Reog Ponorogo

Tukon untuk Dewi Sanggalangit

| dilihat 2654

REOG, kesenian khas, aseli Ponorogo yang dulu bernama Wengker, itu memang khas. Kian dipelajari, kian menarik kisahnya.

Boleh jadi, inilah produk kesenian tradisional Indonesia, yang sedemikian unik. Kesenian yang memadukan seni musik, tari, dan seni rupa, dengan topeng harimau dan bulu merak sebagai ikon-nya, tak berhenti hanya pada sekadar penampang seni pertunjukan tradisional belaka. Banyak anasir budaya di sebaliknya.

Alkisah, kesenian Reog Ponorogo, berpangkal dari keelokan Dewi Sanggalangit, puteri raja Kediri yang cantik rupa elok budi. Karenanya, banyak diminati para raja dan pangeran, meski ia sendiri sungguh menikmati kelajangannya. Enggan disunting oleh siapapun.

Berkat bujukan ayahnya, Raja Kediri, luluh juga hatinya. Ia meminta calon suaminya, mesti memenuhi syarat yang dimintanya. Untuk mengetahui apa yang harus dipenuhi calon suaminya, Sang Dewi semadi selama tiga hari tiga malam.  Ternyata, sang Dewi meminta suaminya, mempersembahkan tontonan unik, yang sanggup memikat hatinya.

Tontonan itu berupa tarian, diiringi tetabuhan, gamelan, dan suara yang tak pernah dia dengar sebelumnya. Ia juga meminta 140 ekor kuda kembar, yang kelak akan menjadi pengiringnya, serta seekor binatang berkepala dua.

 Permintaan Dewi Sanggalangit ini, menyurutkan hasrat para raja dan pangeran. Tinggallah Raja Singabarong dari Kerajaan Lodaya, dan Raja Kelanaswandana dari Kerajaan Wengker yang siap berkompetisi.

 Raja Kediri tersentak, karena yang sanggup berkompetisi merupakan dua raja aneh.  Raja Kelanaswandana, yang berwajah tampan dan gagah, berperilaku aneh. Ia suka anak laki-laki tampan sebagai gemblak, yang diperlakukannya laksana gadis cantik.

Akan halnya Raja Singabarong merupakan  manusia yang berkepala harimau. Perangainya kejam, dan buas. Suka memerintah burung Merak mematuki kutu di kepalanya. Tak hanya itu, Raja Singabarong mempunyai selir yang banyak sekali, namun belum mempunyai permaisuri.

Baik Raja Kelanaswandana maupun Raja Singabarong, patuh pada Kutara Manawa, undang-undang perkawinan yang berlaku di Majapahit, yang sangat mementingkan warna (kesederajatan), laksana Rama dan Shinta.

Keduanya tak ingin melakukan perkawinan anuloma, dimana pihak laki-laki berderajat lebih tinggi, atau pratiloma, perkawinan dimana pihak perempuan lebih tinggi derajatnya.

Meski diizinkan dalam Kutara Manawa, keduanya ingin mempersunting Dewi Sanggalangit, agar perkawinan mereka tak mengalami masalah di kemudian hari, hanya karena persoalan warna. Tapi, justru karena kompetisi semacam itu, akhirnya terjadi konflik besar antara Kelanaswandana dan Singabarong.

Tukon Abadi

UNTUK memperoleh 140 kuda kembar pengiring sang Dewi, keduanya relatif tak menghadapi masalah pelik. Mereka justru terbentur pada tontonan unik dengan kreasi yang belum ada sebelumnya.

Pun, demikian halnya dengan binatang berkepala dua. Oleh sebab itu, keduanya mengatur taktik dan strategi untuk menyunting Dewi Sanggalangit.

Ternyata Kelanaswandana lebih unggul. Hampir seluruh syarat bisa dipenuhi. Hal itu membuat Raja Singabarong marah besar, lalu memerintahkan prajurit Lodaya menyerbu Kerajaan Wengker. Raja Singabarong berusaha menjegal Raja Kelanaswandana yang adil bijaksana, itu.

Hasrat Kelanaswandana meminang Dewi Sanggalangit mendapat dukungan besar dari seluruh petinggi, prajurit, dan rakyat Wengker, lantaran ia ingin berhenti dari kebiasaan meng-gemblak. Karena itu, mereka berusaha keras memenuhi syarat Dewi Sanggalangit.

Ketika tahu Rajabarong akan menjegal rajanya, seluruh prajurit dan rakyat Wengker, menyerang kerajaan Lodaya lebih awal. Dan menang, saat Raja Singabarong yang terantuk tidur menikmati patukan Merak di kepalanya, tak sadar kerajaannya segera binasa.

Ketika terjaga, Kelanaswandana sudah berada di hadapannya. Dan dengan kesaktiannya, mengubah kepala Singabarong menjadi dua, dan burung Merak yang mematukinya, menyatu dengan kepalanya.

Singabarong bereaksi, menghunus kerisnya. Tapi, kalah cepat, dengan sabetan Samandiman, cambuk sakti Kelanaswanda yang mengeluarkan hawa panas dan menggelegar, bak halilintar. Seketika, sosok Raja Singabarong terpental, menggelepar, lalu berubah menjadi binatang berkepala dua: kepala harimau dan merak.  

Raja Kelanaswandana, pun berhasil menyunting Dewi Sanggalangit di Kediri. Ia datang bersama kesenian kreasi yang belum tercipta sebelumnya, yang dia beri nama reog, 140 kuda kembar, dengan suara tetabuham, gamelan, dan terompet aneh. Perpaduan suara dan iramanya aneh: ritmik, sekaligus melodius. Ditambah seekor binatang berkepala dua yang menari-nari liar, itu indah dan menarik hati Dewi Sanggalangit.

Sang Dewi pun dibawa ke Wengker (kini Ponorogo). Sebagai tukon (mahar) abadi bagi Dewi Sanggalangit, sang permaisuri, kesenian reog disajikan terus menerus. Dan konon, tradisi menggemblak yang sudah dihentikan Raja Kelanaswandana, justru diikuti oleh para warok, pemimpin reog. | sem haesy

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Energi & Tambang
Polhukam
01 Jul 20, 19:43 WIB | Dilihat : 80
Memahami Ideologi
15 Jun 20, 23:20 WIB | Dilihat : 274
Menebar Virus Akalbudi Kemuliaan Melayani Rakyat
07 Jun 20, 23:14 WIB | Dilihat : 844
Jakarta Bergerak Menuju Peradaban Baru
06 Jun 20, 15:47 WIB | Dilihat : 669
Trump Sebabkan AS sebagai Adidaya Disfungsional
Selanjutnya