Si Bakhil Pemilik Kebun Kurma

| dilihat 1129

DIKISAHKAN oleh Ibnu Hatim al Habban, suatu ketika, datang seorang fakir kepada Rasulullah Muhammad SAW. Ia bercerita, dirinya bertetangga dengan kebun kurma. Salah satu pohon kurma berada persis bersisian dengan batas rumahnya.

Batang pohon kurma itu condong ke rumahnya. Pada musim berbuah, mayang pohon kurma itu menjuntai hampir seluruhnya ke rumah dia. Tapi, setiap panen, ia hanya bisa menyaksikan dengan liur yang tertahan. Padahal, kurma itu di petik dari halaman rumahnya, dan tanpa izin.

Banyak juga buah kurma yang jatuh ke tanah. Anak-anak si fakir segera mengambil dan mengumpulkan buah kurma yang sudah jatuh ke tanah. Tapi, si empunya kebun segera turun dari tangga dan merampas buah kurma itu dari tangan anak-anak si fakir. Tak jarang, kurma yang sudah masuk ke mulut si anak pun, ia keluarkan dengan jari telunjuknya.

Karena mengikuti ajaran Rasulullah SAW, untuk selalu berbuat baik kepada tetangga, si fakir menahan diri. Ia hanya mengelus dada, beristighfar dan bersalawat, lalu membasuh wajahnya dengan wudhu.’ Kini, ia datang mengadu kepada Rasulullah SAW karena sudah tak tahan lagi menahan diri.

Kepada si fakir, Rasulullah SAW berjanji, segera menyelesaikan persoalan itu. Beliau memanggil pemilik kebun. Begitu tiba, Rasulullah SAW meminta si fakir bercerita lagi. Saat itu, seorang yang pernah menjadi pemetik kurma di kebun itu, membenarkan cerita si fakir.

Pemilik kebun kurma membantah. Bahkan, ia berani membalikkan fakta. Menuding si fakir dan keluarganya sering mengambil buah kurma yang menjuntai ke halaman rumahnya.

Terjadi perdebatan antara dia dengan si fakir dan mantan pekerja pemetik kurma yang berkesaksian di situ. Bekas pekerja pemetik kurma memohon izin kepada Rasulullah untuk memanggil pekerja yang masih bekerja di sana.

Bahkan, tiga orang pekerja itu, bercerita ihwal perilaku pemilik kebun yang menjalankan praktik rentenir: menunda upah mereka, dan mengambil apa yang menjadi hak pekerjanya.

Rasulullah SAW menatap wajah pemilik kebun kurma, sehingga tertunduk dan agak gemetar. “Berikanlah kepadaku kurma yang kau petik dari mayang yang menjuntai ke halaman rumah si Fulan,” sabda Rasulullah.

Pemilik kebun itu tercekat. Ia ragu. Lalu Rasulullah SAW melanjutkan, “Akan kuberikan seluruh kurma dari mayang yang menjuntai ke rumah Fulan, untuk dia dan anak-anaknya. Kau akan mendapat hakmu atas kurma, kelak, dari kebun kurma di surga.”

Mendengar sabda Rasulullah SAW, pemilik kebun itu bersetuju menyerahkan buah kurma kepada Rasulullah SAW untuk si fakir. Seorang dermawan yang ikut mendengar sabda Rasulullah SAW itu bertanya, “Bila aku memiliki pohon-pohon kurma itu, berlaku jugakah bagiku buah kurma yang ranum di surga kelak?”

“Ya,” sabda Rasulullah.

Terjadi negosiasi antara pemilik kebun kurma dengan dermawan itu. Karena berfikir, tawaran dermawan itu akan langsung terasa manfaatnya di dunia, ia langsung menerima tawaran itu. Ia abai dengan persetujuannya kepada Rasulullah SAW.

Sesudah transaksi, Dermawan itu menyerahkan kebun kurma, itu kepada Rasulullah SAW. Beliau menyerahkan kebun kurma itu kepada si fakir. Si fakir pun mengajak serta bekas pemetik kurma dan pekerja pemetik kurma, untuk sama memiliki kebun itu, dan membagi hasilnya untuk kepentingan bersama. Begitulah perumpamaan orang bakhil dan dermawan.

Di jaman kini, pun masih sangat banyak manusia bakhil seperti pemilik kebun kurma itu. Bila pengusaha, ia tak mau memenuhi kewajibannya, bahkan berusaha menahan hak pekerjanya.

N. Syamsuddin Ch. Haesy

Editor : Web Administrator
 
Sainstek
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 358
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 796
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1617
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2523
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
Selanjutnya
Polhukam
13 Sep 19, 10:20 WIB | Dilihat : 221
Menghantar Bapak Demokrasi, Mengenang SU MPR 1999
10 Sep 19, 10:36 WIB | Dilihat : 308
Transformasi Jakarta Tidak Terbendung
07 Sep 19, 21:04 WIB | Dilihat : 242
Jakarta Jantung Ekonomi dan Budaya
Selanjutnya