Ragajelma

| dilihat 2195

MALAM sudah hampir larut. Tapi Limbuk mengajak para remaja sebayanya berkumpul di depan Kedai Gambuh yang sudah tutup sejak usai Isya’. 

Mereka tidak membicarakan isu-isu hangat yang sedang terjadi di desa Indrajaya. Lagi pula, Ku Lurah Badranaya sudah mengambil berbagai keputusan, yang membuat para penanam modal migas mulai tenang.

Limbuk sedang iseng, bermain ragajelma. Beberapa temannya memegang beberapa boneka sesuai perintahnya. Dua teman mendirikan boneka di atas masing-masing dua jari mereka, satu teman yang lain menahan punggung boneka dengan satu jarinya. Suasana temaram, karena hanya diterangi cahaya beberapa cempor yang mereka pasang berkeliling.

Limbuk melangkah ke salah satu pohon jati, di sudut lapangan depan kedai. Ia berkonsentrasi, lalu menggumamkan mantra: “Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo. Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho. Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah. Yen obah medheni bocah…

Limbuk bergumam: Masuk-masuklah ke dalam raga, tandai dengan gerak kepalamu. Meski bapak sedang sendirian, berikan kami perlindungan. Yang sudah mati-matilah, kalau berubah menakut-nakuti para bocah.

Sesuka-hatinya, Limbuk merapalkan mantra yang dia curi dengar dari ibunya, Cangik.  Boneka-boneka itu bergerak-gerak. Mereka tertawa. Boneka yang berat itu, kini terasa ringan di atas jari mereka. Lalu, bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang, ke atas dan ke bawah.

Boneka-boneka itu seolah menjawab segala pertanyaan yang diajukan Limbuk.

“Kalian kah yang senang berbuat gaduh di desa ini? Dan kalian dikendalikan suatu kekuatan tak tampak kasad mata. Kalian lakukan karena kepentingan kalian sendiri, bukan kepentingan seluruh kawula di desa ini?”

Boneka-boneka itu merunduk ke depan, kemudian tegak lagi, berulang-ulang.

Yess !!!,” teriak Limbuk, sambil menarik kepal jari tangannya ke bawah

Suasana kian riuh, ketika tiba-tiba salah satu boneka melonjak cepat. Melesat ke udara, menembus gelap. Boneka yang didandani a la bajak laut, itu melenting dan bergerak tanpa kendali di udara.

Boneka yang diberikan blangkon, dihiasi kumis dengan mata melotot memandangi mereka dengan serius. Wajah boneka itu seram. Remaja-remaja itu berlindung di balik punggung limbuk. Semua terkejut, ketika boneka dengan hidung mancung itu bersuara geram.

“Buruan kasih upeti, kalo gak.. gua desa gua bikin gaduh nikh.”

“Upeti apa?” tanya Limbuk. “Aku tak akan memberi upeti. Pergilah sana, keluar dari bonekaku.”

Boneka itu ngakak. Boneka lainnya yang didandani pakai dasi dan jam tangan, terkekeh. Terdengar suara. “Widiiihhhhh… jangan belagak pilon kamu. Kontrakan rumahmu sudah hampir habis, kontrakan kedai juga.. berikan upeti supaya bisa diperpanjang.”

Limbuk balik membalas, “Widiiihhh… segitunya.”

Dua belia yang sembunyi di balik punggung limbuk nampak pucat di dalam remang. Keduanya meminta Limbuk segera membaca mantra untuk menurunkan boneka yang kerasukan dan menyeramkan itu. Limbuk cuek saja. Ia baru terkejut, ketika boneka-boneka lain juga melesat ke udara, ‘beraksi’ sama, dan membuat gaduh.

Boneka-boneka itu bertengger di dahan pohon dengan formasi huruf U, seperti sedang melakukan sidang.

Seorang belia berlari ke rumah Limbuk, memanggil Cangik untuk mengatasi keadaan. Satu belia lain, lari ke rumah Bilung. Limbuk dan belia-belia lain, malah bersorak, seolah sedang menonton akrobat yang luar biasa.

Bilung dan Cangik segera berlari dari rumahnya masing-masing ke halaman kedai. Cangik terpana menyaksikan boneka-boneka itu bergerak ke udara. Bilung juga. Bilung segera membaca esensi matra asli-padannya: ghuslu-ghuslu bathnaka, batine ning dewata, si rama menyang solo, oleh-oleh payung motha. Mak jentit lolo lobah wong mati ora obah, nek obah medeni bocah, nek urip golekka dhuwe.

Mandikanlah batinmu, bersihkan dirimu sebelum membersihkan diri orang lain. Ingatlah kepada Tuhan, yang menentukan takdir buruk, karena engkau memintanya. Runduklah bersungguh-sungguh kepada Tuhan. Syukuri apa yang ada dan bersabarlah. Mumpung belum mati, berbuat baiklah, ciptakan kedamaian hidup, untuk mengayomi seluruh umat manusia. Kalaupun tiba kematian, kematianmu tidak meninggalkan kesengsaraan. Mati dan tidak bergerak. Bila ingin berkarya, berkarya baiklah ketika masih hidup dan bisa bergerak.

Boneka-boneka itu, perlahan turun. Limbuk dan teman-teman bersukacita. Tiba-tiba Cangik membaca mantra. Ia menggumam: “Lingsir wengi sliramu tumeking sirno, ojo tangi nggonmu guling, awas jo ngetoro, aku lagi bang wingo wingo. Jin setan kang tak utusi, jin setan kang tak utusi. Dadyo sebarang, wojo lelayu sebet…”

Boneka-boneka itu melenting lagi ke udara, jumpalitan, berakrobat. Salah satu boneka melesat ke pohon jati, bergerak balik dan hinggap di atas wuwungan kedai. Suara cekikikan mengiringi geraknya. Puih !!!

Cangik terlongong. Bilung membisikinya: “Kamu salah baca mantra itu...” Cangik mengangguk. Dia sadar, mantra tadi (yang bermakna: Jelang malam, bayangmu hampir sirna, janganlah terbangun dari tidurmu. Awas, jangan memperlihatkan diri, aku sedang gelisah.  Kuperintahkan jin dan setan, jadilah apa saja, namun jangan membawa maut). Hadhoh!

Cangik segera membaca mantra seingatnya, ia menggumamkan Caraka Walik: Nga tha ba ga ma, Nya ya ja dha pa, La wa sa ta da, Ka ra ca na ha, berulang-ulang sampai tujuh kali. Aneh. Boneka-boneka itu ambruk dan hancur di halaman kedai.  Mereka bubar.|

Editor : sem haesy
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 135
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 368
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 302
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 391
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 558
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 541
Mengharap Garuda di Langit
Selanjutnya