Blank

| dilihat 192

Hari ini jalan sehat ke punggung bukit hutan tutupan yang sangat bermakna bagi Tété Misai, Ete Dapolo, dan Tok Sengon. Tak hanya karena Aki Apip dan Opung Steel bersama mereka, tetapi juga karena mereka mendapat cerita dan pengalaman langka.

Kali ini mereka tidak melintasi track yang biasa, melainkan berputar ke arah sungai, melipir tebing, kemudian lalu lewat jalan setapak, melintasi laboratorium hutan hujan tropis.

Pas lewat di depan laboratorium, itu tampak Professor Dengen dan istrinya, Noni melangkah keluar pagar taman dengan aneka jenis flora.

Mereka berhenti sesaat, bersalaman dengan dua professor yang usianya lebih tua dari mereka. Atok Sengon memperkenalkan mereka satu-satu.

"Professor Dengen ini cendekiawan kita yang humoris. Beliau ahli botani. Dan.. ini, Professor Noni ahli biologi," ujar Atok.

"Senang berjumpa dengan saudara-saudara," ujar Prof. Dengen. Prof. Kay hanya tersenyum saja. Lalu, keduanya melangkah bersama.

Opung Steel yang biasa jalan bergegas, mesti mengikuti irama langkah Prof. Dengen dan Prof. Kay.

Sepanjang jalan melintasi hutan kota yang luas itu mereka berbincang. Ete Dapolo mengekspresikan rasa hormat dan kagum.

"Lama sekali saya mendengar nama Prof Dengen, tapi baru kali ini bisa jumpa," ujar Ete.

Tété Misai juga mengekspresikan rasa hormat dan kagum yang sama.

Prof. Kay malah tertawa. "Jangan kagumi kami sebagai cendekiawan. Apalagi suami saya," ujarnya.

Opung Steel dan Aki Apip nampak terpana. Keduanya memandang Prof. Kay dengan rasa ingin tahu, maksud ucapan ahli biologi itu.

“Dia tak lebih hanya seorang alan-alan,” seru Prof. Kay.

"Maksud Prof?" tanya Aki Apip.

"Dia bukan cendekiawan. Dia pelawak atau pelucu," sambungnya.

Prof. Dengen tertawa, juga yang lain.  "Sejak menikah sampai hari ini, saya lebih mengenal dia sebagai pelucu daripada seorang cendekiawan," sambung Prof. Kay lagi.

"Tapi, bukankah dengan kelucuan itu Prof. Dengen menunjukkan kecendekiaannya?" sambar Atok Sengon.

"Mungkin.. mungkin.. Di jaman seperti sekarang, kita susah membedakan mana cendekiawan dan mana pelucu," sambung Prof. Kay.

"Istri saya benar. Kadang saya berfikir, saya ini memang pelucu. Terutama ketika sedang sendiri bercumbu dengan aneka benih yang didatangkan dari luar dengan plasma nuftah dari negeri asing," ungkapnya.

"Sejak kapan Prof merasa begitu?" tanya Tété Misai.

"Sejak saya sempat lari  dari keahlian saya di bidang botani, masuk ke dalam fantasi politik, ingin menjadi petinggi negeri," jawab Prof. Dengen.

"Persisnya, sejak ada yang menawari dia menjadi calon Wakil Presiden beberapa dasawarsa lalu," ungkap Prof. Kay.

"Sungguh, ketika itu terseret dan masuk dalam jebakan fantasi. Terbuai oleh ambisi, tertipu fantasi, bahwa dengan menjadi petinggi negeri, saya akan mampu mengembangkan nasionalisme benih," seru Prof. Dengen sambil terkekeh.

"Untung segera jumpa Atok Sengon yang mengembalikan dia ke dalam laboratorium botani. Atok Sengon meracuni dia masuk dalam jebakan lain, dunia sastra dan seni," sambung Prof. Kay lagi.

