Serban

| dilihat 1581

 

MENYAKSIKAN aneka gambar dan foto para wali sembilan dari tanah jawa, dan tokoh-tokoh nasional mengenakan serban seringkali hati saya berdecak. Juga, saat memandang gambar dan potret K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Achmad Soorkati, K.H. Hasyim Asy’ari, sampai Kyai Bisri Samsuri, dengan segala kesederhanaannya.

Serban di kepala mereka, saya rasakan, sebagai ekspresi kejujuran, keagungan, kecerdasan, dan kedamaian.

Rasa hormat segera menggetarkan buhul kesadaran. Terasa keteduhan, dan sungguh bisa menghadirkan pesona religiusitas penuh damai. Ketika menunaikan ibadah haji, saya senang mencermati cara para imam mengenakan serbannya.

Ketika kecil, saya suka memegang-megang kain yang kemudian menjadi serban kakek. Tak pernah bisa saya lupa, bagaimana beliau membaca doa, sebelum meletakkan bagian kain serban di keningnya. Lalu, sambil melilitkan dan memilin kain itu -- hingga akhirnya membentuk serban di kepalanya -- tak henti-henti ia membaca do’a, memohon perlindungan Allah atas pikiran dan hatinya.

Dari kakek juga saya banyak mendapatkan cerita anedoktal ihwal serban. Salah satunya cerita Abu Nawas, penasehat Khalifah Harun al Rasyid.

Konon, suatu ketika, Abu Nawas – sesuai tugasnya -- melaporkan kepada khalifah, kelakukan salah satu menterinya yang suka membohongi khalifah. Ketika nama menteri itu disebut, khalifah terkejut dan marah. Ucapan Abu Nawas ditepis begitu saja.

“Apa pasal?“ tanya Abu Nawas.

“Tengok serbannya.. Dialah satu-satunya menteri paling rapi mengenakan serban. Setiap kutanya, ia selalu mengatakan, serban itu dikenakannya sendiri. Cukuplah bagiku, serban itu menjadi pertanda, dia dapat kupercaya, dan tak mungkin membohongiku“, jawab khalifah.

Abu Nawas kecewa. Khalifah tak akan menggubris laporannya, sebelum dia menunjukkan ketidak-jujuran sang menteri. Mendapat tantangan semacam itu, Abu Nawas memata-matai sang menteri. Akhirnya informasi didapat: sesungguhnya isteri sang menteri lah yang mengenakan serban di kepala suaminya, lantaran sang menteri tak bisa mengenakan serban dengan rapi, dan elok estetikanya.

Momentum untuk membutikan kebenaran laporannya, didapat Abu Nawas, saat bersama sang menteri, dipanggil menghadap khalifah. Sekelebat, dia senggol serban sang menteri, sehingga serban itu terurai. Abu Nawas tersenyum,  dan berujar kepada khalifah: “Ada baiknya, kita menunggu beliau mengenakan serbannya kembali, baru memulai perbincangan. Bukankah khalifah selalu mendapat informasi, beliau mengenakan serbannya sendiri?“.

Khalifah segera meminta sang menteri mengenakan serbannya. Sambil gemetar dan bersimbah peluh, sang menteri melakukan. Ah, ternyata dia tak bisa mengenakan serbannya seperti sedia kala. Sang menteri tersentak, saat Abu Nawas bilang, “Baginda, bagaimana mungkin engkau sangat percaya dengan manusia, yang dalam soal serban saja dia berbohong?“ Khalifah tersentak. Ia memeriksa hasil evaluasi kinerja sang menteri. Terbukti, khalifah sering dibohongi, dan sang menteri mesti berhenti.

Serban bukan sekadar penutup kepala, dan bukan sekadar atribut diri supaya disebut wara‘. Serban di kepala ulama adalah ekspresi kesadaran diri untuk melindungi kepala dari pikiran buruk dan artifisial. Karena itu, saya belum berani mengenakan serban, meski mencoba sekali dua saat idul adha. Di balik serban, tersimpan kejujuran dan keikhlasan, yang menebar kebajikan, kearifan, kedamaian, kebenaran, dan ketegasan sikap ikhlas memperjuangkan segala yang haq. Dengan pikiran ini saya pandangi serban di kepala Imam Bonjol, Teuku Cik Di Tiro, dan Pangeran Diponegoro. Juga serban di  kepala Hasan Nasrullah. | 

Editor : Web Administrator | Sumber : illustrasi theshutterstock
 
Energi & Tambang
Sainstek
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 653
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1481
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2393
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 1103
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
Selanjutnya