Cengkeh Tumbuh di Sela Batu

| dilihat 85

Bang Sém

Fajar baru beranjak menjelma pagi. Tok Sengon jalan perlahan meninggalkan halaman musalla Al Muhajirin menuju hutan konservasi di ujung desa.

Hal sedemikianlah dilakukannya setiap hari, selepas Subuh berjama'ah.

Banyak hal yang dipelajari Tok Sengon di hutan tutupan, itu. Tak hanya aneka flora dengan beragam riwayat yang hidup bersama tumbuhnya setiap jenis tanaman. Mulai dari pokok-pokok kayu dengan tegakan lurus merambah langit. Tapi juga aneka jenis perdu, paku, herbalia, dan lainnya.

Melangkah berjalan sehat di bawah kanopi hutan hujan tropis menyegarkan bagi siapa saja manusia yang sadar tentang hakekat harmoni insani dengan semesta sebagai lingkungan alam. Di situ, Tuhan menggelar beragam ruang belajar untuk mengenali hakekat eksistensi insani flora-fauna sebagai makhluk , dan hakekat Tuhan sebagai Pencipta, Great Creator.

Di hutan konservasi itu, Tok Sengon kerap jumpa Tété Misai yang dipanggil begitu karena ketika muda berkumis lebat, dan Été Dopolo dipanggil begitu karena separuh kepalanya dari kening, sudah nampak dilihat dari kejauhan.

Tété Misai mantan politisi. Lima belas tahun menjadi anggota parlemen di Jakarta sebelum menjadi Bupati di kampungnya.

Été Dapolo mantan birokrat lurus yang mengurusi ketenagakerjaan. Mungkin karena terlalu sering berpikir tentang bagaimana menempa sumber manusia sebagai modal insan yang tak pernah match dengan kebijakan negara, banyak rambutnya rontok.

"Sebagai jurnalis dan brodkaster utama yang tak lagi berkecimpung di dunia jurnalistik dan politik, dan kini sibuk mendidik banyak kader bangsa, bagaimana pandanganmu tentang situasi politik mutakhir?" tanya Tété Misai, sambil melangkah.

"Biasa-biasa saja. Politik di negeri ini kian kering. Tak ada sentuhan budaya. Perdebatan politik di parlemen dan televisi, masih bersoal ihwal remeh-temeh. Hanya praksis politik. Bangsa ini sudah kehilangan politik berbudaya, kehadiran politisi kita belum bermakna meluas mendidik kesadaran politik rakyat," jawab Tok Sengon.

"Saya setuju. Politik kita ibarat pohon cengkeh yang tumbuh di sela batu," cletuk Ete Dapolo.

Tété Misai tertawa. lantas ketiganya terbahak. Bahak mereka terdengar di bawah kanopi hutan tutupan itu.

"Cengkeh di sela batu?" sela Tete Misai.

"Ya.. politik kita seolah tumbuh hanya di sela dua kepentingan saja. Politik itu sendiri, berujung kekuasaan.. dan ekonomi, berujung kemarukan..," jawab Été Dopolo.

Tété Misai tersenyum. Jemarinya memilin ujung misai sambil melirik Tok Sengon.

"Saya sepakat dengan pandangan Été Dapolo. Pragmatisme politik mendorong rakyat berpikir praktis ihwal politik, lantas melahirkan politik transaksional. Mulai dari lingkungan internal Partai Politik sampai momen musiman lima tahun sekali yang kita sebut Pemilihan Umum," ungkap Tok Sengon.

"Ini yang membuat hasil proses politik kita lebih banyak melahirkan masalah dibandingkan maslahah, menimbulkan persoalan dan sedikit manfaatnya bagi rakyat," ujar Été Dapolo. Tété Misai tersenyum. Melirik lagi ke Atok Sengon.

"Boleh jadi benar. Tapi, percayalah, dalam situasi semacam ini, akan selalu ada politisi yang bertegak di atas idealisme dan bergerak perlahan menghidupkan kembali ideologi politik," tanggap Tété Misai.

Atok Sengon tersenyum. Telunjuk Été Dapolo, menjentik pahanya, sehingga dia melirik.

"Politisi akan selalu berkata seperti itu, karena terbiasa bereaksi dengan kata-kata," sanggah Atok Sengon.

"Ya.. saya setuju.. tapi mereka tak pernah lakukan," sambung Été Dapolo.

"Di zaman post trust, kita kehilangan kepercayaan. Kecuali para petinggi Partai Politik, berani melakukan audit budaya secara internal di lingkungannya," ungkap Atok Sengon lagi.

"Untuk apa audit budaya?" tanya Tete Misai.

"Untuk menemukan kembali nilai, mulai dari yang paling sederhana, etika politik sampai yang paling pelik, ideologi politik," jelas Tok Sengon.

"Kongkretnya?" tanggap Tété Misai.

"Para pemimpin politik mesti mengambil keputusan cerdas, menyigi kembali anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan platform partai dan membuat parameter nilai yang dihadapkan dengan nilai idiil negara, tujuan bangsa, serta nilai-nilai yang menghidupkannya," urai Tok Sengon.

"Pancasila?" sela Été Dapolo.

Atok Sengon mengangguk.

Lalu, Atok Sengon melanjutkan, "Partai politik mesti menggelar dialog panjang soal ini, selama 60 purnama, sehingga ketika mereka menggelar Kongres, Munas, atau Muktamar berlangsung diskusi intens tentang dimensi spiritual dan moral secara nyata, tak hanya berkutat soal perebutan kursi Ketua Umum."

"Saya setuju dengan pendapatmu, tapi bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi. Dari mana mulai?" tanggap Été Dapolo.

"Ya.. Siapa petinggi partai sekarang mau berfikir semacam itu, meluangkan waktu untuk membaca berbagai pemikiran politik para pendiri republik ini saja mereka enggan. Semua hanya sibuk menduplikasi retorika.. mengumbar kata-kata kehilangan makna," sambung Tete Misai.

"Oke lah begitu. Kita mesti tanpa henti menyergah mereka. Kita yang harus mengubah fungsi kita," tangkis Atok Sengon.

"Sebagai apa? Kita bukan siapa-siapa lagi.." balas Été Dapolo.

Tété Misai tertawa. "Kita tak berada di sana, paling dekat, hanya sekali sekala saja kita datang ke gudang-gudang tempat politisi itu berkumpul."

"Kita harus kerap datang ke sana," kata Tok Sengon.

"Sebagai apa?" ulang Été Dapolo.

"Sebagai kakek cerewet di rumah kebangsaan," jawab Tok Sengon. Mereka terbahak, sampai Été Dapolo tersedak.|


Baca juga : Panggil Aku Tok Sengon

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
12 Sep 19, 09:18 WIB | Dilihat : 955
BJ Habibie Cermin Besar Kebangsaan
10 Sep 19, 00:10 WIB | Dilihat : 298
Hidup itu sederhana
25 Agt 19, 19:31 WIB | Dilihat : 258
Hantu Drum Roll di Rumah Mompesson
25 Agt 19, 19:58 WIB | Dilihat : 394
Kesabaran dan Kebahagiaan Terletak pada Hal Sederhana
Selanjutnya
Polhukam
13 Sep 19, 10:20 WIB | Dilihat : 864
Menghantar Bapak Demokrasi, Mengenang SU MPR 1999
10 Sep 19, 10:36 WIB | Dilihat : 334
Transformasi Jakarta Tidak Terbendung
07 Sep 19, 21:04 WIB | Dilihat : 265
Jakarta Jantung Ekonomi dan Budaya
Selanjutnya