Abu Waswas dan Kucing

| dilihat 275

Celoteh Bang Sem

MALIN Kundang kembali mengumpulkan seluruh anggota Gerakan Berudu di Balairung. Pahit Lidah duduk mendampinginya. 

Abu Waswas yang dinobatkan menjadi penasehat, duduk di sebelah Malin Kundang.

Mereka sedang bercakap ihwal strategi penguatan dukungan suara untuk kandidat Presiden-Wakil Presiden yang didukungnya.

Maklum, pasangan Jakatingkir dan Ki Nara yang diusungnya sedang risau. Tren perolehan suara yang berkembang tidak menggembirakan.

Jakatingkir juga yang bicara pada Malin, proyeksi elektabilitasnya dibandingkan dengan kandidat oposan, sekarang sudah berimbang. Itu maknanya, proyeksi elektabilitas dia menurun.

Oyot yang sedang berada di dapur Balairung, tengah sibuk menyiapkan minuman untuk peserta rapat, ditemani seekor kucing.

Binatang berbulu halus, itu memang karib dengan Oyot. Bergerak melingkar mengelilingi kaki Oyot. Ketika tutup gelas Malin terjatuh, sang kucing sigap memasang badannya. Oyot tersenyum. Apalagi dengan kedua tangannya, kucing hitam itu menjepit penutup gelas, lalu dengan gerak sirkus mengangkatnya.

Oyot pun sigap mengambil tutup gelas, itu. Lalu mengelus-elus kepala kucing yang dia beri nama, Aa' Meong.

Malin Kundang telah usai memberi pengarahan, ketika Oyot masuk ke arena rapat diikuti kucingnya. Oyot tak mendengar apa yang diarahkan Malin, kecuali pesan sederhana di ujung pengarahan dari Pahit Lidah.

“Kita perlu ubah strategi, tak lagi bertahan, tapi menyerang lawan. Siapkan pasukan troupes têtard alias pasukan berudu untuk beraksi. Kita harus turunkan elektabilitas lawan,” ujar Pahit Lidah.

Oyot meletakkan minuman di dekat Daeng Te’ne, yang lantas meneruskan ke seluruh peserta briefing itu. Seketika itu, kucing hitam Oyot melangkah perlahan ke dekat Pahit Lidah, yang segera mengusirnya. Kucing hitam itu menatap Pahit Lidah dengan mata nyalang.

Abu Waswas yang diberi kesempatan memberi tausiyah sedang mati angin. Begitu melihat kucing hitam, sekelebat muncul gagasan.

Oyot berhenti sesaat, ketika Abu Waswas memulai tausiyahnya.

“Dalam memenangkan kandidat kalian, sebaiknya kalian menggunakan strategi kucing,” ujarnya. Pahit Lidah yang tak begitu suka dengan kucing, segera menoleh.

“Lihatlah bagaimana kucing mengeong di kegelapan. Pun, perhatikan bagaimana kucing bersiasat atas anjing. Ada situasi kucing bergeming di posisinya, meski anjing menyalak terus menerus. Lalu menatap mata anjing, kemudian melengos dan pergi,” ungkap Abu Waswas.

"Tapi, adakalanya kucing tak perlu membuang waktu untuk peduli pada anjing,” sambung Abu Waswas.

Kabayan mengangguk. Pak Belalang mencoba membayangkan strategi Abu Nuwas, itu. Sangkuriang menyimak serius. “Coba perhatikan kucing hitam Oyot,” seru Abu Waswas.

Oyot bereaksi. “Ma’af, wan.. Oyot bukan kucing,” cetusnya. Suasana pecah dengan tawa.

Pahit Lidah kesal dan menyergah. “Wan Abu tidak menyebutmu kucing..,” ujarnya sambil melotot. Oyot menunduk. Abu melanjutkan, sehingga semua mata memandang ke arah kucing hitam di dekat Oyot.

“Perhatikanlah seluruh gerak geriknya. Ketika hidungnya mengendus bau tikus, dia segera waspada dan mengintai di mana posisi tikus. Ketika hidungnya mengendus ikan, kucing segera bergegas ke arah ikan berada. Dan ketika tak ada yang harus diwaspadai, kucing dengan rileks bergerak ke manapun dia suka,” jelas Abu Waswas.

Semua serius mendengar tausiyah itu. Mereka menarik nafas lega, ketika Abu Waswas mengakhiri tausiyahnya.

“Dari kucing, kita belajar kecermatan, sehingga kita mengerti pada saat mana kita harus diam menyimak, saat mana kita harus mengeong di kegelapan,” ujarnya.

Briefing usai. Kabayan dan Pak Belalang yang belum paham seluruh tausiyah Abu Waswas, sibuk mengintai ke mana Oyot pergi. Keduanya mengendap-endap, laiknya kucing. Tapi kelakuan keduanya membuat Oyot kesal.

“Kabayan, Pak Belalang, apa sih yang kalian lakukan? Kalian mencurigaiku mengurangi jatah kopi kalian? Sungguh mati, tak ada yang kukurangi jatahnya,” ungkap Oyot.

Dia ngakak begitu paham, kedua sobatnya sedang berguru pada kucingnya. Oyot bicara sesuka hati, "Sampaikan kepada Wan Abu. Bila kucingku yang dijadikan amsal, percayalah kita akan kalah."

"Mengapa?" tanya Pak Belalang.

"Kucingku baru gesit kalau diberi ikan dulu. Tanpa ikan, dia hanya bisa duduk tertidur di sudut dapur," jawab Oyot. Kabayan menggaruk-garuk kepalanya. |

 

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
13 Mar 19, 12:55 WIB | Dilihat : 417
Syafakilah Bu Ani Bambang Yudohoyono
11 Mar 19, 01:16 WIB | Dilihat : 359
LKB Telangkai Silaturrahmi
07 Mar 19, 10:55 WIB | Dilihat : 292
Cikgu Mad Selalu Mendoakan Prabowo Subianto dari Jiran
Selanjutnya
Energi & Tambang