"Apa yang Prof rasakan pada saat terjebak dalam jebakan fantasi itu?" tanya Tété Misai.

"Sebagai manusia, saya tak mampu  melawan diri saya sendiri. Saya tak mampu konsisten dengan bidang keilmuan saya dan bertahan sebagai cendekiawan, ilmuwan," jawab Prof. Dengen.

 “Otak yang Allah berikan kepadanya untuk menjadi cahaya pencerah, tak sanggup mengatasi desakan perasaan dan intuisi­nya yang sangat dominan," sambung Prof. Kay. "Saya marah, tapi dia malah mencibir kemarahan saya."

Prof. Dengen pun cerita:

Suatu senja, sambil menanti pergantian siang dan malam, ketika menyambut adzan maghrib, dia duduk di kursi beranda rumahnya. Perasa­annya bergejolak, karena tawaran menjadi cawapres beberapa waktu sebelumnya.

"Intuisi saya memberontak. Bersekutu dengan fantasi, sampai saya sangat yakin, bahwa dengan menjadi petinggi negeri, saya mampu menggelorakan nasionalisme benih. Supaya seluruh penduduk negeri ini, menyantap pangan yang benihnya dari plasma nuftah tanah air sendiri," katanya.

"Bagaimana peran akal Prof, ketika itu?" tanya Opung Steel.

"Akal saya menolak. Akal saya mengisyaratkan, intuisi saya hanya gelombang fantasi yang dahsyat.  Terbukti, akal saya benar. Saya tertipu fantasi," ujar Prof. Dengen.

"Masa intuisi dan perasaan Prof mengalah begitu saja?" tingkah Tété Misai.

"Intuisi dan perasaan saya ber­se­kutu. Mengepung akal. Seketika saja, akal pergi dari otak saya, ketika perasaan dan intuisi menguasai seluruh otak saya.. Kemarahan isteri saya, menyadarkan saya, bahwa saya sudah kehilangan akal," cerita Prof. Dengen sambil tertawa.

Prof. Kay juga tertawa. "Ada yang menggelikan hati saya. Dia mencari-cari akalnya di sekeliling rumah, lalu duduk di beranda se­malam suntuk. Tapi dia tak temukan akalnya, sampai kuda di belakang rumah meringkik jelang subuh," sambung Prof. Kay.

"Prof sempat meracau?" tanya Aki Apip.

"Tak hanya meracau. Dia berteriak-teriak. Memanggil-manggil akalnya di kegelapan, tapi akalnya tak merespon sama sekali," jelas Prof. Kay. "Dia blank beberapa hari," lanjutnya.

"Ya.. saat itu, akal sungguh sudah pergi meninggalkan otak saya, entah ke mana. Akal itu baru tiba, pada pagi, ketika isteri saya menyediakan secangkir kopi dan sepiring ubi bete goreng," tambah Prof. Dengen.

"Akal itu kembali ke otak Prof?" tanya Ete Dapolo.

"Ya.. akal saya kembali. Ia melompat masuk ke dalam otak saya. Lalu saya mengancam perasaan dan intuisi untuk tidak mengecoh saya lagi. Alhamdulillah, kini akal­ saya tetap berada di otak dan tidak pergi lagi," jelas Prof. Dengen.  

Tak terasa, mereka sudah berada di gerbang hutan kota itu. Prof. Dengen dan Prof. Kay pamit, karena akan bergegas pulang. Dia melangkah ke mobilnya sambil melambaikan tangan.|



Baca Juga : Unang Hita Marbada

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
06 Nov 19, 11:12 WIB | Dilihat : 1396
Penguatan Profesionalisme Transformasi BUMN
05 Nov 19, 11:16 WIB | Dilihat : 897
Jalan Tol Sumatera Telangkai Mega Region
04 Nov 19, 13:44 WIB | Dilihat : 543
Benahi Hukum dan Prasarana Utama Investasi
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 180
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1292
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 467
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 898
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya