Tanda Tanda

| dilihat 625

MALAM pergantian tahun berlalu. Abu Nuwas menghabiskan malam pergantian tahun, itu di sudut sebuah desa yang jauh dari keriuhan kembang api dan pesta pora. Ia memenuhi undangan Kabayan yang sudah lama menanti kedatangannya.

Keduanya bersepakat, malam itu akan menghabiskan pergantian tahun dengan berdzikir dan berbincang apa saja, sesuai kesepakatan.

Beberapa menit setelah masuk tahun 2017, Abu Nuwas mengakhiri dzikirnya. Ia mengajak Kabayan salat tahajjud. Selepas itu, Kabayan mengajak Abu Nuwas duduk di amben (bale) bambu yang terletak di beranda rumahnya.

Ia tak ingin mengganggu Iteung yang sedang tidur lelap.   Angin malam yang meluncur dari puncak bukit, semilir.

Kabayan memulai percakapan.  “Wan Abu.. kalau ditilik-tilik berbagai peristiwa yang berlangsung tahun 2016 lalu, di seluruh dunia, apa yang paling menarik?”tanya Kabayan.

Abu Nuwas memandang wajah sahabatnya dalam samar, karena hanya diterangi bola lampu 15 watt. Dia tersenyum. “Banyak peristiwa terjadi dan tak pernah diselesaikan dengan baik oleh para pemimpin,”ujar Abu Nuwas.

“Mengapa?”

“Karena pangkal persoalan tak pernah diselesaikan.”

“Apa itu?”

“Lima pangkal sebab kehancuran manusia terbiarkan begitu saja. Akibatnya, sepanjang tahun lalu, dan mungkin akan terus menjalar ke tahun ini, kita menyaksikan tanda-tanda kehancuran umat manusia atau bangsa-bangsa,.”

Kabayan menatap wajah Abu Nuwas serius. Ia menghela nafasnya.

“Apa yang Anda lihat dari peristiwa kehidupan sepanjang tahun 2016, itu?” tanya Kabayan.

“Setidaknya ada lima perbuatan buruk yang dihalalkan manusia, padahal kelimanya merupakan faktor penyebab kehancuran umat manusia atau bangsa-bangsa,”jawab Abu Nuwas.

“Apa saja itu,”sambar Kabayan, spontan.

“Pertama, para pemimpin dan masyarakatnya, termasuk kita, telah membiarkan dan menghalalkan perangai buruk, saling melaknat satu dengan lainnya.”

“Maksud Anda, para pemimpin dan kita telah membiarkan media sosial menjadi ajang saling melontar ujian kebencian?”

“Itu hanya bagian kecil saja, Kabayan. Yang jelas,  sepanjang tahun lalu, kita menyaksikan begitu banyak orang saling menyerang, mengumbar aib sesamanya, sekaligus menyembunyikan kebaikan, kekuatan, dan kinerja sesamanya.”

“Tapi, ada juga kan yang sibuk menghitung-hitung kebajikan sekaligus menyembunyikan kelemahan diri sendiri, dan mencerca orang lain yang tak sejalan untuk menutupi kelemahan itu? Kenapa itu bisa terjadi?”

“Anda benar, Kabayan. Semua itu dilakukan, karena terlalu banyak orang gandrung terhadap kekuasaan yang mereka sandang. Kegandrungan mereka kepada kekuasaan, melebihi kegandrungan dan cinta mereka kepada Tuhan yang menciptakan mereka.”

Abu Nuwas menatap Kabayan. Kabayan mengangguk.

“Lalu apa faktor kedua penyebab kehancuran manusia dan bangsa-bangsa itu?”tanya Kabayan penasaran.

Abu Nuwas menyandarkan tubuhnya di dinding.

“Yang kedua, banyak pemimpin dan masyarakat di dunia, membiarkan khamar dan madat telah menjadi pemenuh utama dahaga, hanya untuk melupakan beban hidup.”

Abu Nuwas menambahkan, “Kian banyak orang mengonsumsi segala hal yang memabukkan dan membuat mereka melayang ke alam fantasi.”

“Termasuk mabuk kekuasaan?” tanya Kabayan. Abu Nuwas menjawab dengan anggukan.

“O.. jadi itu yang menyebabkan banyak pemimpin dan petinggi di berbagai belahan dunia, meracaukan dan mempersoalkan sesuatu yang tidak penting dan tidak utama dalam mengusung kebajikan kolektif?”

