6174

| dilihat 1253

N. Syamsuddin Ch. Haesy

SEPEKAN terakhir saya sangat terganggu dengan bilangan – bilangan pengganggu ketenangan komunitas, yaitu rangkaian bilangan 1811 dan 268. Bilangan pertama jatuh pada angka 30 yang menimbulkan stagnansi gagasan. Utamanya, saat saya dan kawan-kawan sedang ikhtiar menjangkau 7 tahun mengusung gagasan positif.

Tak bisa tidak, sesuai dengan kumulasi jumlah akhir bilangan (30), saya harus menggunakan akal sehat untuk tidak menjadi bagian dari upaya memengaruhi komunitas masuk ke dalam skema yang bisa mengganggu banyak pihak. Saya harus berpijak pada obyektivitas, karena situasi menghadapkan saya pada sikap dan pandangan subyektif melihat persoalan yang menghadang.

Pada suatu titik tertentu, saya berfikir harus bersikap lebih ringan menghadapi masalah dan optimistis dalam mendekati persoalan, sehingga mampu memberi solusi yang dapat memuaskan (paling tidak memenuhi hasrat) para pihak yang terjebak masalah laten: kesejahteraan karyawan yang buruk. Apalagi sejumlah kolega yang paling kompeten memecahkan masalah, memilih jalan mundur dari garis demarkasi persoalan.

Sudah berulang kali, mereka yang berada pada bilangan pribadi : 30, 16, dan 8 harus berbeda pandangan secara diemtral ketika masalah muncul.

Beberapa kolega juga memilih mundur ke beberapa tempat yang aman dan berharap tidak harus berurusan dengan masalah itu. Menjadi safety player yang tak mau ambil risiko. Namun ketika persoalan menemukan jalan buntu, akibat bebalnya kolega yang harus mengambil keputusan, juga melakukan hal yang sama: memilih jalan aman dan cuek.

Sejumlah kolega lain bersama saya, akhirnya harus memburu kejelasan dengan kemampuan analitis pikiran sesuai dengan wawasannya masing-masing. Meskipun semuanya berpandangan sama: di setiap persoalan, pasti ada jalan jelas sebagai solusi. Akibatnya, kami harus terus berkutat dengan pekerjaan yang secara institusional sudah melelahkan dan menjengkelkan.

Apa boleh buat, karena posisi saya ada pada bilangan yang sama (3) harus sekuat tenaga tidak masuk ke dalam pusaran masalah. Sekaligus perangkap pembuat masalah dengan bilangan personal 19. Maka tak bisa tidak, bersama para kolega senasib sepenanggungan, harus mengelola kekuatan dari diri masing-masing. Terutama, karena komunitas telah menjadi ajang berbagi masalah dan gerundelan.

Celakanya, para pembuat masalah justru melakukan pembiaran yang bebal. Persoalan kian kuat menekan, ketika bilangan aneh yang menyebalkan itu muncul: 6174 dan 64707.  

Bilangan-bilangan ini mengisyaratkan, solusi besar untuk menghadapi masalah laten harus menghadapi kendala baru. Yakni: ketidak-mauan bertoleransi terhadap derita orang banyak. Maka, daya fikir positif dan kreativitas terblokade. Satu-satunya yang masih dimiliki adalah mengandalkan keberanian sebagai senjata untuk memecahkan masalah.

Seperti analisis Dr. Kaprekar Depvalali: 6174 memang bilangan misterius yang menimbulkan dampak terjadinya friksi dan konflik antara realitas pertama dengan gagasan negatif yang dibungkus tema besar: solusi permanen.

Akhirnya saya merujuk pada pandangan Yukio Yamamoto. Menghadapi peristiwa yang timbul sebagai akibat dari masuknya bilangan misteri 6174 (friksi antara orientasi kapital dan orientasi kreativitas dan mission), tak bisa tidak, saya mesti mengambil sikap yang pahit. Yaitu mengambil jalan tegas: berhenti dari aktivitas rutin dan reguler dan melihat seluruh dinamikanya sebagai masa lalu.

Lalu? Membentang jalan sendiri. Jalan baru. Siapa saja yang dalam kehidupannya kelak terhadang oleh bilangan 6174 atau 7 : 11 atau 14: 4 pilihannya memang hanya satu, yaitu: tak menjadi bagian dari gagasan yang lebih besar mudharat daripada manfaatnya, yang menekan community hope. | Haedar

Editor : N Syamsudin Haesy
 
Budaya
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 540
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 373
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 490
Tilik Literasi Betawi
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 617
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
Selanjutnya
Lingkungan
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 170
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
13 Sep 19, 21:15 WIB | Dilihat : 188
Asap Menyergap Udara Pengap Petinggi Bersilang Cakap
28 Agt 19, 14:56 WIB | Dilihat : 256
Menyimak Samboja - Sepaku, Membayangkan Naypyidaw
03 Agt 19, 00:30 WIB | Dilihat : 387
Mencermati Politisasi Sampah dengan Ekologi Politik Kota
Selanjutnya