Wisata Budaya Menyehatkan Jasmani Ruhani

| dilihat 1188

SEJUMLAH teman dari Perkumpulan UMA (Usaha Memajukan Anakbangsa) mempunyai beragam cara untuk menggembirakan hidup. Melakukan penyegaran, sehingga bisa terus kreatif dan produktif beraktivitas.

Para mantan aktivis mahasiswa di jamannya yang sudah ‘melanglang’ ke berbagai profesi (politisi, dosen, pengusaha, eksekutif profesional, advokat, notaris, dan birokrat) memilih cara kebugaran melalui jalan sehat, memelihara kecerdasan melalui diskusi, dan menghidupkan silaturrahim dengan kumpul reguler.

Outputnya: gagasan-gagasan dan aksi kreatif dengan menerapkan pola relasi berbasis ekuitas – ekualitas, bersandar pada kesantunan yang lazim, serta sikap saling berkontribusi.

Tentu dengan menerapkan pengalaman masing-masing, mengelola aktivitas mandiri sesuai dengan standar kewajaran, akuntabilitas, responsibilitas, dan kemandirian.

Beberapa kali saya ikut serta dalam aktivitas jalan sehat, travelling, untuk mengenali keragaman budaya, penyegaran wawasan tentang sejarah dan nilai budaya, baik di dalam negeri maupun negara-negara serantau. Tak terkecuali menjalin kerjasama antara bangsa dan menjalankan people diplomacy.

Saya teringat Jessica Festa, seorang penulis khas pelancongan di laman Matador. Festa menulis, model perjalanan bersama teman sepumpun (kolega sesama mantan aktivis), adalah model perjalanan yang sesungguhnya merupakan ‘gaya pengorbanan’ paling menantang.

Model perjalanan semacam itu, tanpa diminta, telah dengan sendirinya mengatur setiap orang untuk disiplin. Siapa saja, disepakati sebagai pimpinan yang mengorganisasi aktivitas semacam itu. Mulai dari menggagas rencana dan agenda perjalanan, mengaatur transportasi dan akomodasi, sampai mengagendakan acara-acara yang bisa menjadi katarsis.

Perjalanan semacam ini, juga memberi ruang sangat luas bagi setiap orang yang berada dalam rombongan untuk meluruhkan egosentrismanya. Kemudian larut dalam kesahajaan personal, melepaskan atribut dan simbol-simbol struktural yang melekat pada dirinya.

Inilah model perjalanan yang, menurut Festa, tidak hanya menyenangkan, tapi membantu mereka masing-masing memperkuat ikatan dengan orang-orang yang spesial dalam hidup masing-masing.

Aktivitas yang semacam ini, menghimpun yang terserak, mendekatkan yang jauh, mengkaribkan yang dekat, dan membangun komitmen soliditas untuk saling memuliakan di antara sesamanya.

Situasi yang terbangun melalui aktivitas yang dilandasi oleh silaturrahim secara sukacita dan sukarela, itu menjadi titik temu masing-masing karakter dan performa persona masing-masing.

Perjalanan semacam ini, tulis Festa selanjutnya, beda rasanya dengan perjalanan bersama keluarga, isteri, dan kekasih. Ketika isteri dibawa serta, perjalanan semacam ini, memberi aksentuasi terhadap hakekat keluarga dalam dimensi yang lebih luas.

Ambillah contoh perjalanan mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah. Selain mampu menyeret setiap orang dalam rombongan ke peristiwa-peristiwa bersejarah. Juga menguatkan pengalaman masing-masing personal dalam berinteraksi dengan sejarah, dan nilai-nilai yang diperoleh dari dokumenta dan monumenta historia yang dikunjungi.

Dalam pandangan Frankie Rendón, seorang traveller yang gemar melakukan perjalanan wisata bersama dengan teman-temannya semasa SMA dan universitas, selain memperkaya egaliterianisma. Juga membangun kesadaran tentang kolektivitas dan kolegialisma.

Menurut Rendón, “Jika Anda, bagian dari jutaan profesional yang sering bepergian untuk bisnis, perasaan Anda mungkin campur aduk, antara pemenuhan agenda sebagai kewajiban, dengan hasrat wisata.”  

Kendati melalui kunjungan bisnis dapat mengunjungi lokasi baru yang belum terkunjungi, selepas membuat kontak bisnis, secara inner personal, seringkali padatnya agenda membuat lelah.

