Pemimpin Itu.....

| dilihat 586

ABU NUWAS betah di desa tempat tinggal Kabayan. Kali ini dia ingin belajar dari sobatnya itu.

“Kabayan, ajarkan saya pemahaman tentang pemimpin dari budaya yang tumbuh di lingkungan Anda..,”ungkap Abu Nuwas.

Kabayan tersentak. Dia memandang wajah Abu Nuwas.

“Seriues?” tanya Kabayan. “Ah.. orang-orang tua di kampung kami banyak belajar tentang pemimpin dan kepemimpinan dari kampung Wan Abu,”lanjut Kabayan.

Abu Nuwas mengusap jenggotnya yang panjang.

“Serius.. saya sangat serius. Bagi saya, dari manapun kita belajar tentang pemimpin dan kepemimpinan tak ada yang keliru. Sumber pengetahuan dilahirkan dari seluruh pelosok bumi, melalui para cerdik cendekia yang cinta budaya kampung halamannya,”ujar Abu Nuwas.

Kabayan menarik nafas panjang. Sekali lagi dia memandangi wajah Abu Nuwas.

“Pemimpin adalah pemandu jalan bagi bangsa menuju kondisi yang lebih baik,”ungkap Kabayan.

Abu Nuwas menyimak.

“Ada rumpaka yang berisi nilai kesundaan tentang kepemimpinan,”lanjut Kabayan.

“Apa itu rumpaka?”tanya Abu Nuwas.

Kabayan berfikir sejenak.

“Di negeri Anda mungkin disebut syair, eta tah yang Wan Abu suka buat sekali-sekala, semacam sajak lah sebut,” tutur Kabayan.

Lantas Kabayan bicara ihwal kriteria pemimpin dan kepemimpinan dalam rumpaka Sunda.

“Pemimpin itu, kudu Kewes pantes tandang gandang,” ujar Kabayan. Dia lalu menjelaskan. Maksudnya, pemimpin itu harus layak dan patut ditampilkan sebagai pemimpin. Baik tongkrongannya maupun kecerdasan pikirannya. Juga keberanian dalam menghadapi masalah, bahkan kompetisi,”lanjut Kabayan.

Abu Nuwas kian tekun menyimak, ketika Kabayan menegaskan, bahwa pemimpin itu adalah Sinatria pilih tanding.  Yaitu, sosok ksatria yang siap berkompetisi termasuk menghadapi masalah.

“Supaya bisa seperti itu, apa yang harus dimiliki seorang pemimpin?” tanya Abu Nuwas.

Handap asor pamakena. Harus santun dan beradab,”jawab Kabayan.

“Maksud Anda harus mempunyai akhlak mulia, akhlaqul kariimah?”

“Wan Abu Nuwas benar. Begitulah maksudnya,”jawab Kabayan.

“Apa pertanda nyata akhlak yang sedemikian?”

Nyarita titi rintih, ati-ati tur nastiti. Mun nyaur di ukur-ukur, nabda diunggang-unggang. Komunikatif dan halus bahasa ketika berkomunikasi, cermat dan teliti. Bila memerintah dipertimbangkan dulu kesanggupan penerima perintah, berbicara dengan pertimbangan, berfikir dulu sebelum bicara. Dan.., ini yeng penting bubuden teu ieu aing. Tidak jumawa, tidak sombong, dan tidak takabur. Tidak merasa diri paling hebat.”

Abu Nuwas mengangguk. Ia memandang serius wajah Kabayan.

“Masya Allah Kabayan. Luar biasa, pemimpin itu harus sungguh berkualitas dalam tabligh, berkomunikasi. Karena melalui komunikasi yang dilakukannya, kita bisa mengetahui, bagaimana karakter dan kepribadiannya. Bukan hanya mencerminkan kecerdasan dan kebenaran apa yang dikatakannya, sehingga dia bisa dipercaya.”

“Begitulah Wan Abu. Rumpaka tadi menjelaskan, muara kecerdasan, kebenaran, dan kepercayaan, adalah sikap rendah hati,”ungkap Kabayan.

Luurin maátaad. Luar biasa. Itu ilmu tawaddu, Kabayan.

“Ada lagikah syarat menjadi pemimpin menurut budaya Sunda yang mempengaruhi hidupmu, Kabayan?”

Kabayn memandang Abu Nuwas. Lalu dia katakan, “Supaya bisa menjadi pemimpin seperti itu, menurut kami di dalam akhlak kariimah itu, sekurang-kurangnya seorang pemimpin itu jujur-sejujurnya, tidak berbohong, baik kepada orang lain maupun dirinya. Montong teuing kanu sején ka dirina inyana sorangan ogé tara bohong.” 

