Bedegong

| dilihat 546

WARÖNK Uma, senyap. Jum’at yang bisu. Musqila datang berkunjung ke situ, sendirian. Lama menanti para koleganya tak jua datang, akhirnya Musqila pergi. Berjalan kaki ke stasiun kereta Tanjung Barat. Lantas menuju ke Masjid Istiqlal.

Di dalam kereta itulah dia jumpa sahabat lamanya, Autina, perempuan asal Rawajemblung dan Sopiga, teman lainnya, asal Tanjungkelak.

Mulanya mereka bertukar kabar. Lalu serius bicara ihwal istilah yang membuat Musqila tak tidur beberapa hari, lantaran di sebut bedegong kimin oleh isterinya.

“Jenengan tahu maksud istilah bedegong?”

Autina tersenyum. Tak ambil waktu banyak dia nyerocos. “Saya juga suka dibilang begitu oleh suami saya..,” cetusnya. "Maklum.. suami saya politisi, sering emosi.."

“He he.. kita senasib.. Tapi, apa sih arti bedegong?”

“Di lingkungan budaya Sunda, terdapat satu istilah rada keras untuk menjelaskan karakter manusia yang keukeuh dengan pikirannya sendiri yang keliru, meski sudah berulang-ulang diberitahu dan diberi petunjuk. Bedegong...,”jelas Autina.

Musqila terperanjat. “Biasanya diucapkan secara ekspresif dan aksentuatif, didorong pula oleh rasa jengkel. Karenanya, seringkali istilah itu menjadi penanda karakter, stigma, cap bagi seseorang yang susah diberitahu kekeliruannya,” tukas Autina

Musqila mengingat ulang aksentuasi isterinya ketika mengucapkan kata bedegong.

Sopiga menimpali. Dia katakan, di lingkung budaya Melayu ada pepatah, “hanya keledai yang jatuh ke lubang sama lebih dari sekali,” maka seperti itulah makna istilah bedegong kudu dipahami.

“Weleh... lebih sarkas katimbang nDableg, yo,”respon Musqila. “Pendeknya lebih parah dibandingkan koppig, dalam istilah Belanda,” sambung Autina yang sempat lama jadi pekerja migran di Leliland, itu.

Musqila dan Sopiga, lantas takdzim menyimak penjelasan Autina. Begini :

Sifat buruk bedegong tak hanya menghampiri mereka yang berpendidikan rendah, atau kalangan amah, alias awam. Siapa saja bisa berkarakter bedegong, baik di lingkungan politik, sosial, ekonomi, dan budaya.

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang berkarakter buruk semacam ini. Bisa karena struktur dan format logikanya yang terkontaminasi. Bisa juga karena hatinya tidak cukup bersih untuk menerima perubahan ke arah yang lebih baik.

Tak sedikit, bahkan, mereka yang berkarakter bedegong disebabkan oleh ketidak-mampuannya mengikuti alur proses transformasi nilai dan informasi baru yang lebih baik dari nilai dan informasi yang diyakininya benar. Namun, tak jarang, seseorang berkarakter bedegong, karena memang watak yang terbentuk dari lingkungan sosial dan proses aktualisasi dirinya yang liar tak berformat.

Dalam konteks pengaruh lingkungan sosial dan proses aktualisasi diri, seseorang bisa bedegong, lantaran terlalu sering berada dalam lingkungan yang salah. Misalnya, lingkungan sosial yang memanjakan kejumawaan. Bisa juga terbentuk oleh lingkungan sosial yang memanjakan sikap ‘karepé déwè’.

Dari pengalaman hidup selama ini, banyak kita temukan orang-orang terjebak dalam karakter bedegong di berbagai lingkungan sosial. Misalnya, di lingkungan kampus, birokrasi, partai politik, bisnis, dan kesenian. “Keterpurukan bangsa ini, misalnya, juga tak terlepas dari karakter ini.  Terutama, ketika dinamika kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya meninggalkan dan menanggalkan etika atau fatsoen,” lanjut Autina.

Ke-bedegong-an politik, umpamanya, jelas Autina lagi, menimbulkan perilaku politik yang bisa membunuh demokrasi berbasis musyawarah dan mufakat. Tidak saja karena berujung pada disharmoni sosial, melainkan juga karena tidak mampu menerima realitas. “Jadi, apa yang nampak pada realitas politik selama ini, misalnya pada penyelenggaraan pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah, merupakan ekspresi kongkret ke-bedegong-an politik,”tanya Musqila.

Autina mengangguk. “Sikap ‘siap kalah siap menang’ yang sangat indah, menjadi sangat buruk, ketika dihampiri dengan reaksi bebal, tanpa akal sehat menerima kekalahan,” jelas Autina lagi.

“Bagaimana dengan transaksi money politic dalam pragmatisme politik?” sambung Sopiga. “Ya begitulah,”jawab Autina tangkas. Ketiganya tertawa.

“Ironisnya, sebagian orang yang sangat ambisius berkuasa atau hendak menguasai suatu institusi sosial, politik, dan ekonomi sering sangat sibuk mengatas-namakan rakyat. Menasbihkan diri sebagai wali rakyat,”lanjut Autina.

Musqila menatap Autina yang tersipu. “Tak mudah menghilangkan ke-bedegong-an dalam kehidupan sosial kita,”tukas Autina sambil menjeling. Sopiga lekas menukas, “Mudah-mudahan, kita tidak termasuk golongan orang berkarakter demikian,”katanya. Percakapan terhenti, lantaran kereta commuter line yang mereka tumpangi, berhenti di stasiun Pintu Air.. Happp.. ! Musqila bangkit dari tempat duduknya. | 

Editor : sem haesy
 
Energi & Tambang
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2646
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 675
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 1110
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
21 Sep 18, 09:06 WIB | Dilihat : 309
Giliran Direksi Pelindo III Dirombak
20 Sep 18, 12:28 WIB | Dilihat : 536
Matamu Itu !!!
18 Sep 18, 14:31 WIB | Dilihat : 404
Kwik Kian Gie Penasihat Prabowo Sandi
Selanjutnya