Snob

| dilihat 1317

KETIKA berkunjung ke pabrik Ferrari di Maranello, Modena – Italia beberapa waktu berselang, saya mendapat pertanyaan simpel yang susah menjawabnya: “Apa alasan orang Indonesia membeli produk kami?”

Pertanyaan itu diajukan Matteo Torre, petugas komunikasi saat menemani peninjauan ke dalam pabrik block mesin yang dihiasi taman hijau. Saya balik bertanya kepada Torre, mengapa dia bertanya begitu.

Saya tersenyum pahit, saat Torre menjelaskan, dari banyak informasi yang diperolehnya, nyaris seluruh kota utama di Indonesia padat. Bahkan, jalan tol juga mengalami kepadatan luar biasa. Apalagi di dalam kota Jakarta, Bandung, dan Surabaya, seringkali terjadi traffic jam yang nyaris stagnan.

Torre menjelaskan bagaimana Ferrari mendesain produknya. Supercar ini memerlukan jarak tertentu dengan kendaraan lain di depannya. Alarm mobil segera memberi tanda, bila jarak dengan kendaraan lain terlalu dekat. Pabrik senagaja mendesain alarm semacam itu, untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan berkendara.

Torre tersenyum ketika saya bilang, alasan utama satu dua warga negara Indonesia membeli supercar produknya hanya karena snob. Hendak memamerkan kemewahan, sekaligus mempertontonkan kemampuan membeli barang sekunder dengan harga dan ongkos pajak yang tinggi. Bisa jadi, juga sebagai ekspresi dendam terhadap kemiskinan masa lalu, yang mungkin pernah dialami.

Saya tidak mengatakan kepada Torre, salah satu supercar yang diproduksi perusahaan tempatnya bekerja, sempat menjadi bahan gunjingan, karena dikaitkan dengan kasus korupsi dan suap.

Dalam konteks membeli barang mewah yang tak relevan dengan situasi dan kondisi lingkungan sosial seperti yang tersimpan di balik pertanyaan Torre, snob dan snobisme bisa dimaknakan sebagai ekspresi kekaguman tertentu terhadap hal yang modis untuk membedakan seseorang dengan orang lain di lingkungan sosialnya.

Ada jebakan filosofis, yaitu kecenderungan mengabaikan akal sehat, seperti ungkap Jean Yanne: "La philosophie, ce n'est souvent que le snobisme du bon sens." Mereka yang snob tidak merasakan apa yang dilakukannya mempertontonkan keangkuhan dan mengurangi kesadaran nurani untuk melihat keberadaan dirinya di tengah masyarakat. Dalam ungkapan Alfred Capus, disebut "Le snobisme ne donne pas le goût mais il supplée au manque d'opinion," ungkap Alfred.

Dalam banyak peristiwa yang menjadi gunjingan di media akhir-akhir ini, nampak dengan jelas, pangkal sebabnya adalah snob dan snobisme. Manusia menjadi snob dan terjebak snobisme lantaran kekuasaan dan kekayaan yang berada dalam genggaman.

Dalam terminologi agama, disebut sebagai riya’ dan kibir. Biasanya dilakukan oleh mereka yang lupa, bahwa kekuasaan dan kekayaan mereka kapan saja bakal lenyap. Apalagi ketika kekuasaan diperoleh dengan cara yang buruk, dan kekayaan didapat dengan cara yang tidak benar.

Tradisi hidup bangsa ini mengingatkan semua warganya untuk tidak terjebak dalam perilaku semacam itu, seperti aja dumeh, dalam tradisi Jawa. Jangan mentang-mentang.

Aja dumeh kuwasa, banjur degsiya, jangan mentang-mentang sedang kuasa lalu sewenang-wenang. Aja dumeh pinter banjur keblinger, jangan mentang-mentang pintar, lantas menggunakan ilmu dan kecerdasan di jalan yang sesat. Aja dumeh sugih banjur lali karo sing ringkih, jangan mentang-mentang kaya, lantas acuh kepada yang miskin.

Dalam prinsip egaliterian (yang mestinya menafasi transformasi demokrasi) bangsa ini, perbedaan seseorang dengan orang lain, seperti dalam budaya Minang, hanya ‘didahulukan selangkah, ditinggikan seranting.’

Kunci utama agar manusia dapat mengendalikan diri dari sikap snob dan terhindar dari snobisme, dalam budaya Bugis, disebut ati macinnong. Kebersihan hati. Melindungi diri dari kepongahan, sindroma superiority complex, dengan teguh menguatkan komitmen terhadap kebenaran.

Para orang tua di Bugis mendidik dengan intens:  “Pakatutui kalennu ri katojenganga. Nanupakajarre tappa’nu ri Tuhan. Saba’ nikanayya tau baji ma’rappungang iami antu.” Maknanya: Pelihara dirimu dengan kebenaran. Perkuat imanmu kepada Tuhan. Karena, orang yang taat, selalu konsisten memelihara dirinya. |

Editor : N Syamsudin Haesy
 
Ekonomi & Bisnis
10 Sep 19, 14:32 WIB | Dilihat : 296
Atmosfir Pelayanan di Hutama Karya
08 Sep 19, 20:57 WIB | Dilihat : 153
Perkuat Nilai Tukar Rupiah, BI Akselerasi Pasar Keuangan
08 Sep 19, 19:47 WIB | Dilihat : 147
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat
Selanjutnya
Seni & Hiburan
06 Sep 19, 22:46 WIB | Dilihat : 207
Puisi Puisi N. Syamsuddin Ch Haesy
18 Agt 19, 21:05 WIB | Dilihat : 757
Kemerdekaan Adalah Jiwa Raga Sehat Tegakkan Keadilan
13 Agt 19, 20:56 WIB | Dilihat : 723
Gubernur Anies Undang Warga Jakarta Nonton JMF2019
12 Agt 19, 22:43 WIB | Dilihat : 443
Pesona Lipet Gandes dan Topeng Jantuk
Selanjutnya