“Masya Allah...” sambut Kabayan.

“Pemimpin itu, Wan Abu, tara sirik, tara jail, tara hasud najan ka musuh, pandai berbaik sangka. Tidak iri, tidak usil, tidak dan tidak memfitnah, walaupun terhadap musuh. Berkompetisi atau berperang itu harus fair,”jelas Kabayan.

Lagi, Abu Nuwas menggeleng kepala. Mulutnya berdecak, subhanallah. “Saya temukan kepribadian Salahuddin al Ayyubi dalam syair itu,”ujar Abu Nuwas, seraya bertanya, “Apalagi, Kabayan?”

Hade lampah, hade peta, hade ucap, hade budi. Pemimpin itu mesti berbudi luhur dengan segenap kemampuan akal budinya, baik laku, baik sikap, baik ucap, baik budi. Dengan begitu, seorang pemimpin harus pandai memuliakan orang lebih dulu, sebelum orang memuliakan dirinya,”jelas Abu Nuwas.

“MasyaAllah. Terbayang wajah Syeikh Abdul Qodir Jaelani dan Ja’afar Shadiq di benak saya, Kabayan..”

“Alhamdulillah,”sambut Kabayan.

“Masih ada lagi Wan. Menurut budaya kami, pemimpin itu mampu mengharmonisasi wibawa formal dengan kefahamannya. Pangaweruh jeung pangartina mudu mapadanan. Kemampuannya memahami kenyataan dan solusi yang diberikannya kepada rakyat selalu seirama dan harmonis. Tidak gagal paham,”ujar Kabayan.

“MasyaAllah Kabayan. Semua syarat dan tolok ukur pemimpin dan kepemimpinan yang kamu sampaikan sungguh menambah pemahaman saya tentang indahnya peradaban negeri di khatulistiwa ini,”ujar Abu Nuwas.

“Pantas saja Ibnu Rusyd menyebut negeri Anda laksana negeri di timur matahari yang pada masanya menjadi suar dan syiar keselamatan hidup, penebar nilai salam salima, dimensi keislaman sebagai rahmatan lil alamin begitu nyata,”ungkap Abu Nuwas.

Kabayan tersenyum. Lantas, dia bilang, “Di negeri kami, pemimpin tak perlu dijatuhkan, karena masing-masing pemimpin punya alasan dan cerita turun sendiri-sendiri. Apalagi, ketika demokrasi tidak dipelihara sebagai alat untuk mewujudkan harmoni.

“Demokrasi yang tak dewasa tak melahirkan pemimpin mumpuni. Itulah sebabnya demokrasi berbudaya, beradab itu menjadi penting,”kata Kabayan.

Pamingpin téh mudu bener. Nyaho dibener, nyaho disalah. Nyaho dihade, nyaho henteu pihadéeun. Ulah eudeuk digawéeun. Ari nyaho teu pihadéeun, teu pihadeeun ka nu diurus. Ulah bener bae pieun nu ngurus. Ulah hadé pieun nu ngurus wungkul.,” jelas Kabayan. Abu Nuwas terlongong.  

Sadar sahabatnya tak paham, Kabayan menjelaskan. Pemimpin itu kudu berani menegakkan kebenaran dan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mampu menjadi teladan bagi rakyatnya (dalam menegakkan kebenaran secara adil).

Abu Nuwas memeluk Kabayan. “Syuqran katsir ala kulli hal Kabayan.. hatur nuhun pisan..,” kata Abu Nuwas. Kabayan terharu, meski hatinya menangis, karena kebun cabe-nya gagal panen karena diserang hama.. |

 

Baca juga : Tanda-tanda

Editor : sem haesy
 
Humaniora
12 Okt 17, 07:21 WIB | Dilihat : 272
Kelitik Kopi di Warönk Uma’
06 Okt 17, 19:31 WIB | Dilihat : 1073
Jejak Seni, Kreatografi Johan Jaaffar
06 Okt 17, 19:54 WIB | Dilihat : 1374
Pelajaran dari Catalonia
16 Jan 17, 11:41 WIB | Dilihat : 756
Mendorong Pembangunan Berpusat Pada Rakyat
Selanjutnya
Sainstek
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 112
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
23 Des 16, 05:31 WIB | Dilihat : 241
Menanti Kehadiran Penghasil Listrik Berteknologi Nano
16 Des 16, 07:34 WIB | Dilihat : 334
Oasis, Mobil Unik dengan Kebun Mini
11 Nov 16, 14:21 WIB | Dilihat : 836
Motochimp, Si Mungil yang Unik
Selanjutnya