Retorika Abu Nuwas

| dilihat 2376

Bang Sem

AL KISAH, suatu kali, Abu Nuwas berkelana ke negeri jiran. Negeri itu dipimpin seorang raja bermata satu, yang bertabi’at keras. Rakyat menyebutnya: Raja Pancung ! Ya, karena hobinya memancung leher siapa saja yang berani menyatakan fakta, bahwa dia bermata satu.

Ketika berkunjung ke negeri itu, raja sedang rindu pujian dan penghormatan yang berlebih-lebihan. Raja menggelar sayembara. Hadiahnya menggiurkan: 50.000 dinar plus sekotak perhiasan emas berlian aneka rupa bagi pemenang.

Bagi yang kalah dan membuat raja terluka perasaannya karena merasa terhina, hadiahnya adalah tebasan pedang tajam di leher alias mati sia-sia.

Tak banyak peserta yang ikut. Hanya segelintir orang nekad dan terbiasa berjudi. Hampir seluruh peserta sayembara, kecuali Abu Nuwas, menenggak khamr beralkohol tinggi untuk memompa keberanian.

Peserta pertama tampil ke hadapan raja. Beruluk salam, sambil membungkuk. Tapi, baru saja berujar, “Wahai raja bermata satu..”, panitia sudah menyingkirkannya.

Peserta kedua tampil. Melakukan hal yang sama. Dengan takdzim dia berkata,”Wahai raja penguasa seluruh negeri, engkaulah satu-satunya raja bermata satu di seluruh jagad”. Panitia menghalaunya dari gelanggang.

Peserta berikutnya, pun gagal. Bahkan terkena hukuman pancung, lantaran mengucapkan kata ‘raja bermata satu’ dengan ekspresi kebencian. Peserta berikutnya, pun gagal, walau tak terkena pancungan pedang para algojo. Demikian juga yang lain.

Tibalah Abu Nuwas. Usai beruluk salam, dengan santun, ia membungkukkan tubuh. Lalu memandang raja dengan sukacita.

“Wahai raja penguasa jagat.. hamba datang dari negeri jiran, berkelana ke berbagai negeri, rasa kagum dan hormat hamba tak lagi berbilang-bilang kepadamu. Tak ada seorangpun raja di jagad raya ini, yang perkasa se perkasa engkau”, ujarnya. Raja mengangguk, diikuti para menteri, pengawal, dan algojo.

“Wahai raja dari segala raja, telah engkau taklukkan berbagai negeri di separuh belahan bumi, dan karenanya engkau sedemikian masyhur laksana Ramses hidup kembali. Engkau tundukkan para penguasa perkasa dengan cara teramat mudah. Engkau taklukan hampir semua kekuasaan yang belum tertaklukan sebelumnya.. Ooo engkaulah satu-satunya raja sakti raja bertuah”, ujar Abu, disambut tepuk tangan raja, para menteri dan para pengawalnya.

“Wahai raja yang tampan rupawan, satu-satunya lelaki yang dipilih Tuhan menjadi idaman, perempuan-perempuan elok rupa, merindukanmu laksana pungguk merindukan rembulan. Engkau selalu hadir dalam khayal dan mimpi mereka, seraya melayang jauh ke alam khayal, membayangkan diri menjadi permaisurimu. Lihatlah,.. hanya engkau lelaki yang mampu merundukkan hati perempuan sangat jelita, permaisuri nan berbahagia. Lihat,.. bagaimana eloknya puteri kesayanganmu, buah cinta dari benih yang terbaik lelaki sejati”, urainya.

Raja Pancung bermata satu terbuai. Para menteri, pengawal, dan algojo ikut terbuai. Di tengah riuh tepuk tangan, itu Abu Nuwas, mengekspresikan rasa kagum, hormat, dan cinta, lalu berseru: “Wahai raja nan perkasa, rajan nan istimewa, hanya dengan satu mata bukti keberanianmu, engkau taklukan begitu banyak kekuasaan. Oh.. terbayangkan, bila matamu dua, tentu seluruh kekuasaan di bumi akan tunduk, patuh dan menyerah kepadamu”, serunya.

Raja bertepuk tangan, terbuai pujian, lalu menetapkan Abu Nuwas sebagai pemenang.

Para menteri, pengawal dan algojo tercengang. Mereka hanyut oleh retorika Abu Nuwas yang membuai. Mudah-mudahan, kita bukan Raja Pancung bermata satu yang mudah terbuai dengan retorika semacam itu dari siapapun. |

 

Editor : Web Administrator | Sumber : illustrasi istimewa
 
Seni & Hiburan
04 Jul 19, 13:22 WIB | Dilihat : 672
Jakarta Melayu Festival 2019 Merengkuh Keadilan
19 Jun 19, 12:59 WIB | Dilihat : 946
Kejujuran
12 Jun 19, 14:16 WIB | Dilihat : 287
Hafez dalam Abadi Cinta
10 Jun 19, 10:45 WIB | Dilihat : 298
Perempuan di Makam Ibu
Selanjutnya
Polhukam
07 Jul 19, 18:14 WIB | Dilihat : 914
Jakarta Pantas Terima Penghargaan Kota Terbaik Dunia
28 Jun 19, 14:02 WIB | Dilihat : 1456
Nasib Rakyat Tidak Ditentukan di Bilik Suara
28 Jun 19, 11:03 WIB | Dilihat : 1448
Sofhian Mile : Selamatkan Bangsa, Utamakan Rakyat
27 Jun 19, 22:41 WIB | Dilihat : 1372
ISWAMI Sinergi Tunggal Jurnalis Malaysia - Indonesia
Selanjutnya