Sang Penari

| dilihat 2141

PENARI itu masih saja tetap menari di atas pentas. Dia meliak-liukkan tubuhnya yang indah, kemudian bergerak ke sana dan ke mari, menguasai seluruh sisi panggung.

Ironisnya, musik pengiring dan tetabuhan, berimprovisasi sendiri. Tak ada sinkronisai antara gerak penari dengan irama musik pengiring. Setiap musisi, ingin menampakkan kepiawaian dirinya masing – masing.

Abu Nuwas terkekeh menyaksikan adegan demi adegan di atas panggung.

“Ini pertunjukan paling menakjubkan. Saya takjub. Saya salut pada sutradara,” cetusnya.

Karena Abu terkekeh, beberapa penonton di dekatnya juga ikut terkekeh. Akhirnya, seluruh penonton di seluruh gedung pertunjukan itu, terkekeh.

Khalifah melirik ke arah pengawal pribadinya. Sang pengawal spontan mendekat, jongkok, sehingga pandang matanya setara dengan pandang mata Khalifah.

“Siapa yang mulai terkekeh?”

“Abu Nuwas,” jawab pengawal.

Pengawal kembali ke kursinya. Penonton kembali terkekeh. Penari terus menari dan menguasai seluruh sudut panggung. Para musisi terus dengan memainkan musik sesuai hasrat dan nalurinya sendiri, saling menonjolkan diri, bahwa permainan musik merekalah yang paling kuat dan menonjol.

Begitu pergelaran usai, pengawal Khalifah mendekat Abu Nuwas.

“Tuan Abu.., mohon segera menyusul ke Istana. Tuan Khalifah menunggu. Ini sangat penting dan urgent bagi khalifah.”

Abu Nuwas terkekeh. “Mengapa Tuan Terkekeh?”

“Periksa baik-baik omonganmu tadi.”

“Apa yang salah?”

“Logika.”

“Maksud tuan?”

“Anda tahu, saya tidak memiliki unta secepat yang dimiliki khalifah. Saya mempunyai khimar. Itupun sedang selesma. Bagaimana mungkin saya bisa segera menyusul khalifah ke istana, untuk sesuatu yang sangat penting dan urgent, hanya mengandalkan khimar?”

“Maksud tuan?”

Lagi Abu Nuwas terkekeh.

“Jangan biarkan dirimu tipis pengetahuan, tipis kepekaan, dan tipis kebijaksanaan hanya karena pikiranmu jarang kau pakai.”

“Maksud tuan?”

“Untuk utusan yang begitu sangat penting, urgen, dan segera, siapkan untuk saya unta yang dapat bergerak secepat saya menghendakinya. Khimar saya, tolong Anda bawa.”

Pengawal itu mengangguk tanda setuju. Seekor kuda pacu untuk cadangan bagi khalifah yang selalu bersama rombongan khalifah, disiapkan. Abu Nuwas segera memacunya, sehingga dia tiba di istana lebih cepat dari kedatangan khalifah dan rombongan.

Petugas protokol istana mempersilakan Abu Nuwas masuk dan menunggu di ruang tunggu khalifah. Ketika tiba, khalifah terkejut melihat Abu Nuwas sudah tiba lebih awal.

“Luar bias, Anda sudah tiba lebih awal?”

“Insha Allah saya tiba lebih awal untuk sesuatu urusan yang bersifat segera, sangat penting, dan urgent.”

Khalifah mengangguk. Dia menggandeng Abu Nuwas masuk ke ruang khas tempat khalifah menerima tamu khas. Abu duduk persis di sebelah kanan khalifah, di depan laksamana, berhadap-hadapan dengan seorang mufti.

“Apa yang membuat Anda terkekeh menyaksikan pergelaran tadi, sehingga semua orang dalam satu gedung ikut terkekeh?”

“Sedemikian pentingkah hal itu bagi Tuan?”

“Sangat penting dan urgent.”

“Saya terkekeh, karena saya melihat, sang penari laksana tuan, khalifah yang adil bijaksana, dan para musisi laksana para menteri dan umara’ seluruh negeri.”

Khalifah tersentak. Wajahnya bersemu merah. Laksmana nampak agak jengkel. Begitu juga mufti di depan Abu Nuwas.

“Tuan melihat sendiri, bagaimana sang penari layaknya tuan, meliuk-liukkan tubuh bergerak ke sana dan ke mari, menguasai seluruh panggung, sedangkan para musisi yang harus mengantar dan mengiringi tarian itu, pun sibuk sendiri-sendiri. Saling menonjolkan diri, sehingga iramanya tak lagi pas dengan tarian.. Dan,.. ini yang sangat urgent, tak enak didengar.”

Tarian itu, seperti pemerintahan tuan, asyik sendiri, sedangkan umat, bergulat dengan penderitaannya sendiri juga. “Ma’af khalifah, latihlah para petinggi Anda belajar memainkan musik dengan partitur yang jelas, dan sesuai dengan tarian Anda.”

Khalifah termangu. Abu Nuwas pamit. Dia pulang dengan khimarnya yang sedang sakit selesma. Jalannya berirama, seperti ghazal yang digumamkannya... | 

Editor : Web Administrator | Sumber : ilustrasi : istimewa
 
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 189
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1305
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
13 Sep 19, 21:15 WIB | Dilihat : 1311
Asap Menyergap Udara Pengap Petinggi Bersilang Cakap
Selanjutnya
Polhukam
19 Okt 19, 10:03 WIB | Dilihat : 117
Obsesi Keindonesiaan
17 Okt 19, 20:45 WIB | Dilihat : 271
Langkah Anies Sudah Tepat dan Berprestasi
10 Okt 19, 12:06 WIB | Dilihat : 655
Buah Peluh Tanpa Keluh Bangsa Melayu
09 Okt 19, 09:40 WIB | Dilihat : 468
Utusan Melayu itu pun Akhirnya Ditalqinkan
Selanjutnya