Lantas melenyapkan tuntutan untuk berkunjung ke berbagai obyek wisata dalam jangka waktu lebih lama. Kunjungan bisnis, selain menyebabkan kelelahan fisik dan mental, juga membuat kehidupan terasa berat.

Dan ini yang penting. Menurut Rendón, bepergian untuk pekerjaan dengan waktu yang lama, berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi mereka yang sudah menikah atau dalam hubungan yang serius. Dering telepon, video call, dan sebagainya bisa jadi sangat mengganggu. Akhirnya membuat stres dan melelahkan kedua belah pihak.

Karenanya, perjalanan yang terbebas dari formalitas, bebas kepentingan, kecuali merayakan kebahagiaan dan kegembiraan hidup, membuka peluang untuk justru memperkaya dimensi cinta dalam berumah-tangga.

Perjalanan seperti yang kerap dilakukan oleh para aktivis Perkumpulan UMA, yang sudah terbebas dari formalitas dan lebih banyak melahirkan inisiatif dan gagasan-gagasan baru, justru meniadakan persoalan jarak geografis dengan pemenuhan kebutuhan emosional satu sama lain.

Beragam pola komunikasipun menyeruak dalam perjalanan semacam itu. Khasnya, karena komunikasi yang terjadi, amat sangat cair, tidak formal, memadu-padan kelakar dengan value share yang menyegarkan.

Dampaknya adalah kesehatan jasmani dan ruhani.

Apalagi, komunikasi merupakan kunci untuk hubungan yang saling mengisi, dan perjalanan semacam itu, secara alamiah menguji keandalan pribadi untuk bersikap open mind, non strukturalis, dan membebaskan individu dari kemungkinan sebagai depresan.

Rendón mencatat, dalam aktivitas perjalanan yang gembira, dengan silaturrahim yang diwarnai oleh kegembiraan, melatih kematangan simpati dan empati. Dan komunikasi yang terjalin, menjadi terbuka dan hidup.

 Menurut Rendón, perjalanan semacam itu, setiap persona tanpa diminta akan bersikap terbuka dan jujur. Setiap orang tak hanya memperhatikan keperluan pasangan, melainkan keperluan seluruh anggota rombongan. Dalam situasi itu, "bahasa cinta" menjadi bahasa yang mengemuka dalam komunikasi positif.

Perjalanan semacam itu, komunikasi face to face antar personal dan sosial membentuk community code of conduct. Dialog setara dan saling paham, membentuk mentalitas "di luar kepentingan personal dan pikiran individual,” menjadi kenyataan dan nilai baru.

Perjalanan semacam ini, beranjak dari kesepahaman dan kesetujuan pada budget dan cara mengkoleksi, mengelola, dan mempertanggungjawabkannya, serta cara melayani antar sesama. Hal ini akan menghadirkan prinsip ‘ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.’

 Selebihnya, perjalanan semacam ini dengan segala sukacita dan ragam pengalaman dan ceritanya, membangun kesadaran untuk menjaga para sahabat sebagai mitra dengan proksimitas yang saling menguatkan dan memuliakan. Terutama, ketika setiapkali usai melakukan perjalanan, masing-masing individu saling mengucapkan terima kasih dan maaf, saling menempatkan diri pada posisi yang humble.

Selebihnya, lokasi yang menjadi tujuan perjalanan, memberi nilai tersendiri yang monumental sebagai pengalaman dan kenangan yang tak dapat dihapus dengan apapun. Sekaligus menjadi perekat, ketika dalam keseharian terjadi friksi. Inilah esensi silaturrahim yang terbentuk dalam perjalanan wisata.

Selalu mendulang nilai-nilai positif dan memperbaiki hal-hal yang masih negatif. Karenanya, perjalanan semacam ini, hanya mungkin diikuti oleh mereka yang seirama dalam nalar dan rasa.|  SemHaesy

Editor : sem haesy | Sumber : Foto-foto Perkumpulan UMA
 
Ekonomi & Bisnis
Sainstek
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 1705
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 435
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
23 Des 16, 05:31 WIB | Dilihat : 452
Menanti Kehadiran Penghasil Listrik Berteknologi Nano
16 Des 16, 07:34 WIB | Dilihat : 667
Oasis, Mobil Unik dengan Kebun Mini
Selanjutnya