Komentator

| dilihat 1477

LUNG tak tahan  diri. Gara-gara peristiwa kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501, belakangan dia sering nonton siaran berita televisi. Padahal, sebelumnya dia enggan.

“Tumben melototin tivi,”celetuk Ling sambil membawa kopi di pagi yang ceria itu.

“Ini peristiwa penting, menyangkut tragedi kemanusiaan,” jawab Lung.

“Ah.. kokoh. Apa peristiwa-peristiwa politik yang merampas begitu banyak nyawa di Timur Tengah, Myanmar, dan lainnya bukan tragedi kemanusiaan?”

Lung yang baru saja menghirup kopi, itu tersedak. Ia memandang Ling.

“Benar juga nih omongan Ling,”gumamnya dalam hati.

“Banyak peristiwa politik yang lebih dahsyat dari tragedi AirAsia QZ8501, seperti peristiwa bencana alam yang selalu setia mengintip kita,” sambung Ling.

Lung kagum dengan pendapat isterinya, yang sepagi itu nampak lebih cantik dari biasanya.

“Itulah sebabnya aku sering nonton televisi berita, Koh.”

Lung tersenyum, dia meminta Ling duduk di sebelahnya. Lung membelai rambut Ling, kemudian mencium kening sang isteri.

“Seringkali dengan menonton siaran televisi berita, wawasan kita bertambah, Koh”

Lung mengangguk. Jemarinya masih membelai rambut sang isteri, sedang matanya tertuju ke layar televisi.

“Ling bener. Tapi tidak semua yang diberitakan layak jadi santapan pikiran kita. Terutama ketika sudah menyangkut siaran berita terkait peristiwa politik lokal.  Seringkali kepentingan politik golongan yang menonjol.”

Ling menatap Lung.

“Saya akan menonton siaran berita tentang peristiwa politik lokal atau domestik, bila pengelola siaran televisi itu kembali ke jalan yang benar.”

“Maksud Koh Lung apa?”

“Maksud gua, isi beritanya independen. Gak berpihak, kecuali berpihak pada kebenaran.”

“Ah.. kalo keberpihakan pada kebenaran kan gak usah diomongin Koh.”

“Ya.. itulah maksudnya.”

“Lihat,.. dalam pemberitaan tragedi AirAsia QZ8501 kita mendapat informasi yang tidak keruh. Sumbernya jelas, Kepala Basarnas.”

“Ah.. Kokoh cuman ngelihat yang itu aja kayaknya. Pan ada juga, televisi yang menghadirkan komentator sepak bola merangkap komentator politik merangkap komentator ekonomi merangkap komentator tragedi AirAsia QZ8501.”

Lung tertawa. Dia memeluk Ling.

“Luar biasa. Ling makin cerdas aja. Udah cantik, cerdas lagi..”ungkap Lung, jujur.

Ling mencubit perut Lung.

“Waddawww... “

Lung menyimak Ling. Ketika menyimak komentar-komentar pakar yang memang kompeten, sebagai pemirsa dia merasakan ada tambahan wawasan pengetahuan. Tapi, begitu komentator sepakbola mengomentari peristiwa Tragedi AirAsia QZ8501, dia merasa jengah.

“Kadangkala redaksi siaran televisi itu gak paham kali ya, kalo komentator sepakbola gak pantes ditampilin jadi komentator tragedi pesawat terbang.”

“Ling bener.. Sebaiknya memang ada kejelian untuk melihat keahlian nara sumber. Termasuk kejelian untuk melihat, apakah sesuatu peristiwa perlu dikomentari atau tidak.”

Ling dan Lung tersenyum. Mereka saling pandang satu dengan lainnya.

“Eh.. ngomong-ngomong udah siang nih. Buruan deh ke pasar. Ntar rejeki dipatok ayam.. “

Lung berdiri. Kembali dia mengecup kening Ling. Lung berjalan diantar Ling sampai ke pintu. Ling mengantar suaminya dengan senyuman.. |

 

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Humaniora
10 Jul 19, 08:56 WIB | Dilihat : 957
Hati Bungah Melihat Betawi Mesra
06 Jul 19, 22:27 WIB | Dilihat : 536
Cermin dari Ciswoto dan Evie Tyas
27 Jun 19, 13:34 WIB | Dilihat : 1138
Among Tamu adalah Kehormatan
17 Jun 19, 19:03 WIB | Dilihat : 812
Benahi Minda, WAG Cerdas
Selanjutnya