Terpeleset Gosip

| dilihat 150

Salsa menggeraikan rambutnya yang mulai panjang, lalu mengurai senyum kepada Karin, kolega yang duduk di kursi, persis di depan meja kerjanya.

“Sibuk kerja aja, kamu.. Ngapain, sih ..” tanya Karin, iseng. “Ya.. saat jam kerja harus sibuk, Jaman lagi susah, kita kudu kerja keras, produktif, dan efisien”, jawab Salsa.

Karin tersenyum. “Efisien atau ngirit ?” candanya. “Kedua-duanya,” jawab Salsa sambil lalu.

Karin yang suka bergosip, ini mulai dirangsang oleh naluri buruknya. “Masak sih pejabat seperti kamu, masih harus kerja kayak gini?.

Sebagai Kepala Biro, pasti dong ‘sabetan’-mu banyak..?”, cetusnya. Salsa kembali membalas dengan senyuman.

Koq digratisin aja sih orang ngomong?” Karin menggerutu. Salsa yang mulai terganggu, menatap Karin. “Baiklah, aku bicara karena kamu menghendakinya. Padahal,  aku tak suka membicarakan hal ini,” respon Salsa.

“Orang selalu mengira, kedudukanku dengan sejumlah wewenang, selalu punya uang. Aku termasuk istri yang harus cerdas bertindak efisien. Sumber penghasilan utama di rumah tanggaku, ya dari suami. Kontribusiku tak seberapa, dan lebih banyak kupergunakan untuk keperluan pribadiku,” cetusnya.

“Masak sih ?” goda Karin. “Ya.. kamu tahu sendiri ‘kan, berapa besar sih gaji kita sebagai PNS? Berapa besar sih jumlahnya ?”, balas Salsa.

Karin penasaran, dan bilang: “Tapi, ada ‘kan sumber dana lain? Dari rekanan misalnya,” lanjut Karin. Salsa senyum lagi. “Kalau orang lain, aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku sendiri, jelas tak ada...”

Karin terdiam. Dia tidak percaya dengan omongan Salsa. Ia mencibir di dalam hati, saat Salsa bilang, “Aku sendiri ragu, patut gak sih aku menerima imbalan seperti sekarang ini. Kita dibayar ‘kan untuk bekerja sesuai jam kerja.

Berapa persen sih dari jam kerja sehari-hari yang sudah kupergunakan untuk menyelesaikan tugas dan kewajiban kantor? Tak sedikit waktu kerja habis hanya untuk ngobrol ngalor ngidul, dan cekakak cekikik, yang tidak produktif. Ngomongin orang, menyelidiki rekan kerja mengurusi tugasnya. Menggosipkan atasan dan entah siapa lagi, mendengarkan orang menebar hasutan, baca koran dan makan siang di luar berlama-lama.”

“Jangan menyindir begitu dong ?” cetus Karin, reflek. Salsa terperangah.

 “Lho, koq merasa tersindir... Ma’af Karin.. aku hanya sedang mengalkulasi, apakah sungguh aku sudah pantas memperoleh imbalan gaji seperti saat ini? Sesudah kufikir-fikir, ternyata tidak. Makanya aku malu, kalau tak becus melaksanakan pekerjaanku..”

Karin diam sambil bersungut dalam hati. Diam-diam dia introspeksi, betapa selama ini dirinya lebih banyak bergosip, dan menghasut. Ia tersadar, banyak kepercayaan yang diberikan atasan kepadanya tak bisa dia lakukan, karena memang tidak mampu bekerja.

Selama ini, ia lebih sibuk menutupi kelemahannya, dengan sering merekayasa cerita. Antara lain, cerita, bahwa dirinya tidak diberi tugas dengan benar. Pekerjaannya dirampas oleh atasan diserahkan kepada orang lain. Lantas menebar gosip, atasan melakukan nepotisme, saat ada rekan kerja diberikan kepercayaan melaksanakan pekerjaan oleh atasan, dan sukses.

Karin diam, ketika Salsa, yang cantik dan berwajah bening, itu bilang, “Suamiku sering mengingatkan, agar aku jangan sampai memakan kotoran sendiri. Maksudnya, gaji yang dinikmati dan tidak diimbangi dengan pemenuhan kewajiban secara benar, sama artinya dengan kotoran sendiri.”

Karin kesal, lalu meninggalkan ruang kerja Salsa.

Tiba-tiba terdengar suara berteriak dan mengaduh. Karin terpeleset di tangga.

Dia terjatuh dan menggelinding. Keningnya memar. Beberapa karyawati menyaksikan Karin yang masih tergeletak di lantai. 

“Bu Karin kenapa ?” tanya seorang karyawati. “Terpeleset gosip kali.” tukas karyawan lain, sambil cuek dan berlalu. | Sem Haesy

Editor : Web Administrator
 
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 782
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1621
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1329
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya
Humaniora
19 Jan 20, 12:54 WIB | Dilihat : 152
Chairul Montir Terbang dari Pinrang
15 Jan 20, 12:30 WIB | Dilihat : 223
Cinta adalah Kedalaman Nurani
13 Jan 20, 16:27 WIB | Dilihat : 261
Civitas Akademika ITB Jangan Berhenti Menebar Inovasi
12 Des 19, 14:29 WIB | Dilihat : 166
Harmoni
Selanjutnya