Al Quran Petunjuk Hadapi Krisis

| dilihat 181

Farhan

AL QUR’AN yang diturunkan Allah bertepatan dengan lailatul qadr, telah memberi makna atas nilai malam ini di hadapan Allah, yakni ‘seribu bulan’. Artinya, Al Qur’an merupakan wahyu yang amat sangat penting bagi manusia.

Allah mendudukkan Al Qur’an sebagai petunjuk yang di dalamnya tidak ada keraguan. Al Furqan, yang memberi petunjuk jelas dan tegas tentang baik buruk, halal haram, dan sebagainya. Bahkan, boleh dikatakan, Al Qur’an merupakan konstitusi yang melandasi seluruh hukum islam.

Para ahli tasawuf, bahkan menyebut Al Qur’an sebagai sumber mata air yang mengalirkan kebaikan dan nikmati bagi insan yang beriman, yang memperpendek jarak antara hamba dengan khalik-Nya.

Al Qur’an juga merupakan ‘santapan ruhani’. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, ”Sesungguhnya Al Qur’an ini hidangan dari Allah. Terimalah hidangan-Nya sekuasa kalian; sesungguhnya Al Qur’an ini tali Allah, cahaya terang, dan obat yang bermanfaat”. (HR Al Hakim).

Lalu, Rasulullah SAW menyatakan, Al Qur’an merupakan pelindung bagi yang berpegang kepada-Nya, dan keselamatan bagi yang mengikutinya. Yang tergelincir akan ditegakkan, yang belok akan diluruskan. Tidak habis-habis keajaibannya. Tidak hilang keindahan karena banyak membacanya.

Sedemikian penting dan utamanya Al Qur’an, Abu Dzar berkesaksian, Rasulullah menyatakan, “Hendaklah engkau membaca Al Qur’an, karena Al Qur’an itu cahaya bagimu di bumi, dan tabungan bagimu di langit”.

Allah sendiri menegaskan, bahwa Al Qur’an merupakan merupakan kitab Allah, petunjuk jalan bagi mereka yang bertaqwa. Dan karenanya, kita sebagai umat yang telah diberikan Al Qur’an, wajib membacanya. Siapa yang mengabaikannya, termasuk orang yang merugi (QS Al Baqarah 121).

Dalam situasi sekarang, ketika sedang menghadapi krisis akibat pandemi global, membaca al Qur'an adalah ikhtiar kesadaran yang bermanfaat. Terutama, untuk menemukan solusi spiritual dalam menghadapi krisis, yang sedang bergerak dari krisis kesehatan ke krisis ekonomi, yang salah-salah menanganinya akan menyeret kita ke krisis multidimensi.

Terutama, karena sistem ekonomi dan politik global, masih dikuasai oleh mereka yang lebih menyukai sistem ekonomi ilutif dan sistem politik fantasia, katimbang sistem riil yang berpihak pada manusia dan kemanusiaan.

Dalam keadaan semacam ini, Al Qur'an merupakan pedoman untuk menghidupkan kesadaran insaniah, supaya kita mempunyai sense of crisis, sehingga kita akan tahu: apa yang semestinya dilakukan.

Mereka yang mempunyai sense of crisis akan selalu berpikir kreatif, bersikap efektif dan efisien, sebagai modal untuk selalu optimistis. Lalu, serempak dan serentak meningkatkan ikhtiar melakukan produktivitas individual dan kolektif. Mereka tak akan pernah berhenti berpikir kreatif dan inovatif. Bahkan, dalam kondisi paling pahit pun, mereka tak akan mau duduk termangu, berpangku tangan, lalu bingung dengan apa yang mesti dikerjakan.

Mereka akan terus mengembangkan daya kreatif, mendorong dan mengembangkan berbagai inovasi, sehingga mampu menemukan berbagai solusi. Lantas, mengeksplorasi fungsi dan kemampuan yang dimilikinya, serta mewujudkan sinergi positif.

