergerak dari Amerika – Eropa ke Asia Pasifik, dan dua tahun terakhir sedang bergerak  ke dekade aviasi Asia Pasifik.

Tahun 2015, bandara internasional Ngurah Rai di Den Pasar – Bali yang juga dikelola oleh Angkasa Pura Airport, dinilai sebagai representasi bandara internasional di Asia Pasifik yang sedang bertumbuh, dan terus meningkat kinerjanya, meskipun belum memperoleh peringkat.  

Dari seluruh skala, kinerja bandara Juanda, telah menempatkan posisinya sebagai bandara internasional yang dari segi efektivitaas dan efisiensi waktu memberi kontribusi bagi pencapaian bisnis dan turisme.

Membanggakan, karena kinerja itu melampaui kinerja berbagai bandara di dunia yang selama ini dipandang sebagai contoh dengan kompleksitas permasalahannya. Antara lain, melampaui kinerja Sao Paulo Guarulhos, Brazil (85,28%), Detroit (84.64%), Atlanta (84,57%), Minneapolis (84,46%), Seattle (83,74%), Moscow Sheremetyevo (83,52%), Changi - Singapura (83,49%), Munich (82,85%) dan Phoenix (82,82%).

Pencapaian itu juga melebihi pencapaian kinerja Osaka (89,68%), Panama City (89,56%), Belo Horizonte (88,49%), Cologne Bonn (88,27%), Cape Town (86,06%), Milan Bergamo (85,87%), Perth (85,86%), Bahrain (85,49%) dan Adelaide (84,90%). Termasuk Anchorage (89,52%), Brussels South Charleroi (88,65%), Trondheim (88,00%), Stavanger (87,95%), Hannover (87,89%), Cairns (87,23%), Bergen (87,21%), Curitiba (86,77%) dan Durban (86,03%) di skala kecil.

Bandara internasional Juanda, Haneda, Birmingham, dan Newcastle  mencapai kinerja tepat waktu, karena kemampuan manajemen bandara berkoordinasi dan mengelola komunitas bandara, terutama maskapai penerbangan, serta perusahaan mitra mereka dalam mengelola ketepatan waktu layanan di landasan (ground handling), baik dari terminal ke pesawat maupun dari pesawat ke terminal.

OAG menekankan, pencapaian bandara-bandara andalan dengan peringat pertama dan runner up dalam ketepatan waktu, tak lepas dari upaya dan kerja profesional  orang – orang yang menggerakkan manajemen bandara.

Perbaikan dan peningkatan dalam peringkat keempat bandara (Birmingham, Juanda, New Castle dan Haneda), menurut OAG merupakan salah satu aspek perubahan positif dari layanan terhadap pelanggan.

OAG mengamati dan menilai sekitar 54 juta rekaman penerbangan di berbagai bandara seluruh dunia, menggunakan data tahun penuh sepanjang tahun 2016 untuk menampilkan para pemain terbaik di berbagai kategori.

Database yang dipergunakan untuk melakukan penilaian, setidaknya meliputi 80 persen data dari semua penerbangan terjadwal yang dioperasikan oleh maskapai penerbangan atau bandara, dengan menyertakan juga seluruh pembatalan penerbangan dari jadual yang sudah disiapkan.

Definisi OAG untuk kinerja tepat waktu (OTP) adalah penerbangan yang tiba atau berangkat dalam waktu 14 menit dan 59 detik (di bawah 15 menit) dari waktu kedatangan / keberangkatan yang dijadualkan.

Dalam penilaian dan menentukan peringkat kinerja tepat waktu, OAG merupakan institusi yang diandalkan di dunia. Penilaiannya paling komprehensip dalam melihat bandara tidak semata-mata hanya sebagai terminal keberangkatan dan kedatangan penumpang.

OAG melihat bandara yang dinilainya sebagai industri jasa berbasis pelayanan, dimana ketepatan waktu menjadi faktor yang utama. Kalangan bisnis dan profesional di Amerika Serikat, menggunakan data AOG untuk sekurang-kurangnya melihat banyak penerbangan dan bandara yang terus berubah dan berkembang kualitas pelayanannya.

“Airlines dan bandara terus menempatkan prioritas pada kinerja tepat waktu sebagai faktor signifikan saat merencanakan perjalanan,” kata John Grant, analis senior di OAG.