Abu Nuwas mengangguk. Lantas menjelaskan, “Yang ketiga adalah membiarkan segala yang kemilau menjadi pakaian utama. Manusia menganggap kemewahan sebagai tujuan hidup. Bangga dengan segala hal yang artifisial, bermegah-megahan.”

“Mengapa ini termasuk fantor yang menghancurkan peradaban manusia?” tanya Kabayan.

“Berlomba-lomba dalam kemewahan, menggerus kesadaran kolektif tanggungjawab sosial, sehingga terjadilah ketimpangan sosial yang sangat tajam di tengah masyarakat.”

“Yang Wan Abu maksud sudah termasuk perangai menghambur-hamburkan harta untuk memenuhi hasrat fantasi, termasuk fantasi politik, sambil menjadikan orang-orang miskin sebagai jargon yang menutupi hasrat sesungguhnya?”

Lagi, Abu Nuwas mengangguk.

“Lalu apa lagi” tanya Abu Nuwas mendesak.

“Yang keempat, begitu banyak orang, termasuk kalangan petinggi agama, berlomba menjadi selebriti”

“Ah.. Wan Abu menganggap hal itu menjadi penyebab kerusakan?” desak Kabayan.

Abu Nuwas tersenyum. Lalu mengatakan, banyak kalangan berlomba menjadi selebriti, karena selebritas menjadi panutan. Akibatnya, orang sibuk mematut dirinya dengan beragam cara, menggunakan media untuk kepentingan pencitraan. Termasuk dengan memproduksi isu dan rumors.

“Banyak manusia sibuk memburu posisi diri sebagai pribadi-pribadi popular berbalur sanjung puja puji. Untuk itu mereka membiarkan rumors sebagai bagian dari pengukuh eksistensi diri..”

“Apakah popularitas juga berdampak pada perebutan kekuasaan?” tanya Kabayan.

“Ya.. begitulah. Terlalu banyak sihir politik modern yang selalu mengaitkan popularitas dengan elektabilitas dalam pemilihan pemimpin secara terbuka,”jawa Abu Nuwas.

“Lalu?”desak Kabayan lagi.

“Ini yang mengerikan Kabayan. Lelaki kawin dengan lelaki, perempuan kawin dengan perempuan. Dan hal itu berkembang sebagai gaya hidup,”jawab Abu Nuwas.

“Memangnya salah?”tanya Kabayan.

“Pikir sendiri ya. Gaya hidup semacam itu, memberikan gambaran, masyarakat kehilangan identitas kemanusiaannya bersekutu melakukan penyimpangan asasinya sebagai manusia. Jadi, mereka yang meyakini gaya hidup semacam itu sebagai hak asasi manusia, pelajari lebih mendalam tentang hakekat keberadaan manusia itu sendiri.”

Kabayan mengangguk. Lantas tercenung sesaat. “Ngomong-ngomong, kelima pangkal alias musabab kehancuran peradaban manusia itu sudah ada di sini belum ya?”

Abu Nuwas tersenyum. “Silakan Kabayan teliti, simak, dan perhatikan sendiri ya. Yang pasti, Kabayan, ada satu cara untuk menghindari bencana sosial kemanusiaan itu.”

“Apa itu?”

“Tinggalkan dan cegah jangan sampai ke lima musabab kehancuran itu terjadi. Caranya? Konsistenlah menjalani hidup sebagai manusia..”

Kabayan masih kepingin ngobrol. Tapi, sayup-sayup adzan sudah kumandang dari kejauhan, dan subuh menjelang. Keduanya bersiap salat subuh, jelang fajar 2017.. | 

Editor : sem haesy
 
Energi & Tambang
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 268
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 646
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
15 Des 16, 21:23 WIB | Dilihat : 865
Pertamina Serius Investasi di Hulu
Selanjutnya
Seni & Hiburan
05 Des 17, 12:10 WIB | Dilihat : 696
Keluarga Indonesia Perlu Nonton Film Chrisye
02 Des 17, 21:02 WIB | Dilihat : 575
Oase Musik Melayu di Tengah Ibukota Jakarta
02 Des 17, 11:05 WIB | Dilihat : 2338
Chrisye Film Religiomusikal Indonesia Yang Keren
31 Des 16, 10:27 WIB | Dilihat : 478
Tan Sri SM Salim Johan Musik Melayu
Selanjutnya