Krisis tak boleh dihadapi dengan keluh kesah, bermandi ratapan. Karena pada dasarnya, manusia diciptakan untuk mencari dan menemukan solusi kehidupan. Mengubah ratapan menjadi harapan.

Optimisme selalu dihidupkan oleh Rasulullah Muhammad SAW setiap kali menghadapi situasi krisis, termasuk ketika terjadi epidemi wabah Tha'un, yang disusul oleh krisis sosial ekonomi. Bahkan, ketika Rasulullah menghadapi tahun duka, karena istrinya (Siti Khadijah al Qubra) dan pamannya (Abu Thalib) yang sangat mendukung perjuangan syi'ar islam-nya wafat.

Allah memberikan petunjuk solutif, sampai turun firman Allah, Surah al Insyirah (Melapangkan). Surah yang terdiri dari delapan ayat, itu menghidupkan kesadaran untuk bersikap optimistik, sekaligus memandu cara menyelesaikan situasi.

"Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?; Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, yang memberatkan punggungmu, mdan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu. Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap."

Dalam banyak hal, krisis sebenarnya merupakan momentum strategis untuk menentukan keputusan-keputusan, untuk memperoleh keadaan yang lebih baik. Dalam falsafah Sunda, dikenal pameo: ulah ugut ka linduan, ulah geudag ka anginan. Tak galau menghadapi krisis, tak pula laku-lajak menyikapi keadaan.

Bagi manusia yang optimistik, krisis merupakan momentum untuk memicu motivasi kerja lebih baik, sebagai manifestasi dari, "di balik kesulitan ada kemudahan," yang biasa dipahami, "di balik kesulitan ada inspirasi."

Kuncinya, adalah setiap manusia wajib mempunyai sense of crisis, kesadaran terhadap krisis, sehingga, mau dan mampu mengendalikan diri untuk bersama-sama mengatasi krisis.

Bukan justru bersukacita menyaksikan orang lain pontang-panting mengatasi krisis. Bukan pula memanfaat krisis hanya untuk memuaskan diri sendiri.

Kemampuan manusia mengelola dan meneguhkan sense of crisis diberikan Tuhan kepada siapa saja. Meskipun, yang sungguh mampu memanifestasikan sense of crisis hanyalah mereka yang berakal dan berjiwa sehat.

Ya, karena mereka yang sehat akal dan jiwanya saja yang bisa memberi makna atas eksistensinya di tengah lingkungan sosialnya masing-masing. Bukan justru menjadi predator yang menghancurkan peluang kolektif.

Sungguh mulia, manusia yang mempunyai sense of crisis dan sungguh dina, manusia yang menguburkan sense of crisis, hanya karena sibuk mengurus diri sendiri, ketika orang lain sibuk bekerja mengatasi krisis.

Namun, setelah krisis berlalu dan kembali ke kehidupoan normal, jangan lagi meninggalkan Allah, atau berserah diri kepada selain Allah, yang disebut sikap inkar.

Allah tidak bertoleransi kepada mereka inkar, setelah Al Qur’an diturunkan. “Dan, bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan rasul-Nya (Muhammad) pun berada di tengah-tengah kamu…” (QS Ali ‘Imran 101).

Berbahagialah mereka yang memahami hakekat keberadaan Al Quran, sebagai panduan solusi mengatasi krisis.

Semoga, kita termasuk ke dalam golongan kaum yang menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk hidup. |

Editor : Web Administrator
 
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1016
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1856
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1550
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya
Humaniora
22 Mei 20, 08:48 WIB | Dilihat : 422
Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma dalam Kenangan
21 Mei 20, 00:28 WIB | Dilihat : 85
Ke Mana Nalar Keadaban
15 Mei 20, 04:27 WIB | Dilihat : 83
Khalwat
09 Mei 20, 09:06 WIB | Dilihat : 255
Tantangan Cendekiawan Muslim Sejati
Selanjutnya