Seni Rupa - Arsitektur dan Identitas Bangsa

| dilihat 2347

KARENA Tuhan Maha indah dan mencintai keindahan, maka kehidupan manusia senantiasa berhubungan dengan seni dan kesenian. Dalam konteks itu, kita memahami pengertian: art is long, life is short dalam makna yang sangat luas. Kesadaran suatu bangsa terhadap peran dan fungsi seni dalam kehidupan sehari-hari, tertampak dalam beragam bentuk. Mulai dari bahasa, hingga seni rupa, dan arsitektur.

Berbagai bangsa dengan peradaban yang berkembang sejak masa silam telah menempatkan seni dan kesenian, sebagai sub sistem dari keseluruhan kebudayaannya. Apa yang bisa kita saksikan di Eropa, Asia, Amerika, Australia, dan sebagian Afrika, menunjukkan kenyataan itu.

Seni rupa berkembang bersama dengan perkembangan seni arsitektur. Tujuh keajaiban dunia di masa lampau: Taj Mahal, Menara Pisa, Borobudur, Taman Gantung, Eifel, Pyramid dan Spinx, dan Tembok China, adalah contoh nyata asumsi demikian. Kemudian berkembang dengan berbagai pencapaian artistik dan estetik dari berbagai bentuk bangunan lainnya. Misalnya: Kota Terlarang China (selepas kaisar Puyi), Trumph de Arc, Big Bang, Patung Liberty, Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah, Kathedral Roma, Twin Tower Kuala Lumpur, dan lainnya dengan kisahnya sendiri-sendiri.

Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia terbilang negara yang pemerintahnya sedang sangat care dalam mengartikulasikan relevansi seni dan kehidupan. Kawasan Putrajaya yang menjadi pusat pemerintahan, sejak dekade 1990-an memadukan hubungan seni dan arsitektur secara harmonis.

Negeri yang sedang memacu diri menjadi yang terbaik di Asia ini, menempatkan kesadaran memadukan seni dan arsitektur dalam keseluruhan konteks pemberdayaan kualitas sumberdaya manusianya. Meski tak bisa dipungkiri, dari sudut pandang ekonomi, pemerintah Malaysia masih menjadikan seni sebagai salah satu komoditas pariwisata.

Di lingkungan Putrajaya, tak hanya bangunan gedung perkantoran (mulai dari Kantor Perdana Menteri Malaysia, Istana Keadilan, Masjid Putra dan Masjid Besi, dan Convention Center) saja yang memadukan seni dan arsitektur. Bahkan jalan dan jembatan pun dibangun dengan memadukan seni dan arsitektur.

MASJID BESI PUTERA JAYA

Identitas Bangsa

ISTANA KEHAKIMAN PUTERAJAYA

AGAKNYA, Malaysia berusaha memadukan seni berbasis tradisi budaya Melayu dan Islam, dengan arsitektur dan teknologi modern. Berbeda dengan Singapore yang lebih mencerminkan paduan budaya modern dengan sekularisma. Namun, bagaimanapun juga, kita menyaksikan hadirnya kesadaran kultural untuk menghadirkan paduan seni dan arsitektur melayu sebagai identitas bangsa yang paling nyata dan kasad mata.

Singapore, mengabaikan dimensi kemelayuan yang menjadi cikal bakal eksistensinya, sejak People Action Party (PAP) berkuasa, lalu mengubah Pulau Temasek menjadi Singapura. Kini, dimensi kemelayuan negara kota ini, hanya tersisa pada beberapa artefak yang sengaja dipelihara dalam konteks heritage semata.

Menyadari pentingnya identitas budaya dan kebangsaan, yang tercermin dalam keterpaduan seni tradisi dan arsitektur modern, beberapa kota di Indonesia melakukan hal yang sama dengan Malaysia. Kota Surakarta dan Pakanbaru, misalnya.

Semangat ini, mewujud, ketika pemerintah kota kembali menggali konsep seni tradisional Jawa yang berpusat di kraton Surakarta dalam keseluruhan upaya menata kota yang dilakukan dengan pendekatan teknologi modern. Pun demikian halnya dengan pemerintah Provinsi Riau, yang senyatanya mewujudkan semangat itu dengan mengembangkan pusat kesenian dan kebudayaan. Termasuk berbagai gallery.

Bagi Malaysia yang sedang bergerak menjadi negara maju berwatak niaga (trader nation), menggali dan memadukan konsep seni rupa tradisional Melayu dan arsitektur modern, merupakan upaya integral untuk menunjukan identitas kebangsaannya. Meski tak sepenuhnya berpegang pada sumpah Hang Tuah: “Tak Melayu Hilang di Bumi”

Berbagai ciri seni rupa Melayu berbasis Islam, ditampakkan dalam berbagai bangunan. Baik secara arsitektural maupun sebagai ornamen design interior berbagai bangunan modern. KLCC (Kuala Lumpur City Center) yang menjadi sentrum peradaban Malaysia modern tidak kehilangan interaksinya dengan Kampung Baru yang khas Melayu. Putrajaya yang memadukan seni tradisi Melayu dengan arsitektur modern, bahkan seolah-olah menjadi pertanda harmonitas budaya Timur – Barat dalam dimensi kekinian.

Akan halnya Malaka, menjadi heritages untuk menyaksikan pertemuan seni tradisi Melayu – berbasis Islam yang dibawa Ibnu Batutah dan Iskandar Zulkarnain, dengan seni arsitektur Eropa yang masuk bersama kekuasaan Alburbeauque dan Raffles. Akan halnya Pulau Penang, memadu padan tradisi Melayu Islam, China, India, dan Eropa.

Kesemua itu, kemudian menegaskan, paduan integral seni rupa tradisional dan seni arsitektur sebagai penampang kasad mata identitas bangsa yang pluralis dan multikultural. Sejarah mencatat, padu padan seni rupa dan arsitektur, tak akan pernah bisa dipisahkan satu dengan lainnya. | Bang Sem

Editor : sem haesy
 
Polhukam
20 Nov 19, 11:24 WIB | Dilihat : 668
Fokuslah Kepada Nasib Korban
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 689
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 204
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
09 Des 19, 09:20 WIB | Dilihat : 87
Skandal Garuda Paling Kebangetan dan Memalukan
02 Des 19, 11:03 WIB | Dilihat : 156
Jalan Tol Sumatera Berdimensi Peradaban
02 Des 19, 10:11 WIB | Dilihat : 131
Ruas Jalan Tol Terpanjang Pecahkan Rekor MURI
Selanjutnya