Bisnis Unik Ling

| dilihat 1377

TAK ada lagi yang bisa diomongkan Lung. Perceraiannya dengan Ling, membuat dia sungguh menyesal. Lung kini menyadari, betapa kata-kata kasar dan kotor dari mulut seorang suami kepada isterinya, adalah bagian dari abuse of power yang nista.

Kehormatan seorang suami berakhir dan selesai, ketika dia tidak lagi bisa menghargai isterinya dengan menggunakan kata dan kalimat yang wajar dalam berkomunikasi. Hatta dalam keadaan marah.

Kehormatan seorang suami juga berakhir, ketika dia tak lagi peduli pada tanggungjawabnya terhadap isteri dan anak-anaknya.

Berbeda dengan Lung yang nampak lusuh dan lesu. Ling justru nampak ceria dan gembira. Sejak perceraiannya disahkan pengadilan, Ling langsung beraksi. Hal pertama yang dia lakukan adalah mengambil-alih kios yang selama ini ditempati Lung untuk berdagang.

Ling tidak memberi sedikitpun ruang bagi Lung untuk cawe-cawe pada ikhtiar yang dilakukannya di kios itu.  Ling  membenahi kios yang sudah kosong itu. Dia menyuruh orang untuk mengecat kios dengan warna cerah ceria. Lalu menata interior kios.

Kios yang kini berwarna pink dengan sentuhan merah hati di penampang backdrop itu tampak menonjol di antara kios sekitarnya.

“Wuih, bekas kios Lung jadi mentereng kayak gini,”tukas Manoj sambil berdiri di depan kios. “You mau bisnis apa Ling?” tanyanya.

Ling yang sedang mengawasi penataan interior kios itu tersenyum. “Gue mau bisnis kata-kata,” jawabnya. Manoj termangu.

“Apa you punya maksud?”

Manoj termangu, ketika Ling mengatakan, bisnisnya adalah menjual jasa pelatihan komunikasi khusus untuk para suami yang tidak mampu memperlakukan isteri dan anak dengan kata-kata yang baik.

Manoj tambah termangu, ketika Ling mengatakan, bisnisnya dimulai dengan program paling sederhana, latihan menyapa isteri.

“Wah.. I perlu daftar pertama nikh,”kata Manoj.

“Silakan.. Mau daftar sekarang juga boleh.”

Manoj langsung mendaftar. Ling yang kini berdandan, nampak lebih cantik melayani pendaftaran dengan sukacita. Tak berapa lama, satu persatu orang mendaftar. Abud, Kirdun, Karmin, Choir, Tarmizi, Hong Kian, Patrick, daftar menjadi peserta.

“Terima kasih sudah mendaftar. Mudah-mudahan hasil pelatihan akan menambah mesra rumah tangga masing-masing,”ungkap Ling sambil memasang papan nama: Ling Comm, Merawat Cinta Kasih.

Lung masam mukanya, begitu mendapat kabar, bisnis unik Ling digemari para lelaki bersuami. Lung mendatangi Manoj. Dia protes, mengapa sahabatnya itu mendaftar pertama. Tapi, Lung tak bisa bilang apa-apa, ketika Manoj mengatakan, dia memang memerlukan hal itu.

“I memang perlu merawat cinta dengan I punya wife. You gak boleh larang saya menambah pengetahuan merawat cinta,”ujar Manoj.

“Tapi, you kan tahu, Manoj.. Ling itu kan lagi bisnis sindiran. Dia lagi nyindir gue dengan bisnisnya itu,”ujar Lung.

Manoj menatap Lung, dengan tatapan aneh.

Lung tak bisa ngomong lagi, ketika Abud angkat bicara dan mengatakan, bisnis unik Ling pasti bakal laku, karena begitu banyak suami tak bisa memperlakukan isteri dan anak-anaknya dengan kata-kata yang baik.

“Siakek..,”cetus Lung. Dia ngeloyor ke kios yang dipinjamkan Manoj kepadanya. Lalu segera menutup kiosnya. Lung kemudian pergi dengan mashgul. Ia merasa apa yang dilakukan Ling merupakan bagian dari ekspresi mantan isteri menghabisi citra mantan suaminya. Ling sendiri tidak berpandangan begitu. Ling hanya mengkapitalisasi peluang, betapa banyak suami tak lagi manusiawi.. Ehm..

Editor : Web Administrator
 
Budaya
28 Okt 19, 11:57 WIB | Dilihat : 498
Sumpah (Serapah) Pemuda
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 664
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 507
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
Selanjutnya
Polhukam
20 Nov 19, 11:24 WIB | Dilihat : 666
Fokuslah Kepada Nasib Korban
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 688
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 204
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
Selanjutnya