Yojana Budaya

| dilihat 1794

JEJAK peradaban suatu bangsa berkembang selaras dengan perkembangan kebudayaannya. Di dalamnya perkembangan seni tradisi, sains, dan teknologi. Seni tradisi dalam banyak hal dipengaruhi oleh orientasi nilai hidup manusia dalam proses interaksinya dengan alam, manusia sesama, dan Tuhan. Itulah sebabnya pada seni tradisi, kita temukan begitu banyak aspek. Antara lain spiritualitas, magis, dan kebiasaan-kebiasaan alamiah (natural habits).

Intensitas seluruh aspek itu dalam kehidupan manusia, kemudian menjadi dimensi nilai dasar. Bagi masayarakat Indonesia yang dipengaruhi banyak oleh dinamisme, animisme, politeisme, dan akhirnya monoteisme, seni tradisi merupakan padanan harmonis manusia dengan alam sekitarnya.

Habitat manusia dan alam, memberikan pangkal pemikiran dan daya kreatif manusia untuk mengekspresikan berbagai pemahaman mereka mengenai hidup dan kehidupan. Melalui berbagai karya sastra tradisi, yang memengaruhi perkembangan seni tradisi lainnya, kita menemukan korelasi integratif seni tradisi dengan ekspresi budaya masyarakat yang eksis hingga saat ini.

 Apa yang kita sering lakukan di negeri ini, dengan berbagai ritual, adalah bukti kongkret bagaimana seni tradisi tak terpisahkan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Di dalam dharma çiksakanda, sepuluh ajaran kehidupan bagi manusia, misalnya, diuraikan dengan terang korelasi nilai hidup manusia dengan alam.  Itulah sebabnya, seni tradisi sering juga disebut sebagai natural art: seni yang dilahirkan oleh alam.

Natural art, tak hanya menghasilkan karya-karya artistik, karena di dalamnya terintegrasi dengan kuat pemahaman estetik dan etik dalam satu kesatuan yang utuh. Ketika dharma çiksakanda mengisyaratkan manusia mesti belajar pada habitat satwa dan tetumbuhan untuk mengenali alam lebih jauh, hampir seluruh seni tradisi kita mengekspresikannya secara impresif edan ekspresif.

Apa yang kita lihat dan rasakan sebagai ekspresi seni tradisi masyarakat Indonesia, merupakan produk daya kreatif dalam memahami dan menerjemahkan dinamika alam. Seni tradisi berhubungan dengan tanah dan air. Itulah yang kita temukan dalam berbagai ritual yang menjelma menjadi kesenian. Mulai dari tanah Papua, sampai Pulau We di ujung Barat. Karenanya, seni tradisi juga sering disebut sebagai motherland art.

Lambang-lambang yang terdapat dalam cabang seni rupa tradisi, pun terintegrasi dengan seluruh anasir yang terdapat pada alam. Batik, Sutra, Tenun Ikat, Sarung, dan Songket, adalah contoh kongkret tentang hal itu. Pun demikian halnya dengan tifa, kendang, gondang, dan berbagai instrumen musik perkusi tradisional. Meskipun gong, kenong, kempul, saron, dan alat tetabuhan nayaga merupakan produk budaya import yang masuk bersamaan dengan masuknya ajaran Hindu dan Budha.

Akan halnya Pakacaping, Sasando, Sintren, dan Kecapi merupakan instrumen musik string, produk seni tradisi yang berkembang secara khas di lingkungan masyarakat Dayak, Bugis, Rote, Jawa, Sunda, dan Batak. Berbeda dengan Ukulele yang dibawa oleh penjajah Portugis. Produk yang sama ditemukan di Champa, Thailand, Vietnam, dan China.

Yojana, proses kreatif seni tradisi, pada masanya merupakan vision treathment masyarakat tradisi dalam mempertahankan dan mengembangkan ekspresi budayanya. Inilah daya hidup seni tradisi, yang mengikat seluruh kalangan. Mulai dari jelata sampai raja. Karenanya, begitu banyak produk seni tradisi yang merupakan karya kreatif para raja. Terutama dalam bentuk tarian. Ngremo, Rimbe Bedaya, dan Pakarena, misalnya boleh disebut sebagai salah tiga dari begitu banyak karya kreatif kaum bangsawan.

Dimensi lain seni tradisi, kita dapatkan dari begitu banyak karya sastra tradisi, atau sastra lisan: puisi, prosa liris, tembang, dan sejenisnya. Mulai dari sastra bertendens berdimensi istana sentris, sampai sastra religius, dan sastra pembebasan. Hikayat Perang Sabil, Dai dangdo, Gurindam 12, Tajussalatin, Saman, Syech-sechan, Rumpaka, Mocopat, Uro-uro, Sinrilik, Carita Parahyangan, Negara Kartagama, Sure I la Galigo, adalah sedikit dari begitu banyak karya sastra tradisi yang kita miliki. Belum lagi mantra, jangjawokan, dan jampi.

Rumpun seni tradisi, lahir dari proses interaksi manusia dengan alam dan Tuhan. Karenanya, dimensi seni tradisi sedemikian beragam, dan selaras dengan perkembangan sains dan teknologi, berkembang terus. Boleh jadi, akan meninggalkan jamannya dari masa ke masa. Saya memandang, proses perkembangan peradaban (civilization development) suatu bangsa tak bisa membebaskan dirinya dari seni tradisi.

Upaya memelihara seni tradisi, dengan demikian, tidak bisa lagi dilakukan secara sambil lalu. Terutama bila dihubungkan dengan seluruh upaya melakukan proses pemberdayaan, untuk mencapai kualitas hidup manusia. Dalam konteks itulah, kita memandang, tak relevan lagi menjadikan urusan pengembangan kebudayaan sebagai part of tourisme industry. Apalagi hanya sekadar bagian dari industri kreatif semata.

Semestinyalah kita menguatkan komitmen dan tanggung jawab peradaban (civilization responsibility) untuk terus menghidupkan seni tradisi, secara kontemporer. Hal ini penting, agar seni tradisi kini, tak lagi hanya motherland art di punggung peradaban. | N. Syamsuddin Ch. Haesy

Editor : sem haesy
 
Polhukam
01 Jul 20, 19:43 WIB | Dilihat : 84
Memahami Ideologi
15 Jun 20, 23:20 WIB | Dilihat : 277
Menebar Virus Akalbudi Kemuliaan Melayani Rakyat
07 Jun 20, 23:14 WIB | Dilihat : 851
Jakarta Bergerak Menuju Peradaban Baru
06 Jun 20, 15:47 WIB | Dilihat : 676
Trump Sebabkan AS sebagai Adidaya Disfungsional
Selanjutnya
Humaniora
05 Jul 20, 19:40 WIB | Dilihat : 83
Negara Bertanggungjawab Prioritaskan Kaum Tuna
01 Jul 20, 20:27 WIB | Dilihat : 103
Misu Misu
10 Jun 20, 21:37 WIB | Dilihat : 726
Abdul Buthun versus Insaniadiy Menghadapi Petaka
03 Jun 20, 22:49 WIB | Dilihat : 359
Sapu Lidi
Selanjutnya