Ruh Budaya Betawi dalam Lukisan Sarnadi Adam

| dilihat 1421

MENJADI pelukis sekaligus intelektual dan akademisi tidaklah mudah. Hal yang tidak mudah itu menyatu dalam diri Sarnadi Adam, doktor humaniora bidang seni rupa STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Jogjakarta.

Lelaki asal Betawi kelahiran Simprug 27/8/56 itu, pelukis modern yang piawai menghadirkan ekspresi batin dan dayaciptanya ke atas kanvas, memadukan artistika – estetika dan etika dalam satu tarikan nafas.

Ini yang membedakan Sarnadi dengan kebanyakan pelukis lain.

Dosen jurusan Seni Rupa pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu, seniman intelektual yang unik dalam karya, tapi tampil biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Kesan seniman yang sering ditampakkan dengan ‘keanehan’ oleh sebagian pekerja seni, tak nampak pada dirinya.

Karya-karyanya merupakan refleksi kehidupan yang terasa ruh Betawi-nya: religius, egaliter, waskita (tajam tilik batinnya), berani (termasuk dalam memilih warna), dan menghadirkan integritas diri sebagai kaum multikulturalis.

Seperti pribadinya yang humble, lukisan-lukisan Sarnadi menawarkan taste seni yang mahal, kendati obyek lukisannya lebih banyak realitas pertama kehidupan sosial kaum Betawi.

Pada beberapa karyanya, lukisan Sarnadi yang cenderung memilih jalur soft realism, itu mengingat saya pada karya-karya pelukis Fernando Amorsolo dari jalur yang sama. Juga karya-karya Soraya French. Tapi, karya Sarnadi lebih kuat dan khas. Terutama pada pilihan teknik melukis yang lebih berani dan lebih beragam.

Pada beberapa karyanya, Sarnadi memilih teknik melukis yang biasa dipilih pelukis water colors untuk format lukisan akrilik. Lukisannya menjadi khas dan ekspresif, ketika teknik monochromic dipilih, sehingga lukisannya terkesan batik tulis yang mahal.

Karena kanvas lukisan tak hanya berhenti sebagai medium, dan berkembang sebagai ‘jagad’ dayaciptanya, lukisan-lukisan Sarnadi dengan ruh Betawi yang menafasinya, menjadi khas, dan istimewa.

Sarnadi telah memainkan perannya sebagai subyek dayacipta seniman yang mengubah medium lukisan menjadi ekspresi filosofis, termasuk memercikkan nilai kebetawian yang egaliter dan kontemporer dalam proses interaksi sosialnya dari masa ke masa.

Sebagai bagian integral dari kaum Betawi, Sarnadi telah menempuh dua hal penting, seperti yang disebut Masmoulin. Yakni : pencapaian dan kontribusi gaya yang sudah berlabuh (ke kanvasnya), kemudian mengutarakan kecenderungan, yang oleh senimannya digambarkan untuk menciptakan karya berdasarkan norma gerakan artistik, yang menurut mimesis ( teknik Tintoretto) dengan komposisi (teknik Malevich) yang padu padan.

Meminjam pandangan Masmoulin, dalam lukisannya, Sarnadi dengan ‘ruh Betawi’-nya telah menghadirkan: kecenderungan yang menerangi seniman pada kearifan penciptaan, dimana dia bebas berkespesi, namun secara implisit membatasi diri untuk mengekspresikan representasi dunia, subjek, kondisi manusia, konteks gerakan artistik.

La tendance éclaire l’artiste sur une politique de création, sous laquelle il sera libre, mais implicitement contraint d’exprimer une représentation du monde, des sujets, des conditions humaines, du contexte du mouvement artistique,” kata Masmoulin dalam menyatakan pandangan di atas.

Sarnadi dengan teknik dan cara melukisnya sendiri, menghadirkan kaum Betawi tanpa pretensi supaya penikmat lukisannya sudah tahu atau belajar mengenal, seperti yang biasa dilakukan para avant gardes.  (Avant-gardes).

Terutama, ketika Sarnadi lebih memilih angle (sudut pandang) dan perpektif (cara pandang) atas dinamika dan perilaku manusia di dalam masyarakat yang menjadi obyek lukisannya.

Sarnadi menghadirkan pernyataan visual tentang bagaimana seorang seniman memenuhi gagasannya, tanpa harus menjauh dari masyarakat dan lingkungannya. Meskipun, dia tetap menentukan titik pandang dan fokus mengelola ego untuk "mendidik jiwanya."

Pandangan Kandinsky : “la création artistique, intérieure de l’artiste  - doit servir à l’évolution et a l’affinement de l’âme humaine.” Kreasi penciptaan artistik (kreativitas) pada dimensi kedalaman seniman, mesti melayani evolusi dan penyempurnaan jiwa manusia.

Itu yang terasakan pada lukisan-lukisannya, antara lain: Warung Nasi Uduk, Main Congklak, Penari, Nyari Kutu dan lain-lain, yang menggambarkan berbagai dinamika laku masyarakat, khasnya perempuan Betawi, termasuk kondangan, dan lain-lain.

Dengan pendekatan semacam itu, Sarnadi menghadikan lukisannya sebagai medium visual yang secara khas membedakan realitas pertama kehidupan sosial dalam obsesi kesenimanannya. Apalagi, Sarnadi menghadirkan lukisannya, juga sebagai presentasi non standar refrakter dan egoismanya, dan menghadirkan orisinalitas gambar untuk yang bisa dialihmedia secara multiformat, multi media, dan multiplatform berupa ekspresi videotik.

Boleh jadi karya lukisan Sarnadi tak ternilai bila hendak dikonversi dengan angka-angka atau bilangan kurensi, karena pada lukisannya, yang kita peroleh bukan hanya lukisan, melainkan refleksi budaya kaum Betawi. Tabe ! | bang sem

Editor : sem haesy | Sumber : Lukisan dan Booklet Lukisan Sarnadi Adam
 
Lingkungan
25 Apr 18, 10:22 WIB | Dilihat : 759
Warga Sempur Bogor Tolak Pembangunan Apartemen
07 Feb 18, 13:55 WIB | Dilihat : 1722
Anies Lolos dari Ujian Pertama Banjir Jakarta
06 Feb 18, 19:30 WIB | Dilihat : 1490
Cukuplah Dianti Menjadi Korban
22 Jan 18, 08:54 WIB | Dilihat : 1096
Jangan Lengah Awasi Kawasan Bandung Utara
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
07 Mei 18, 12:45 WIB | Dilihat : 2703
Soal TKA Yang Diperlukan Cara Bukan Alasan
25 Apr 18, 01:49 WIB | Dilihat : 712
10 Alasan Perusahaan Gagal Dalam Layanan Prima
23 Apr 18, 12:58 WIB | Dilihat : 624
ICPF2018 Jendela Industri Kreatif dan Budaya
Selanjutnya