Bencana

| dilihat 1388

BENCANA merambah di mana-mana. Seolah mengepung desa Indrajaya. Di sebelah barat, tebing alamiah yang indah, ambruk longsor.

Sungai-sungai menggelontorkan air deras, termasuk sisa debu yang dihamburkan letusan gunung Rangin beberapa waktu lalu. Di laut, ombak terempas badai, bergemulung, setinggi rumah.

Cangik dan Limbuk menggigil ketakutan di dalam rumahnya ketika hujan lebat turun kemarin sore. Kedai Gambuh terpaksa harus tutup sementara. Mban Pedangan khawatir, cuaca yang tak menentu dan hempasan angin yang keras, akan menhempas kedainya.

Bilung mengurungkan niat pergi menengok Cangik. Di pendapa, Ki Lurah Badranaya sibuk mengatur strategi. Ia mengambil komando langsung menggerakkan seluruh elemen desa, bergerak ke lokasi-lokasi bencana.

Bawor ditugaskan membantu penyiapan logistik, peralatan, juga pasukan. Maklum, Badudes termasuk lembaga yang siap menghadapi bencana.

Dawala mengajak Kabayan membahas sebab musabab meningkatnya kualitas bencana, sejak beberapa masa terakhir. Keduanya menepis opini ajak njeplak yang dilontarkan sejumlah wakil kawula di Balekawulan. Juga komentar-komentar yang dilontar oleh Pangeran Utoro yang memang tak suka dengan Ki Lurah Badranaya, lantaran hasratnya menjadi mantri bendahara tak dikabulkan.

Kabayan melantunkan tembang sederhana di bawah suasana yang kian kelam. “Gunung-gunung dibarubuh, tatangkalan dituaran, cai caah babanjiran, bhuwana marudah montah,” dendangnya. Itulah pangkal sebab meningkatnya kualitas bencana.

Menurutnya, penyebab bencana adalah ulah manusia di masa lalu, ‘merobohkan gunung-gunung dan menebangi pohon-pohon.’ Akibatnya: air menggelontor dahsyat menjadi banjir bandang dan bah di mana-mana, lalu bumi meludahkan atau memuntahkan isi perutnya.

“Akur.. Urang ge mikir kitu, Kabayan..”

Sumuhun, kang Dawala.”

Ketika angin sedikit reda, cuaca agak rembang, Bilung memberanikan diri keluar dari rumahnya. Ia bergegas ke rumah Cangik. Menggunakan payung daun pisang, ia menerabas gerimis yang terus turun dengan rinai berirama.

Begitu melihat Bilung masuk ke dalam rumah, Limbuk yang terlalu lama menahan takut, langsung memeluk lelaki yang dia idamkan menjadi ayahnya itu. Limbuk menangis.

“Paman tolong lah kami. Bila alam sedang selesma seperti sekarang ini, kami selalu khawatir. Tak ada penolong kami,” ungkapnya sambil sedih.

“Ya.., ya... paman akan selalu bersamamu, nak,” ujar Bilung.

“Artinya, bersama mboke juga kan?”

Cangik tersipu. Bilung mengangguk. Jemarinya membelai kepala Limbuk, sehingga gadis itu merasa berada dalam perlindungan yang hangat.

BENCANA memang bisa datang kapan saja. Manusia, wajib mencegahnya, meski mungkin tak sanggup menghentikannya. “Seringkali, kita baru tersadar tentang bencana, ketika bencana itu datang,” ungkap Abu Nawas kepada Ki Lurah badranaya.

Dia mengapresiasi Ki Lurah yang cepat tanggap untuk selalu berkomitmen memelihara alam. Abu Nawas memuji Ki Lurah Badranaya yang konsisten membenahi dunia pertambangan, agar manusia tak sembarangan menghancurkan gunung-gunung atau meninggalkan petaka selepas mereka mengambil manfaat besar dari alam.

Ia juga memuji sikap tegas Ki Lurah membatasi penebangan hutan untuk tujuan apapun, dan giat menanam kembali miliaran pohon. Terutama di kawasan hutan-hutan botak.

“Itu langsung bertanggung jawab yang akan dikenang sepanjang masa. Jauh lebih berharga daripada membangun gapura-gapura,” ungkap Abu Nawas.

Tindakan membatasi pertambangan, termasuk mengatur lebih baik pengeboran minyak dan gas bumi, bernilai strategis dan berdimensi jauh ke masa depan. Ke masa yang mungkin tak akan pernah kita kunjungi. Memang, ungkap Abu Nawas, dalam melakukan kerja besar itu pasti akan menghadapi tantangan dan ujian besar. Terutama dari kalangan yang punya begitu banyak kepentingan di balik bisnis tambang.

Ki Lurah Badranaya senyum kecil mendengar ucapan Abu Nawas. “Biarkan anjing menggonggong, kafilah harus berlalu,” cetus Pahit Lidah. Persoalannya, kata Ki Lurah Badranaya, “terlalu banyak anjing yang menggonggong, sehingga barisan kafilah sering tak kompak.

“Tugas anjing memang menggonggong, supaya kita hati-hati, tugas kafilah adalah terus berjalan sampai ke tujuan,” ungkap Abu Nawas. “Ya, seringkali kita memang memerlukan anjing yang menggongong, agar kafilah terus berjalan di atas kebenaran,” sambung Pahit Lidah.

Dalam hal menggongong, ujar Abu Nawas, “Seringkali gonggongan yang tak proporsional, malah jadi bencana lebih dahsyat, yaitu bencana sosial.” Ia mengungkap, “atsrotul qodamislami min atsrotillisani.” Tergelincir kaki, lebih selamat daripada tergelincirnya lidah.. |

Editor : sem haesy
 
Ekonomi & Bisnis
08 Jul 19, 16:21 WIB | Dilihat : 715
BNI Syariah Istiqamah di Jalan Hasanah
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 903
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 249
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 390
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
Selanjutnya
Energi & Tambang