Kedai Gambuh - 2

RAJABRANA

| dilihat 1385

HUJAN lebat bagai dihamburkan dari langit pada malam, ketika Bilung terlelap tidur di sudut rumahnya. Hujan yang aneh, karena berlangsung di musim kemarau panjang. Keesokan paginya, para kawula tani riang gembira, bergegas ke sawah.

Sejak terjadi perubahan cuaca, musim tandur memang tak bisa diprediksi lagi. Apalagi bagi petani sawah tadah hujan. Petani, yang tergantung pada saluran irigasi, pun sering merana.

Volume air di embung sering tak cukup. Belakangan, petugas jagatirta (pengelola air irigasi) juga sering bersikap aneh.

“Kudu ngupeti. Memberi upeti supaya air lancar,” ujar Cangik.

Perempuan yang gemar melucu itu, bersama Limbuk, puterinya, turun juga ke sawah. Selain menandur, keduanya juga menghibur kawula tani.  Hiburan diperlukan, karena sudah terlalu lama nasib mereka tak beruntung.

“Mantri tani lebih senang mengelus janggutnya,” cetus Limbuk.

Nasib kawula tani seperti dalam permainan. Saat musim memupuk, pupuknya langka. Saat panen, harga gabah terjun bebas. Kawula tani merugi.

Kabarnya ada pupuk subsidi. Tapi, yang nerima lebih banyak petugas yang membagi. Pangeran Utoro yang menguasai pupuk, lebih mendahulukan sawahnya sendiri. Hanya yang memberi upeti, mendapat jatah dari dia.

Celakanya, dalam situasi demikian yang dilakukan para pangreh hanya bergaduh. Gunem catur gaya sampakan, pake menarik urat leher. Mulai dari soal listrik, pencopotan Jagabaya Malingan. Juga ihwal Tetuo Bale Kawulan dan wakilnya yang jalan-jalan ke negeri donat dan ayam krispi, jadi pemandu sorak kampanye Donat Trem, nun jauh di sana.

Cangik dan Limbuk juga ruda rungsing, lantaran kemampuannya membeli bahan pokok untuk makan sehari-hari nyaris tak mampu. Sejak Denmas Cungkring jadi Rajabrana, hidup mulai terasa susah. Kepeng kian tak berharga. Akibatnya, rakyat dihambur keluh, karena peluh yang ditumpahkan nyaris sia-sia.

Keluh kesah itu dibawa Cangik dan Limbuk ke Kedai Gambuh. Di sana, ibu dan anaknya itu hendak mengadu.

Wuih, kamu sudah besar, nduk.. Sudah menjadi gadis sekarang,” ujar Bilung, saat melihat Limbuk.

“Ah, paman Bilung.. Paman memujiku pasti ada maunya.. nih !?,” balas Limbuk. “Ibu sering lo, cerita-cerita tentang paman Bilung..,” goda Limbuk lagi. Cangik jadi salah tingkah. Apalagi, Bilung meliriknya. Mban Pedangan sempat mencuri pandang mereka, saat menyediakan wedang jahe.

“Mas Bilung…, tolong beritahu Pangeran Utoro. Mbok yaow…, pupuk subsidi dibagi adil,” ungkap Cangik, agak manja. Ia terus ‘nyerocos’, ngalor ngidul. Intinya singkat saja: subsidi pupuk untuk petani jangan ditahan-tahan. “Ini tak boleh dibiarkan. Subsidi pupuk itu hak kita..” cletuk Limbuk. Bilung menyimak ungkapan hati ibu dan anak itu. Ia  mengangguk-angguk, lalu menarik nafas.

Di benaknya melintas pikiran, desa sudah terkontaminasi sifat andum amilih. Sifat licik: siapa membagi, dia memilih duluan, apa yang dibaginya. Bila orang lain ingin mendapatkan, dia meminta upeti. Ini watak yang buruk.

Lha dallaaah.. Bila keadaan ini dibiarkan, bisa rusak masyarakat desa,” pikir Bilung. Meski banyak orang menyebut, jaman kini jaman rebutan rajabrana, alias jaman rebutan harta benda, andum amilih harus dihentikan.

“Apa yang harus kita lakukan, paman?” kejar Limbuk yang sudah tidak sabar ingin mendapat solusi.

 “Kita mesti menegur semua orang yang mendapatkan kepercayaan untuk berhati-hati dengan jaman seperti ini,” jawab Bilung.

Capeek deh..?” keluh Limbuk. “Apa gak perlu ta, kita unjuk rasa di Balekawulan ?” lanjutnya.

“Harusnya efektif. Tapi, beberapa wakil kawula juga mengidap penyakit yang sama. Andum amilih, senang menerima upeti, dan bahkan.. ada yang diam-diam jadi pemalak,” ungkap Bilung.

“Bilung… Bilung, percuma ngadu kepada sampean ?” ucap Cangik, kesal. Dia sambar lengan Limbuk dengan cekatan, dan berlalu meninggalkan kedai.

Melihat ibu dan anak itu pergi, Bilung terpana. Pikirannya melayang jauh, dan semakin melayang, ketika telinganya mendengar tembang lirih: Menangi jaman rebutan rajabrana, akeh wong kang padha kalimput, melu-melu tumindhak nistha. Ora eling yen sajatining urip ing donya iku ora ngupaya rajabrana bae, nanging uga mangesthi kamulyan ing tembe. Urip ing satengahing godha rencana, nanging tetep tumindak utama, presasat tapa ing satengahing coba.

Tembang itu bermakna dalam :Pada jaman orang berebut kekuasaan dan hartabenda, banyak yang lupa diri dan ikut berbuat nista. Tak ingat, sejatinya hidup di dunia tak hanya mencari hartabenda, tetapi juga berjuang mendapat kemuliaan setelah mati. Hidup di tengah godaan, dengan tetap bertindak utama, memang seperti bertapa di tengah cobaan.”

Tembang itu terdengar kian lirih. “Sabegja-begjane kang lali nganti kelu penggawe sasar, isih begja kang panggah eling lan waspada tetep ing panggawe utama.”

Seuntung-untungnya orang yang lupa, sehingga ikut bertindak sesat masih lebih beruntung orang yang senantiasa ingat dan waspada, tetap berjalan pada rel perilaku utama”.|

Editor : sem haesy
 
Lingkungan
23 Jul 19, 11:22 WIB | Dilihat : 61
Bergerak dari CSR ke CCR dan CCuR
21 Jul 19, 22:07 WIB | Dilihat : 143
Kabupaten Bandung Menjemput Cahaya Baru
11 Jul 19, 11:45 WIB | Dilihat : 788
Terowongan Dukuh
08 Jul 19, 11:20 WIB | Dilihat : 476
Gempa Bumi Dinihari Guncang Ternate Goyang Manado
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
08 Jul 19, 16:21 WIB | Dilihat : 715
BNI Syariah Istiqamah di Jalan Hasanah
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 903
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 249
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 390
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
Selanjutnya