Netra

| dilihat 1356

TERANG bercahaya mewarnai Kedai Gambuh. Kedai milik Mban pedangan, itu kini sudah seperti balairung tersendiri. Ramai.

Pengunjung aneka rupa kawula datang ke situ. Bukan hanya karena masakan Mban Pedangan yang enak. Juga karena di situ orang bertukar kabar, termasuk bergosip dan bahkan berspekulasi tentang apa saja.

Belakangan, kedai itu juga menjadi tempat para petinggi kawula menyampaikan gagasan-gagasannya. Termasuk pula menyampaikan ambisinya, baik yang pakai nalar sehat atau sekadar ekspresi sikap ambisius belaka.

Hari ini, Pangeran Utara dan kawan-kawan tak nampak di kedai. Begitu pula Bilung dan kawan-kawan. Bawor apalagi, karena sudah lama sekali dia tak nongol. Mereka yang lama tak berkunjung, malah datang lagi ke situ.

Seperti yang nampak sesiang ini. Kedai Gambuh dikunjungi Basudewa yang selalu mengenakan serban melilit songkok.

Sudah lebih dari satu jam dia di situ bersama Subala. Dia sedang membincangkan Bumipala, tuannya. Sudah lama Bumipala mendeklarasikan dirinya menjadi calon Ki Lurah dua tahun ke depan. Tapi, belakangan pamornya merosot. Mungkin karena terlalu pagi mewara-wara alias kampanye.

“Tak ada program sebaik yang ditawarkan Bumipala,” ungkap Basudewa, yang diangguki oleh Subala.

“Hanya Bumipala yang sudah bekerja kongkret melatih wiraswasta, menggerakkan ekonomi di lapisan akar rumput. Tapi kenapa pamornya bisa merosot seperti itu,” tanya Basudewa.

Subala menatap Basudewa, laku buka suara, “Lakar punyane tumbuh ngamenekang, lakar akahe tumbuh nganuuang.” Apa yang akan menjadi batang, tumbuh ke atas dan yang akan menjadi akar tumbuh ke bawah.

“Tidak bisa berbarengan tumbuhnya. Bumipala sudah kadung “lakar punyane tumbuh ngamenekang.” Maka dia meranggas ke atas, meskipun ratusan kitab dituliskan menjelaskan dia sesosok pemimpin yang bermula dari akar,” kata Subala.

“Demikian juga yang lain, seperti pesaing Bumipala, dengan sosok togap berkumis dan bercambang lebat,” sambungnya.

“Dia laksana angkeban barong somi, tampilan barong dari jerami,” sambung Subala mengutip pepatah Bali. Maksudnya, berpenampilan gagah, tapi tak berbobot. Semakin rajin bicara, semakin terlihat dia bukan seorang yang berisi.

Tentang Bumipala, menurut Subala, posisinya seperti “buka taluhe apitang batu.” Seperti telur terjepit batu. Banyak hal yang kini tersembunyi, kelak akan terkuak. Apalagi bisnis Bumipala terkait bumi, seperti minyak, gas, batubara, air, dan lainnya yang telah mendatangkan lara bagi kawula. “Bumipala lebih pantas menjadi saudagar.”

Ketika Basudewa memandang keluar kedai, ia Cangik dan Limbuk melintas di depan kedai. Basudewa berdiri, dan segera memanggil perempuan yang sangat disukainya, itu. Cangik berhenti sejenak, sehingga membuat Basudewa bergegas menghampirinya.

“Apa kabar Cangik-ku yang cantik jelita?”

Limbuk tertawa mendengar rayuan Basudewa kepada ibunya. “Hihihi... Paman Basu matanya sakit, tuh.,” cletuknya.

“Kenapa?”

“Mosok Mboke Cangik dibilang cantik jelita...”

Cangik menoleh ke Limbuk dan melotot.  Lalu tersipu, ketika Basudewa bicara lagi. “Lo.. lo.. Limbuk, kamu gak akan cantik bila mbok mu ini gak cantik,” katanya.

“Apa kabar Mas Basudewa. Kemana aja sih?”

“Maafkan, Cangik.. selama kang Mas ini sibuk sekali, pergi dari desa ke desa, mengurusi bisnis.”

Mereka berbincang. Ketika melihat ibunya sudah mulai terpengaruh rayuan Basudewa yang menawarkan bantuan modal untuk dagang, Limbuk merengut. Cepat ia mengajak ibunya pergi.

“Ayo, mboke.. cepat ke rumah, nanti Paman Bilung kelamaan menunggu,” cetus Limbuk.

Basudewa terpana. Cangik kaget. Sambil berjalan meninggalkan Basudewa ia mengingat-ingat, agaknya hari itu tak ada janji dengan Bilung.

Dia kesal, begitu tahu, Limbuk hanya beralasan, agar keduanya bisa segera meninggalkan Basudewa.

“Saya sengaja menyebut nama Paman Bilung, supaya Paman Basu gak ganggu Mboke lagi..,” jelas Limbuk.

Limbuk tak mau ibunya terjerat pikatan Basudewa. “Paman basu kesengsem sama Mboke, aku hanya cara kebo mebalih gong,” ujarnya. Seperti kerbau menonton pertunjukan musik, bengong, melompong.

Cangik tercenung. Malu. Lalu menggumam: Pernahe wirang ing netra. Ing donya kang luwih pait, wong miskin kang luwih susah, dene kang luwih pakolih, wong waras lan wong sugih, dene ingkang luwih dumuh, wong bodho ingkang tamat ing pangeksi.

Letaknya malu ada di mata. di dunia ini yang lebih pahit, adalah orang miskin yang menderita susah, sedang orang yang paling berbahagia, orang sehat dan orang kaya, yang lebih buta adalah orang bodoh yang tidak terang penglihatannya. |

Editor : sem haesy
 
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 188
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1304
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
13 Sep 19, 21:15 WIB | Dilihat : 1311
Asap Menyergap Udara Pengap Petinggi Bersilang Cakap
Selanjutnya
Budaya
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 591
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 429
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 536
Tilik Literasi Betawi
Selanjutnya