Menurut Grant, manajemen bandara yang mencapai peringkat tertinggi dan 20 besar, terus menerus memperkuat sinergi dengan mitra lokal, regional, dan globalnya masing-masing.

Dari pengamatan lapangan akarpadinews di bandara internasional Juanda, baik terminal 1 maupun terminal 2 rata-rata pencapaian kinerja layanan tepat waktu banyak dipengaruhi oleh kemauan dan kesadaran maskapai penerbangan. Khasnya untuk maskapai penerbangan murah – low cost carrier (LCC) dalam melayani sekira 10 sampai 20 juta penumpang dengan beragam dan berbagai kepentingan  yang memerlukan ketepatan waktu. Apalagi, bandara Juanda kini sudah dilengkapi dengan fasilitas hotel transit di dalam bandara.

Salah satu faktor pencapaian bandara internasional Juanda sepanjang tahun 2016 adalah manifestasi visi Angkaspura Airports untuk menempati posisi 10 bandara terbaik di Asia, mewujud dalam tata manajemen yang berkesinambungan dari tahun ke tahun. Terutama, bandara ini kerap menerima beberapa penghargaan terkait layanan terhadap penumpang atau pengguna jasa bandara. Termasuk sinergi antara manajemen bandara dengan seluruh komunitas bandara.

Manajemen bandara mengkoordinasi dan memfasilitasi komunikasi dan sinergi antar komunitas, sehingga maskapai penerbangan dapat sungguh tepat waktu dan menjalankan operasi secara efektif dan efisien. Bandara mengatur pengelolaan penumpang dan barang secara lebih cepat.

Waktu bukan hanya berarti uang, karena bagi Angkasa Pura Airports waktu adalah juga reputasi. Kinerja positif tepat waktu, ditupang oleh jadual yang mengikat seluruh unsur operasi bandara dan penerbangan. Hal ini memerlukan koordinasi dengan berbagai pihak lain, termasuk manajemen bandara lain yang terkoneksi. Karenanya, ketepatan mengeksekusi jadual sekaligus menunjukkan integritas. Tanpa sikap demikian, kelambatan akan menyebabkan penumpang tertinggal koneksi.

Bandara Internasional Juanda, terutama Terminal 2, terasa sekali mengoptimalkan penjadualan untuk mengurangi beragam risiko yang bisa terjadi dan berujung pada reputasi dan kualitas kinerja.

Di sisi lain, bandara internasional Juanda dapat menjadi contoh dalam menghindari dan mengatasi kemacetan bandara, terutama dalam pengelolaan antara aero space dan non aero space bekerjasama dengan seluruh komunitas yang ada di bandara, termasuk dengan otoritas bandara, dan lalu lintas udara yang kini dikelola pihak lain.

Keandalan mengelola kemacetan bandara yang sangat mempengaruhi jadual dan kinerja tepat waktu akan terus menjadi bagian dari transformasi manajemen bandara. Terutama, karena IATA merilis sebuah laporan (2014) yang memprediksi peningkatan jumlah penumpang (di dunia) bisa mencapai 7,3 miliar pada tahun 2034. Terutama dengan asumsi, terjadi pertumbuhan tahunan rata-rata 4,1 persen.

Peningkatan jumlah penumpang itu, akan membuat bandara menjadi sangat sibuk dan jadwal penerbangan selalu ketat. Beragam isu dapat berkembang, kelak, karena akan berakibat pada optimalisasi kinerja tepat waktu. Tak terkecuali, isu ini akan melampaui lounge bandara, karena ketidak-tepatan waktu, secara psikologis juga menambah zoba stress penumpang. | Bang Sem

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Budaya
17 Nov 17, 06:56 WIB | Dilihat : 484
Masjid Raya Al Mashun Sisa Digjaya Kesultanan Deli
21 Okt 17, 09:27 WIB | Dilihat : 1084
Ruh Budaya Betawi dalam Lukisan Sarnadi Adam
06 Okt 17, 17:21 WIB | Dilihat : 1471
Choreopainting Revki dan Daya Magis Biola
13 Jan 17, 23:30 WIB | Dilihat : 207
Diplomasi Lewat Seni Budaya
Selanjutnya
Energi & Tambang
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 615
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
15 Des 16, 21:23 WIB | Dilihat : 837
Pertamina Serius Investasi di Hulu
Selanjutnya