Gunemdalu

| dilihat 1138

SENJA sedang merangkak menuju malam, ketika Togog menghubungi Mban Pedangan. Ia bermohon agar Mban Pedangan mau membuka kedai sampai malam.

Mulanya Mban Pedangan enggan. Ia tak terbiasa membuka kedainya sampai malam.

“Mban tenang saja. Kami akan menambah kepeng untuk sewa tempat dan penganan. Mban juga boleh menutup pintu dan jendela kedai,” ujar Togog.

Akhirnya Mban Pedangan setuju. Ia pun menyiapkan penganan khas yang diminta Togog: tahu konde, telor banting, geprak jengki, dan sambal rieut.

Beberapa saat kemudian datanglah Pangeran Utara, Sangut, Nata, dan Cayaraja. Mereka ngobrol di sudut kedai yang agak remang, bertabur cahya cempor dan beberapa lampu tempel. Pertemuan gunemdalu (berbincang malam).

Mereka berbincang sangat serius. Temanya: Satria Bergitar. Atas nasehat Cayaraja, Pangeran Utara sepakat menjadikan Satria Bergitar menjadi Satria Piningit. “Tak penting bagi saya menjadi apa, saya mohon ki sanak senang menyokong perjuangan menjadikan Satria Bergitar sebagai Satria Piningit,” ujar Pangeran Utara. Yang lainnya mengangguk tanda setuju.

“Tak ada jalan lagi bagi kita untuk menjadi besar dan turut menjadi bagian dari kekuasaan. Mudah – mudahan Hyang Dewata malah menjadikan kita penguasanya,” ungkap Nata.

Tak lama kemudian, derap kuda, gemericik marakas dan taluan gendang yang tak sengaja terpukul, terdengar. “Nah, itu Satria Bergitar datang,” ujar Sangut.

Togong segera menyambut kedatangan Satria Bergitar dan rombongannya. Satria duduk di antara Pangeran Utara, Nata, dan Cayaraja. Para musisi Cagenjring, anak buah Satria Bergitar ditemani oleh Togog dan Sangut. Satria ditemani penasihat spiritualnya, Kyai Kemulen.

Satria mempersilakan Kyai Kemulen angkat bicara. Ia menjelaskan, para kyai sudah sepakat untuk memberi amanah kepada Satria memimpin desa, selepas Ki Lurah Badranaya, usai memimpin dua tahun lagi.

“Para Kyai sudah bulat memberi amanah kepada Satria agar mampu membenahi akhlak kawula yang sudah merosot,” ujar Kyai Kemulen.

“Bila memang sudah begitu kesepakatan para Kyai, saya pikir tak ada alasan bagi Partai Melinjo untuk tidak memberikan wadah dan dukungan kepada Satria. Biarlah nanti Pangeran Utara yang sudah punya pengalaman di pedesan, yang mengurusi urusan pemerintahan,” ungkap Cayaraja.

Semua sepakat. Satria berterima kasih, karena Partai Melinjo melangkah lebih cepat, memberi wadah kepada dirinya untuk maju dalam pemilihan ki lurah desa mendatang. “Dengan rendah hati, saya berterima kasih,” ujarnya.

“Kami juga berterima kasih, karena Satria sudah berkenan menjadi bagian dari perjuangan kita. Perjuangan meewujudkan cita-cita para kyai, agar desa kita aman makmur sejahtera adil berjaya di bawah ampunan Gusti Mahakuasa,” ujar Pangeran Utara.

“Jangan hiraukan apa yang diocehkan orang. Kita harus menguasai emosi kita, agar kita mampu membuat keputusan yang benar dan mengerjakan sesuatu dengan baik,” tambah Nata. Lelaki arif, itu melanjutkan, “Kita jauhi orang-orang yang pandai dan senang menghasut dan bergunjing, para pendengki.”

Semua sudah sepakat. Mereka pun merancang program. Satria tak keberatan, dimulai dengan uji pasar. Satria malah mengusulkan Partai Melinjo mulai dengan pertunjukan Cagenjring keliling desa Indrajaya.

“Tapi maaf Satria, karena ini untuk tujuan bersama, kami tak bisa menyediakan kepeng untuk itu,” ungkap Pangeran Utara.

Satria tersenyum sambil memandang Pangeran Utara. “Jangan dipusingkan. Kelompok musik Cagenjring mempunyai segalanya. Tapi, silakan Partai Melinjo yang mengurus izin, wara-wara, dan sebagainya,” ungkap Satria.

“Kita lawan semua tantangan dengan keindahan musik,” ujarnya lagi. “Ini perjuangan menegakkan akhlak mulia bagi kawula,” tukasnya.

Pangeran Utara mengangguk. Dalam pikirannya, yang penting Partai Melinjo menang.

Nun, di tempat yang jauh dari Kedai Gambuh, Cangik sedang repot mengurusi Limbuk yang sedang nasdem (panas demam) tinggi. Ia memboreh gadisnya itu dengan segala ramuan. Termasuk ramuan anti santet.

Sambil memborehi sekujur tubuh Limbuk, Cangik melantun irama lirih: “Ana kidung rumeksa ing wengi. Teguh ayu luput ing lelara. Luput ing bilahi kabeh. Jin setan datan purun. Paneluhantan ana wani. Miwah panggawe ala. Gunaning wong luput. Geni atemahan tirta. Maling adoh tan wani perak ing mami. Tuju guna pan sirna…”  Ada kidung penguasa malam. Sehat dijauhkan dari penyakit. Terbebas dari kesialan. Jin dan setan jangan mendekat. Teluh tak mempan. Apalagi napsu mencelakai (orang). Guna-guna keblinger. Api ditaklukan. Maling tak kan mendekat. Segala niat jahat, sirnalah !!! |

Editor : sem haesy
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 878
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1336
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 505
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 930
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 269
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1388
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
Selanjutnya