Salah Kaprah Berekspresi

| dilihat 5509

AKARPADINEWS.COM | BEGINI cara anak muda yang salah kaprah dalam berekspresi. Maksud hati ingin mendapat simpati, justru aksinya berfoto selfie, menuai bully. Bagaimana tidak. Mereka berfoto ria di zebra cross. Tren cara berekspresi itu diinsiasi pemilik akun media sosial Instagrams Pegasus Gengs.

Foto yang disebar di media sosial itu pun disambut kritik netizen. Aksi mereka tak patut ditiru karena dapat mengancam keselamatan jiwa, menganggu kelancaran arus lalu lintas, dan meresahkan masyarakat. Aksi mereka jelas melanggar Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 1965 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya.

Di Pasal 2 ayat (1) dijelaskan, pemakai jalan dilarang mempergunakan jalan dengan cara yang dapat merintangi, membahayakan kebebasan atau keamanan lalu lintas, atau mungkin menimbulkan kerusakan jalan itu. Ketentuan itu jelas menegaskan, tren foto di zebra cross berpotensi membahayakan mereka, termasuk pengguna jalan raya dan menghambat laju lalu lintas, meski dilakukan kala lampu lalu lintas berwarna merah.

Di Bengkulu, aksi sekelompok anak muda yang berfoto ria di zebra cross mengundang amarah publik. Melalui akun facebook, seorang pemuda bernama Rizqy Novrizal, mengunggah foto dirinya bersama teman-temannya berpose gerakan salat di zebra cross Simpang Lima Kota Bengkulu. Ironisnya, di foto tersebut, Rizqy dan teman-temannya bergaya seperti orang sedang shalat. Mereka pun tidak menggunakan pakaian yang biasa digunakan saat shalat.

Wajar, jika tindakan Rizqy dan teman-temannya itu dianggap melecehkan agama Islam. Sampai-sampai, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bengkulu mengeluarkan kecaman atas perilaku mereka. Wakil Ketua Umum MUI Bengkulu, Zulkarnain Dali mengatakan, tindakan itu sudah termasuk pelecehan terhadap agama.

“Kalau shalat itu ada syarat rukun dan cara yang sesuai aturan. Tempat harus suci, menghadap kiblat,” ujarnya, Kamis (21/1). Sementara di foto tersebut, Rizkq dan kawan-kawannya tidak memakai baju, bercelana pendek, bersepatu, dan memakai pakaian yang tidak seharusnya digunakan salat.

Dua orang pelaku dalam foto tersebut tercatat sebagai salah seorang siswa di sekolah menengah kejuruan di Bengkulu. Zulkarnain pun berencana meminta pihak sekolah dan dinas pendidikan untuk membina mereka yang berperilaku rada nyeleneh itu. “Kami mengecam dan minta sekolah serta dinas pendidikan untuk membina mereka,” katanya. Zulkarnain menambahkan, bila kasus ini meresahkan masyarakat, pihaknya meminta kepolisian untuk mengambil tindakan.

Merasa bersalah, Rizqy lalu meminta maaf lewat akun facebook pribadinya, yang kini telah ditutupnya. Rizqy mengaku menyesal atas perbuatannya.

Tren foto di atas zebra cross ini menjadi fenomena di kalangan anak muda. Berfoto ria di zebra cross memang tidak bermasalah. Namun, masalah muncul ketika foto-foto itu berkaitan dengan norma-norma agama, menganggu ketertiban masyarakat, dan merugikan masyarakat lainnya.

Muhammad Fakhran Al Ramadhan, pengamat sosial budaya, mengatakan, fenomena foto di atas zebra cross karena tingkah laku remaja yang masih pada fase peniruan yang dianggapnya menjadi tren. “Bukan ditiru yang baiknya, tapi hal yang mudharatnya ditiru,” ujarnya.

Fenomena itu, menurut Fakhran, karena sebuah tren dapat dengan cepat berubah. “Tren cepat berubah. Dan, perubahan itu diciptakan media, yang membentuk pola pikir dan pola konsumsi anak muda,” ucapnya. Media tersebut juga mencakup media sosial yang saat ini sangat mudah diakses remaja.

Menurut Fakhran, aksi foto di atas zebra cross pada awalnya bertujuan untuk menyindir pengguna sepeda motor di Yogyakarta yang melanggar hak pengguna jalan yang menggunakan zebra cross. Namun, niat baik itu tidak tercerap baik oleh anak muda lainnya sehingga maksud tujuannya tidak tercapai.

“(Aksi foto di atas zebra cross) sebenarnya merupakan aksi untuk mengkritisi pengguna sepeda motor yang kerap berhenti di atas zebra cross saat lampu merah. Namun, yang terjadi kini malah sebaliknya, mereka malah menjadi pengganggu jalan,” tuturnya.

Fakhran berpendapat, seharusnya remaja merespon kritik terhadap pengguna sepeda motor dengan cara yang lebih cerdas bila dibandingkan dengan tindakannya berfoto di atas zebra cross. “Jika niat mereka ingin menyindir pengguna kendaraan bermotor yang melewati zebra cross, cukup dengan teguran (langsung ke pengendara sepeda motor) atau melapor ke pak polisi terdekat,” kata Fakhran.

Agar tidak terjerumus pada tren yang salah, Fakhran berpendapat, remaja harus dibimbing dan diarahkan. Dia menjelaskan, pengawasan kepada remaja harus lebih tepat karena sudah banyak praktik yang dilakukan dengan menyimpang.

Tren di kalangan remaja memang harus mendapat perhatian. Mereka perlu diarahkan agar tidak mudah ikut-ikutan tren yang berkembang, tanpa tahu maksudnya. 

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Antara
 
Seni & Hiburan
13 Agt 19, 20:56 WIB | Dilihat : 546
Gubernur Anies Undang Warga Jakarta Nonton JMF2019
12 Agt 19, 22:43 WIB | Dilihat : 383
Pesona Lipet Gandes dan Topeng Jantuk
04 Jul 19, 13:22 WIB | Dilihat : 744
Jakarta Melayu Festival 2019 Merengkuh Keadilan
19 Jun 19, 12:59 WIB | Dilihat : 1015
Kejujuran
Selanjutnya
Sainstek
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 729
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1552
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2466
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 1175
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
Selanjutnya