Kelitik Money Politic

| dilihat 162

MATAHARI bergulir di atas kota. Panas menyengat. Musqila, Faafitauli dan  Inkinga duduk di sudut Warönk Uma. Lantas datanglah perempuan biasa-biasa saja, tak tampak elok rupanya, pun tak tampak cantik budinya.  Tuhinga nama perempuan yang gemar mengikuti mode, namun sering salah kostum itu.

Nampak Tauli menghirup jus belimbing segar. Kinga menghirup teh hangat tawar. Musqila menghabiskan air mineral yang tinggal separuh di dalam botol.

Ketiganya membahas isu politik uang yang tak pernah henti menjadi virus dan merusak tatanan sosial berbagai lingkungan dan organisasi sosial kemasyarakat. Termasuk di  kalangan organisasi kaum intelektual.

“Aku tak percaya ada politik uang dalam musyawarah besar organisasi kaum intelektual itu,”cetus Tuhinga, sambil menggaruk-garuk betisnya yang sudah dua hari gatal-gatal.

“Koq kamu bisa ngomong begitu?”tanya Musqila.

“Aku tahu mereka yang terpilih sebagai presidium dalam musyawarah besar itu. Salah satu di antaranya, bahkan sudah lama kutahu, karena satu kampus denganku. Orang muda yang punya gagasan bagus untuk organisasi, itu. Dan aku yakin, dia terpilih karena gagasannya, itu. Bukan karena alasan lain,”jawab Tuhinga.

Musqila terbahak. Faafitauli tersenyum. Inkinga mesam-mesem.

“Seberapa dalam kau kenal orang yang kau pujikan itu?” desak Tauli.

“Sangat mendalam lah.. Ibarat kata, dia tersenyum saja, aku tahu apa maksudnya..,” balas Tuhinga yang biasa dipanggil Inga, itu.

“Owh.. “cetus Musqila.

“Dari penjelasanmu,.. tentu kamu sangat subyektif. Jadi, setop. Jangan bicara tentang orang yang menjadi idolamu, itu. Kamu pasti tidak akan jujur. Pasti ada kepentinganmu..,”tanggap Tauli.

Inga kesal dan marah, cembetut, sehingga nampak sekali wajahnya tak elok.

Musqila bicara. Omongannya menarik perhatian yang lain, kecuali Inga yang hatinya masih kesal karena omongan Tauli.

“Perkawinan uang dan politik di Indonesia, kini menjadi paradoks dari asal muasal politik uang. Upeti tak lagi diberikan kepada Raja atau Sultan, tetapi kepada rahayat. Sistem demokrasi, otoritas raja telah tergeser ke rahayat. Celakanya politisi dan rahayat sama-sama belum selesai bermasalah dengan dirinya. Tak peduli kaum intelektual itu,”ungkap Musqila.

“Dari tataran teori, pendapatmu kupahami. Aku sepakat,” tukas Inkinga. “Tapi, soalnya tidak berhenti di situ.”

“Tentu tak berhenti di situ. Karena money politic berdampak pada penghancuran nilai kebaikan dan kebajikan manusia yang menjadi nilai dasar suatu organisasi,”balas Musqila.

“Secara historis money politic sudah berlangsung sejak awal tahun 1800, ketika berlangsung kongres Midwest atau Mid-Atlantic (di Amerika Serikat) yang bisa menghabiskan biaya hingga $ 4.000,”ungkap Musqila.

Uang besar itu dipergunakan untuk iklan surat kabar atau media lainnya, seperti pamflet, dan item kampanye lainnya, termasuk membuat slogan, lagu, topi coonskin dan pertemuan – pertemuan, sembari minum kopi dan anggur di kedai-kedai. Termasuk untuk membiayai sewa gedung kala seorang kandidat bertemu dengan para pemilik suara, konstituen. kebangunan rohani digunakan untuk menangkap imajinasi para pemilih.

