Ngomongkeun Ul dan Ul di Kota Bandung

| dilihat 866

PILKADA 2018 di Jawa Barat memang penuh dinamika. Penuh juga siloka.  Selain 2 DM alias Demi (Deddy Mizwar dan Dedi Muliadi) di tingkat Jabar, ada juga 2 Ul (Nurul Arifin dan Chairul Y. Hidayat) di tingkat kota Bandung.

Saya biasa memanggil Nurul Arifin dengan sebutan Ul. Sebutan yang sama saya pakai untuk Chairul yang biasa dipanggil Ruli itu.

Acapkali ngawangkong di berbagai sudut kota Bandung, pasangan ini tidak termasuk yang dijagokan. Argumennya beragam rupa. Saya termasuk orang yang yakin keduanya bisa mengambil hati dan pikiran orang Bandung.

Tidak hanya karena mereka merupakan mojang dan jaka Bandung. Tapi, karena pada keduanya terdapat berbagai kelebihan yang saling melengkapi satu dengan lainnya.

Ketika menggelar konperensi pers, Jum’ at (10/11/17), Ul (Nurul Arifin) sudah menjelaskan, dia memilih Ruli sebagai wakilnya kelak, selain karena Partai Demokrat yang mengusungnya punya enam kursi di DPRD Kota Bandung, juga karena dia memerlukan anakmuda.

Di mata Ul yang cawalkot, Ul yang cawawalkot, itu punya skill yang dia tak punya. Dan.. ini yang penting, “Ruli punya skill yang saya tidak punya. Dan saya lihat Ruli bisa jadi partner yang baik.”

Dua hari lalu (20/1) saya dikunjungi seorang kyai muda yang tinggal di bilangan kota Bandung bagian Utara. Saya pancing-pancing dia bicara.

Kyai muda itu yakin, pasangan Ul&Ul ini punya kans untuk menang. Bukan saja karena keduanya punya program menjadikan Bandung sebagai kota yang aman dan resik dan menjadi ekspresi budaya.

Keduanya punya program menjadikan Bandung sebagai destinasi wisata berkelas internasional, karena bagaimanapun Bandung merupakan ibukota Asia Afrika.

Secara fungsional, Bandung merupakan kota pendidikan, kota niaga, dan kota yang secara historis memang sudah beken, termasuk berjuluk sebagai Paris van Java, berkembaran dengan kota Malang yang juga dijuluki hal yang sama oleh orang-orang tua di Belanda.

Selebihnya? Kyai Muda yang biasa saya panggil dengan sebutan Dang, itu menyebut di dalam darah Ruli, mengalir darah HOS Tjokroaminoto, guru bangsa yang mendidik Bung Karno dan  para pendiri bangsa ini.

Ruli punya gen nasionalisme religius yang kental, juga jiwa entrepreneur dari kakeknya, juga dari ayahnya : Moch Hidayat, yang biasa saya panggil Kang Hi.

Gen itu telah dibuktikan Ruli selama ini dengan kiprahnya. Karenanya, boleh diharap, bila pasangan ini menang, sejumlah pasar tradisional di Bandung yang selama ini tak terurus, bisa sungguh menjadi sentra kebangkitan ekonomi rakyat.

Pemilih di kota Bandung merupakan pemilih rasional, dengan komposisi segmen yang sangat dinamis. Pemilih muda – kaum millenial – alias generasi kedai kopi yang mengambil posisi sebagai swing voters.

Akan halnya pemilih konvensional, kini sedang sono (kangen) dengan pemimpin kota yang tak lagi sekedar membuat Bandung bersolek dengan aneka pencitraan.

Dang meyakini, kekuatan kreatif dua Ul akan menyatu dan terintegrasi. Dan bukan kebetulan, kalau keduanya seolah sedang menyajikan ulang bayangan tentang Nagabonar dan Kirana dalam film Nagabonar yang dibintai Deddy Mizwar dan Nurul Arifin, yang disutradarai MT Risyaf. Di film itu, Deddy Mizwar memerankan Nagabonar dan Nurul Arifin memerankan sosok Kirana, demenan-nya Nagabonar.

Dang berseloroh pada saya, pemimpin kota kudu diurus perempuan, supaya Bandung tak lagi heurin ku tangtung – berhias slum area, tapi sungguh ngahiber, melesat sebagai kota internasional secara fisikal dan kultural.

Persoalan kota itu persoalan indung, ujar Dang. Mulai dari mengurus kasur (pengendalian nafsu secara proporsional), dapur (mengendalikan ketersediaan yang cukup dengan harga yang terjangkau), lingkungan cerdas (menjamin anak-anak bisa sekolah), lingkungan sehat (supaya warga jagjag waringkas), rakyat terlayani dengan baik dengan penguatan RT dan RW, serta menciptakan kondisi kesejahteraan yang berkeadilan.

Dengan pencapaian itu, kreativitas karya dan tata kehidupan yang demokratis dapat tercipta dengan baik.

Ruli boleh mewujudkan cita-cita perjuangan buyutnya untuk mempraktikan pola pendidikan anak merdeka yang nyata (sebagai pribadi yang berintegritas). Dan, menegaskan kemandirian warga kota sebagai masyarakat yang mampu secara ekonomi.

Yang penting, keduanya berkomitmen untuk : boga leungeun ulah sacabak-cabakna (mampu mengendalikan kekuasaan), boga panon ulah satempo-tempona (mampu melihat  realitas dengan benar), boga ceuli ulah sadenge-dengena (berani mengonfirmasi informasi untuk beroleh kebenaran) .. Dengan begitu, kelak mampu memimpin sakumaha bapak, mengayomi sakumaha indung (sebagaimana ibu).

Cag !! 

Editor : sem haesy
 
Lingkungan
25 Jun 18, 16:31 WIB | Dilihat : 1715
Perlawanan Budaya Warga Sempur Bogor
24 Jun 18, 11:58 WIB | Dilihat : 655
Kreativitas Anak Betawi dalam Toponimi Jakarta
19 Jun 18, 11:09 WIB | Dilihat : 447
Merawat Hutan Memelihara Peradaban
Selanjutnya
Humaniora
07 Agt 18, 10:55 WIB | Dilihat : 1541
Igauan Intelektualisma Pasal Lawan dan Libas
27 Jul 18, 10:57 WIB | Dilihat : 1965
Pegiat Budaya Depok Silaturrahmi Ke PCNU Kota Depok
21 Jul 18, 14:02 WIB | Dilihat : 1154
Gigi
Selanjutnya