Seni Dayak Titian Surgawi

| dilihat 187

DAYAK tak hanya etnis asli Kalimantan yang tersebar dari Barat sampai ke Timur, dalam keseluruhan konteks pluralitas bangsa Indonesia. Tak kurang dari 405 sub suku bangsa Dayak dan hidup di pedalaman pulau yang dulu bernama Borneo, itu. 

Pada umumnya, Dayak yang kita kenal adalah Kenyah, Tamyanglayang, Punan, Iban, Punai, Bahau, Pasir, Sangau, Ngaju, Ot Danum, Beriam, Tamambaloh, Ngaju, Benuaq, Kantuk, Pebantan, Katingan, Kahayan, Tunjung, dan lainnya.

Dayak juga dimensi peradaban dalam konteks multikulturalisma Indonesia. Dalam banyak hal, sub sistem budaya Dayak, merupakan refleksi multikulturalisme, karena setiap sub suku mempunyai adat istiadat dan budaya yang beragam, namun mirip satu dengan lainnya.

Bila kita cermati secara seksama, seluruh produk kesenian nyata masyarakat Dayak, kita menemukan ragam seni tari, musik, sastra (termasuk mantra), seni rupa, arsitektur, senjata tradisional, dan lainnya.

Kesamaan dari keseluruhan konsep kesenian Dayak adalah dimensi kedalaman artistika dan estetika yang terdapat di dalamnya.

Kesenian Dayak, sebagai refleksi adat istiadat dan kebudayaan Dayak, menunjukkan intimasi mendalam dan mengakar dengan tiga hubungan kausal manusia – Tuhan – Alam. Karenanya, ekspresi kesenian Dayak yang memadukan dimensi fisik dan metafisik, itu bisa dipandang sebagai the magic expression. Kesemuanya padu padan secara utuh.

Produk-produk kesenian fisik yang memadu -padankan tari, musik, sastra, dan seni rupa menyatu dalam komposisi  beragam komposisi tarian dalam upacara adat, seperti tari Gantar, Enggang, dan Gong, misalnya tak bisa dipisahkan dengan ritual dan dimensi spiritualitas tradisi masyarakatnya yang sederhana dan terkesan natural.

Suasana magis dalam ekspresi seni ritual, justru terasa ketika seni musik yang melatarinya, menimbulkan ragam bunyi harmoni yang khas.

Titian Surgawi

SECARA keseluruhan, dimensi magis kesenian Dayak, dapat dilihat dari konsep keyakinan terhadap nilai-nilai spiritualitas kaharingan. Religiusitas dinamisme yang memadukan ideologi hubungan manusia dengan alam, dan spiritualitas di luar empirisma manusia.

Kesenian Dayak, mengekspresikan pula korelasi manusia dengan kekuatan di luar dirinya, yang sering disebut Jubata, Petara, Ala Taala, Penompa sebagai dimensi Ketuhanan tertinggi. Juga Puyang Gana, penguasa tanah; Raja Juata, penguasa air; Kama Baba, penguasa darat dan lainnya, seperti: Jobata, Apet Kuyangh, dan lainnya.

Kesemua itu, bisa kita peroleh melalui seni tari tradisi mereka, seperti tari Alu dan Tari Belonok Kelenang di Kalimantan Barat, yang hampir punah. Juga tari Ajat Temuai Datai, semacam tarian selamat datang untuk menyambut tamu, sebagai refleksi perdamaian usai berperang.

Di Timur, kita dapatkan tari Enggang, Hudoq, Belian, Gantar, dan tari Gong. Di wilayah Tengah dan Utara, kita dapati ratusan jenis tarian lainnya. Tarian itu berpadu padan dengan latar musik pengiring, termasuk nyelaing, sebanyak tujuh kali, yang merupakan teriakan khas penari Dayak yang menandai sukacita memperoleh kemenangan dalam berperang atau mendapatkan kebahagiaan.

Sebagaimana halnya seni tari, seni musik Dayak pun mempunyai beragam ritme, yang sinergis dengan tari dan peruntukkan pergelarannya dalam ritual adat.

Pada Dayak Tunjung, misalnya, dikenal beragam tetabuhan perkusi: Prahi, Gimar, Tuukng Tuat, dan Pampong dalam jenis gendang. Lalu Genikng, sejenis gong besar; Gong dengan diameter 50-60 cm; Glunikng, instrumen musik pukul yang bilahnya terbuat dari kayu ulin; Jatung tutup, gendang besar berukuran 3 meter dengan diameter 50 cm; dan Jatung Utang, instrumen musik pukul berbentuk gambang dengan 12 kunci nada yang diletakkan tergantung vertikal.

Ada lagi Kadire, alat musik tiup dari pelepah batang pisang dan lima buah pipa bambu untuk beroleh dampak suara dengung. Lalu, Klentangan, alat musik pukul terdiri dari enam gong kecil terususun menurut nada tertentu pada dudukan berbentuk kota persegi, mirip bonang dalam instrumen musik Jawa – Sunda. Juga Taraai, gong kecil yang digantung dan dipukul oleh batang kayu agak lunak.

Lalu instrumen musik string, Sampe, alat musik petik 3 atau 4 dawai yang diberi ragam hias khas Dayak, serta Uding, kecapi Dayak yang terbuat dari bambu atau batang kelapa. Akan halnya instrumen musik tiup, terdiri dari Serunai atau Bangsi, Suling Dewa, Kelai, dan Tompong.

Sebagaimana halnya tarian, musik sedemikian penting dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Karena melalui musik pula masyarakat Dayak mengekspresikan nuraninya. Termasuk jeritan hati dan pujian terhadap daya di luar empirismanya.

Karena itulah, kesenian dalam konteks masyarakat Dayak, merupakan bagian dari jalan spiritual menuju surgawi.

Dalam seni rupa (ketika dipahami secara luas) Dayak, kita dapatkan tak hanya sekadar ornamen yang merefleksikan alam semesta. Karena ekspresi seni rupa, termasuk patung, menjadi bagian integral dalam keseluruhan konteks arsitektur Dayak. Baik di rumah Betang (Dayak Ngaju), yang mempunyai ruang ragawi dan ruang penghubung dengan alam surgawi, dan ruang penghubung manusia dengan alam, kita dapat temukan ragam hias dan patung yang khas.

Pun demikian halnya dengan Rumah Lamis dan Rumah Panjai dari sub suku Dayak yang lain. Kita temukan ragam seni rupa yang baik secara fisikal maupun metafisikal, terasa berdaya magis. Terutama, saat berlangsung berbagai upaya yang terus berlangsung menelusuri waktu menjejak siklus kehidupan mereka.

Mungkin karena demikian, sebagian besar kesenian Dayak disebut sebagai seni titian surgawi, meskipun tak sedikit yang menyebutnya sebagai refleksi kesenian magis. >| Haedar

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1092
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1930
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1616
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya
Budaya
06 Jul 20, 09:30 WIB | Dilihat : 150
Puisi, Pandemi dan Kisruh Logika Publik
23 Jun 20, 15:34 WIB | Dilihat : 208
Malim Ghazali PK Berpulang di Tengah Tirani Sastra
18 Jun 20, 20:40 WIB | Dilihat : 188
Seni Dayak Titian Surgawi
Selanjutnya