Ali Audah

Sang Penerjemah Timur Tengah

| dilihat 1419

AKARPADINEWS.COM | MENDENGAR nama Ali Audah tidak akan terlepas dari buku Sejarah Hidup Muhammad (1972) karya Husein Haikal yang diterjemahkan olehnya. Karya ini dinisbikan oleh banyak pembaca sebagai karya masterpiece Ali dalam penerjemahan.

Ali Audah tak hanya berhasil menerjemahkan dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dipahami. Namun, terjemahannya begitu indah dengan rasa kata yang sesuai dengan konteks bahasa Indonesia.

Tidak hanya buku Sejarah Hidup Muhammad, puluhan karya yang kebanyakan berasal dari Timur Tengah telah diterjemahkannya. Karya pertama yang ia terjemahkan adalah kumpulan cerita pendek Suasana Bergema karya Abdul Hamid G as-Sahar, kumpulan karya sastra dari Timur Tengah berjudul Peluru dan Asap (1964), Kleopatra dan Konferensi Perdamaian (Pustaka Nasional, Singapura, 1966), dan sebagainya.  

“Ali Audah adalah penerjemah dari bahasa Arab yang terbaik ke dalam bahasa Indonesia” tutur Taufik Abdullah, ketua Akademi Jakarta di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (25/11).

Selain penerjemah aktif dari karya-karya berbahasa Arab tentang sastra, filsafat, dan sejarah, Ali juga aktif menulis cerita pendek, novel, drama dan karya-karya fiksi dan non fiksi.

Dalam sambutannya, Taufik menilai, karya Ali Audah yang berjudul Nama dan Kata dalam Quran (2011) adalah sebuah magnum opus yang luar biasa, baik karena kekayaan isinya, maupun kejernihan penjelasannya.  

Atas dedikasinya dalam hal penerjemahan dan karya sastra serta sumbangan bagi perkembangan pemikiran masalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan, Akademi Jakarta sebagai dewan kehormatan seniman dan budayawan, menganugerahkan penghargaan tahunan Akademi Jakarta (life time achievement) tahun 2015 kepada Ali Audah.

Lantaran dilahirkan tahun 1924, Ali Audah adalah penerima penghargaan Akademi Jakarta yang tertua. Sayangnya, karena kondisi kesehatan yang kurang baik, penghargaan Akademi Jakarta 2015 diwakili oleh keponakannya Husein Audah.

Di usia Ali yang genap 92 tahun pada 14 Juli silam, ia sudah menekuni bidang penerjemahan dalam bentang waktu 50 tahun. Ia memulai karir penerjemahannya sejak usia 27 tahun. Seperti kebanyakan penerjemah di Indonesia, Ali memulai dengan menerjemahkan karya-karya sastra Eropa, selanjutnya disusul dengan karya fiksi dan non-fiksi berbahasa Arab, Inggris, dan Prancis. Atas saran Asrul Sani, ia mulai menekuni terjemahan karya-karya bahasa Arab karena pada masa tahun 1950-an belum ada yang melakukannya.

Pada tahun 1961 Ali menjabat sebagai direktur PT Tintamas di Jakarta. Pekerjaan utama perusahaan penerbit tersebut adalah mencetak buku impor untuk diedarkan di Indonesia. Ali bekerja di sana selama 20 tahun, sambil terus menulis. Karirnys sebagai penerjemah mulai melesat sebagai penerjemah karya-karya bahasa Arab di era tahun 1970-an.

“Karya terjemahan yang baik sesungguhnya juga sebuah karya kreatif, tidak kurang berharganya dibanding karya asli,” tutur Ali yang di usia senjanya masih aktif bekerja, termasuk menerjemahkan karya Hay bin Yazqan, novel filsafat Ibnu Tufail dan buku kumpulan tulisan Menapak Tak Bertongkat.

Mengkilas balik sejarah hidupnya, Ali Audah lahir di Bondowoso, Jawa Timur, 14 Juli 1924. Ia adalah bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya, Salim Saudah, seorang pedagang yang gemar membaca. Sayangnya, Ali ditinggal wafat ketika masih kecil dan ibunya Aisyah Djubran menjadi tulang punggung yang tangguh dan mengasuh anak-anaknya sendirian. Di jenjang pendidikan formal, ia hanya menamatkan kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah (setingkat Sekolah Dasar).

Meskipun tidak tuntas mengenyam pendidikan formal, Ali menguasai sekurangnya bahasa Arab, Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda. Di dunia pendidikan, Ali pernah mengajar di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) sekarang Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dia juga menjadi staf pengajar di Institut Pertanian Bogor (IPB), Pembantu Rektor 1 Bidang Akademik (1973-1982) dan Anggota Dewan Pembina.

Sebagai sastrawan, ia aktif sebagai anggota pengurus Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pusat dan Jakarta. Anggota pleno Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1971-1981, anggota Dewan Pekerja Harian DKJ 1977-1980. Dia juga pendiri dan Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI 1974-1984).

Tak hanya itu, Ali juga pendiri dan anggota Pembina Universitas Ibn Khaldun, Bogor, pendiri dan anggota Pembina Rumah Sakit Islam Bogor. Ia juga aktif dalam berbagai seminar nasional dan internasional.

Buku-buku yang sudah terbit dalam karya terjemahan dan karya sendiri sekitar 35 judul, 10 judul di antaranya terbit dalam format besar dan tebal antara 400 hingga 1.800 halaman. Novelnya yang terkenal adalah Malam Bimbang (Nusantara, 1963) dan Djalan Terbuka (Litera, 1971).

Menurut Nyak Ina Raseuki, ketua pemilih penghargaan Akademi Jakarta 2015, profesi penerjemah, tidak banyak mendapat perhatian. Padahal, profesi itu sangat penting karena di dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, terjemahan adalah hal yang tidak terhindarkan.

Tidak sedikit orang yang mencemooh terjemahan sebagai kerja terampil yang bisa dilakukan oleh siapapun yang menguasai kedua bahasa yang ingin dialihkan.

Padahal, sesungguhnya penerjemah tidak hanya  menguasai bahasa. Namun, diperlukan pemahaman yang cukup untuk menangkap makna dalam bahasa aslinya dan diperlukan kreativitas serta imajinasi yang hebat untuk mengalihkan makna itu ke dalam bahasa yang lain. Itulah yang menjadi alasan Akademi Jakarta tahun ini memberikan penghargaan kepada Ali Audah, seorang sastrawan dan ilmuwan sekaligus yang mengabdikan waktunya untuk menekuni penerjemahan.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Humaniora
03 Des 19, 10:54 WIB | Dilihat : 244
Melihat Anies dari Jendela Hati
13 Nov 19, 10:15 WIB | Dilihat : 1236
Masjid Apung di Tengah Aksi Transformasi Ancol
11 Nov 19, 14:53 WIB | Dilihat : 1072
Mimpi Karyawan di Sebalik Pembangunan Masjid Apung Ancol
04 Nov 19, 15:57 WIB | Dilihat : 1029
Amsal Ayam Jago dan Merpati dalam Pernikahan
Selanjutnya
Seni & Hiburan