Di New England dan wilayah Selatan, diperlukan lebih banyak uang, terutama karena warga keturunan Afroamerican sebagai konstituen dengan populasi terbanyak, memisahkan dengan antara belanja politik untuk keperluan kampanye untuk masuk ke dalam imajinasi ideal konstituen tentang kontestan dengan belanja suara. Termasuk ongkos konstituen menentukan pilihan mereka di bilik suara.

“Berlangsung transaksi flat. Begitu pemilihan dan penghitungan suara usai, tak ada lagi ikatan antara kontestan yang terpilih dengan konstituen yang mereka belanjakan. Termasuk, misalnya mengongkosi para pengurus organisasi datang ke tempat konvensi dan jaminan akomodasi untuk mereka,”jelas Musqila lagi.

“Mus, terlalu jauh ilustrasimu,”potong Inkinga. Musqila tersedak. Lantas buru-buru menenggak sisa minum dalam botol.

“Kita bahas dengan angle lain saja,”sambar Tauli.

Tuhinga yang adanya tak dianggap di situ, pergi meninggalkan warung itu. Ia meninggalkan ketiga temannya dengan wajah kesal dan tanpa pamitan. Ketiga temannya pun cuek saja.

“Jawab pertanyaanku. Kalian yakin ada money politic di mubes kaum (yang seolah-olah) cendekia itu?”tanya Tauli.

Musqila dan Inkinga mengangguk.

“Cukup!  Kalo gitu apa yang harus kita lakukan?” lanjut Tauli.

“Kita hina semua kontestan yang terindikasi melakukan money politic alias transaksi dengan konstituen pemilik suara yang menyebabkan mereka terpilih,” tegas Inkinga.

“Ah.. sampean terlalu keras.. Kita kan kenal mereka..” cletuk Musqila.

“Jadi menurutmu apa yang harus kita lakukan?”tanya Tauli kepada Musqila.

“Kita laporkan ke Dewan Etik organisasi itu?” sambar Inkinga.

“Ah.. jalannya terlalu berliku. Kita pilih jalan yang gampang. Kita ajak representasi kaum (yang seolah-olah) cendekia itu mendatangi semua kandidat yang dicurigai. Terus....,”ungkap Musqila tak sampai usai.

“Terus apa?”desak Tauli..

“Ya kita suruh aja mereka terus sampai membentur tembok atau tiang listerik.. kan nanti pingsan.. masuk rumah sakit, terus kita bawa ke polisi supaya dibui,”lanjut Musqila.

“Ah.. itu juga terlalu lama prosesnya.. Gini aja. Kita datangi mereka, terus kita kelitiki sampai beser...,”sambung Inkinga.

Ketiganya sepakat. Lalu buru-buru meninggalkan waronk. Sayang.. Musqila yang jalan bergegas terburu pingsan, karena terbentur tiang listrik di ujung gang, persis di pojokan warunk. Inkinga dan Tauli melarikannya ke puskesmas terdekat.. | 

Editor : sem haesy | Sumber : ilustrasi pixabay
 
Seni & Hiburan
05 Des 17, 12:10 WIB | Dilihat : 697
Keluarga Indonesia Perlu Nonton Film Chrisye
02 Des 17, 21:02 WIB | Dilihat : 576
Oase Musik Melayu di Tengah Ibukota Jakarta
02 Des 17, 11:05 WIB | Dilihat : 2339
Chrisye Film Religiomusikal Indonesia Yang Keren
31 Des 16, 10:27 WIB | Dilihat : 478
Tan Sri SM Salim Johan Musik Melayu
Selanjutnya
Sporta
12 Okt 17, 09:39 WIB | Dilihat : 1039
Golf Memadupadan Olah Raga dengan Olah Rasa
12 Okt 17, 06:56 WIB | Dilihat : 574
Perkumpulan UMA Gelar Unity Golf Tournament 2017
16 Jan 17, 11:59 WIB | Dilihat : 778
Tim Elit Membidik Lallana
05 Jan 17, 10:12 WIB | Dilihat : 193
Laga Pembuktian Si Rubah
Selanjutnya