Sumpah (Serapah) Pemuda

| dilihat 457

Néena Aimée

Zaman bergerak ke masa depan dan tak kan pernah kembali ke masa lalu, meski tokoh masa lalu, seperti Bung Karno menyeru, jangan pernah melupakan sejarah.

Di masa lalu memang sangat banyak peristiwa yang terhubung dengan masa kini.

Tak hanya beragam peristiwa perang melawan penjajah sejak abad ke 16 dan 17 untuk memperjuangkan keadilan melalui kemerdekaan. Tapi juga penghianatan sejumlah pemimpin terhadap gagasan perlawanan kepada penjajah.

Di masa lalu tercatat berbagai peristiwa penting yang dicatat sebagai bagian tak terpisahkan dari seluruh proses eksistensi kebangsaan Indonesia.

Mulai dari berdirinya Sarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan di Laweyan - Solo yang kemudian berubah menjadi Syarikat Islam oleh Omar Said Tjokroaminoto, berdirinya Jami'at Khaer, Perkumpulan Bangsawan Jawa dan Madura 'Boedi Oetomo,' Persyarikatan Muhammadiyah, Nadlatul Ulama,' Al Irsyad al Islamiyah,   Al Khairat Palu.

Kemudian berbagai perkumpulan: Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Pemoeda Kaoem Betawi, Jong Islamiten Bond, Jong Bataks, Sekar Roekoen Pasoendan, Pemoeda Indonesia, dan Perhimpoenan Pelajar-Pelajar Indonesia yang menggelar Kongres Pemoeda 27-28 Oktober 1928, mengambil putusan -- dan kemudian dikenal sebagai Soempah Pemoeda 1028 :

Pertama, mengaku bertumpah darah yang satu, Indonesia; Kedua, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; dan Ketiga, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Inilah asas yang wajib dipakai seluruh perkumpulan kebangsaan Indonesia, dengan memperhatikan dasar persatuannya, yaitu: kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kepanduan.

Masa lalu juga mencatat berbagai peristiwa yang digerakkan oleh pemuda kaum pelajar, yang memungkinkan terjadinya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 disusul dengan perumusan Undang Undang Dasar 18 Agustus 1945, berdirinya beragam partai politik, Pemberontakan Partai Komunis Indonesia 1948, Republik Indonesia Serikat yang federalis, demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, pergerakan Rakjat Maluku Selatan, PGRS/Paraku (Pasukan Rakyat Kalimantan Utara - Partai Komunis Kalimantan Utara), Pemerintahan Revolusioner Rakyat Indonesia (PRRI) dan Pergerakan Rakyat Semesta (Permesta), Pembubaran Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia oleh Bung Karno, Pembubaran Partai Komunis Indonesia oleh MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat), Fusi Partai Politik, Neo Liberalisme politik, dan berbagai peristiwa lagi.

Sumpah Pemuda di tahun 1928 yang amat berjasa dalam memberi aksentuasi dan bold bagi persatuan Indonesia, yang kemudian termaktub dalam sila ketiga Pancasila -- dan satu-satunya sila yang menggunakan awal per dalam Pancasila yang mengekspresikan pluralisme dan multikulturalisme. Lalu, lewat mosi integralistik, sampai kini lebih dipraktikan dengan awalan ke -- sehingga menjadi kesatuan.

Tapi dalam praktik kenegaraan, Sumpah Pemuda seperti tertambat di masa lalu dan seolah-olah berakhir hanya sampai 1965. Selepas itu, yang berlaku adalah sumpah (serapah) pemuda.

Aksi-aksi kaum pelajar ( mahasiswa ) dan pemuda, sejak 1965 sampai kini, lebih mengekspresikan sumpah serapah pemuda kepada penyelenggara negara dan pemerintahan. Terutama, karena para penyelenggara pemerintahan dan penyelenggara negara, gencar menerjemahkan (kemudian menafsirkan) berbagai dasar substantif negara dan pemerintahan, menurut cara pandangnya sendiri.

Beragam pernyataan rezim politik pemerintahan atas komitmen satu tanah air, satu bangsa, dan untuk menjunjung tinggi bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan tak cukup kukuh dan kuat dalam merespon dan berinteraksi dengan perkembangan cepat globalisasi.

Nasionalisme yang diwawar secara politik masih terkesan sebagai narrow nasionalism, dan kurang punya daya untuk membuka wawasan ke jagad nasionalisme global, yang menuntut inklusivitas dan inovasi dalam menemukan dan merumuskan filosofi baru tentang kebangsaan berbasis keindonesiaan yang religius, humanis, pluralis dan multikultural, demokrasi, dan keadilan.

Bahasa Indonesia tidak serius dikembangkan menjadi bahasa multifungsi yang berskala regional dan global, terutama ketika berinteraksi dengan bahasa Inggris (yang menjadi dasar bahasa program teknologi informasi), bahasa virtual, bahasa data (statistik), bahasa kejiwaan - psikologis, dan bahkan dengan 'bahasa ibu.'

Sistem persekolahan baru sekadar menyentuh titik awal kosmopolitanitas dan egaliterianitas, sebagai bahasa pergaulan dan bahasa persatuan. Belum terasa sungguh inklusif untuk berkembang dalam keragaman fungsi lain, misalnya sebagai bahasa bisnis.

Esensi Sumpah Pemuda dalam narasi 'menjunjung tinggi bahasa persatuan,' bahkan belum sepenuhnya mewujud, dilihat dari kecakapan berbahasa Indonesia para petinggi negeri, mulai dari politisi, pejabat publik, akademisi, jurnalis, bahkan sampai pemandu programa siaran televisi. Terutama dalam kaitannya dengan rasa bahasa, ruh bahasa yang ditopang oleh nilai keindahan dan etika dalam penggunaannya.

Ketidak-cakapan ini yang dalam banyak hal, disadari dan tidak disadari, akhirnya mengubah esensi 'Sumpah Pemuda' menjadi 'Sumpah Serapah Pemuda.'  Perubahan ini yang perlahan dan pasti menghidupkan ekstremisma dan anomali, sebagaimana tercermin dalam berbagai opini terbuka yang menguji keberanian aparatus pemerintah untuk bertindak adil.

Sumpah (Serapah) Pemuda akan terus berkembang dan menjadi 'gaya hidup,' bila pemerintah tak cermat mengelola negara. |

Editor : bungsem | Sumber : berbagai sumber
 
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 706
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1549
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1250
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya
Humaniora
13 Nov 19, 10:15 WIB | Dilihat : 983
Masjid Apung di Tengah Aksi Transformasi Ancol
11 Nov 19, 14:53 WIB | Dilihat : 1016
Mimpi Karyawan di Sebalik Pembangunan Masjid Apung Ancol
04 Nov 19, 15:57 WIB | Dilihat : 988
Amsal Ayam Jago dan Merpati dalam Pernikahan
01 Nov 19, 11:10 WIB | Dilihat : 576
Menyegarkan Komitmen di Tanakita
Selanjutnya