S E R A K A H

| dilihat 1687

PAGI belum lagi pergi, ketika Kedai Gambuh sudah ramai dikunjungi pelanggan. Bilung ada di sana. Breakfast alias sarapan. Mban Pedangan tak henti-henti menggoreng mendoan dan tahu aci Slawi. Cangik dan Limbuk mampir di situ.

Kehadiran ibu dan anak ini, membuat suasana kedai tambah rame. Saat Bilung melirik Cangik, Limbuk spontan menggoda. “Paman Bilung, ajari aku melirik dong?” Spontan pelanggan kedai tertawa. “Tenang, nduk.., nanti diajari. Paman punya seribu cara melirik,” tukas Bilung.

Cangik buka suara. “Mas Bilung tahu, di desa kita ada manusia sakti luar biasa?” Bilung menggeleng.

“Pura-pura dalam perahu ya? Kura-kura saja sudah tahu,” balas Cangik.

“Salah, mbok.. Kura-kura dalam perahu, pura-pura sudah tahu..,” bisik Limbuk.

Cangik membalas, “Untuk paman Bilung, yang ibu sebut sudah benar.” Para kawula mesam-mesem.

“Ya, wis.. bagaimana saktinya?” balas Bilung. Cangik pun serius bicara.

Di Indrajaya, desa mereka, kini sudah mulai banyak orang sakti. “Makannya pupuk, minumnya bensin atau solar. Ada juga yang makan tanah dan pepohonan, sampai-sampai gunung, bukit, dan hutan kita gak karuwan,” ujar Cangik. Kawula yang sedang makan, ternganga.

“Ibu betul, paman. Ada juga yang minum air irigasi, lahap menikmati pasir pantai, dan itu lo…., suka membuang gas semau-maunya,” sambung Limbuk.

“Wah, pasti dia orang sangat sakti,” cletuk seorang kawula, sebelum nyeruput air bening dari kendhi.

“Aku tahu…, tahu…, sampean sedang ngomongin Pangeran Utoro, ‘kan?” tukas Bilung.

Weh.. Paman Bilung hebat, mbok..” cletuk Limbuk, spontan.

“Kalau sudah tahu, koq dibiarkan saja?” ungkap Cangik sambil mencibir.

 Percakapan mereka terhenti. Seorang lelaki ‘asing’ singgah ke kedai itu. Nampaknya dari jauh. “Perkenalkan nama saya Sawerigading.

Saya datang dari Kedatuan Luwu di Sulawesi,” ujarnya. Tamu itu pun menyalami para kawula.

Seketika, Bilung teringat kisah Batara Guru, yang turun ke bumi. Lalu menikah dengan Nyilitomo,  dan kemudian menjadi penguasa bumi. Dari pernikahan mereka, lahir Batara Lattu’ dan beberapa anak lainnya. Kelak, ketika dewasa, Batara Lattu’ menikah dengan We Datu Sengeng, puteri dari La Urumpassi.

“Oooo…, sampean cucu Batara Guru, saudara kembar We Tenriabeng yang cantik jelita itu?” sebut Bilung. Sawerigading mengangguk. Cangik mencuri pandang, sambil menyenggol lengan Limbuk, puterinya. “Keren nduk.. keren. Duh, kumisnya nduk… kumisnya..”

“Silakan menikmati breakfast yang nikmat di sini, Daeng,” ujar Bilung mempersilahkan Sawerigading makan. Tapi, sang pengembara, itu justru tertarik hal lain. “Maaf, tadi saya mendengar cerita orang sakti yang gemar memakan gunung, bukit, dan hutan..,” tanya Sawerigading. “Betul, Pak Daeng… betul. Dia juga pemakan pupuk dan peminum bensin,” tukas Cangik. Sawerigading mengangguk.

“Di kerajaan saya pun ada yang seperti itu. Mereka memakan bijih besi, nikel, sedikit emas, kayu hitam, dengen, dan hutan endemis kami. Mereka santap dengan lahap,” ungkap Sawerigading.

“Oh…, sama ya…?” sambut Cangik penasaran. Ia makin penasaran, ketika Sawerigading berujar, semua itu bermula dari kekuasaan masa lalu yang tak dikelola dengan baik. Akibatnya, kekuasaan dipergunakan untuk memupuk kekayaan. Mereka serakah dan alpa, suatu saat, ajal akan datang. Saat itu, kekuasaan dan kekayaan tak akan mereka bawa mati. Keserakahan merendahkan mereka.

Tiba-tiba Sawerigading mendengar suara orang menembang lirih.

Digendhongana dikuncenana kaya ngapa, nanging wong iku yen wis tinakdir tekan janjine mangsa bakal wurunga. Iki maneh peling kita, yen manungsa mono badan lan umure dhewe ora kuwasa.” Bilung menjelaskan maknanya: “Apapun upaya kita, bila ajal tiba, ajal itu tidak bisa dicegah. Hendaknya, menjadi peringatan, manusia tak mampu menguasai raga dan umurnya.”

Sawerigading terpana, ketika mendengar lagi lantunan serat itu. “Apa maneh sing mung wujud barang sampiran kayadene drajat semat lan pangkat, kaluhuran, kasugihan lan kalungguhan. Mula saka iku aja kibir, jubriya lan aja sok dumeh. Awit isih ana panguwasa liya (Gusti Allah) kang luwih kuwasa.”

Sawerigading memejamkan kelopak matanya, meresapkan makna serat, itu. “Apalagi sekadar ‘barang titipan’ seperti kekuasaan, pangkat, harta, kehormatan, kekayaan dan kedudukan. Karena itulah, jangan takabur, masih ada penguasa yang lebih berkuasa (yaitu Allah, Tuhan Mahakuasa),” ungkap Bilung.| 

Editor : sem haesy
 
Lingkungan
11 Jul 19, 11:45 WIB | Dilihat : 534
Terowongan Dukuh
08 Jul 19, 11:20 WIB | Dilihat : 461
Gempa Bumi Dinihari Guncang Ternate Goyang Manado
24 Mar 19, 11:13 WIB | Dilihat : 709
Surat Gubernur Anies Baswedan untuk Pekerja Proyek MRT
Selanjutnya
Budaya
12 Jul 19, 13:30 WIB | Dilihat : 494
Menikmati Instalasi Bambu Avianto di Pusar Jakarta
11 Jul 19, 16:53 WIB | Dilihat : 690
Mengikuti Langkah Diro dan Yesmil Mengolah Daya Haiku
10 Jun 19, 14:52 WIB | Dilihat : 284
Menjadi Betawi
05 Jun 19, 20:28 WIB | Dilihat : 368
Bubur Lambuk Rasa Johor
Selanjutnya