Bincang Kearifan Lokal Salam Radio dengan Prof. Dr. Endang Caturwati, MS

Ritual Tolak Bala Menghadapi Petaka

| dilihat 651

Budaya masyarakat Indonesia, terutama di lingkungan pedesaan, memiliki tradisi sebagai cerminan budaya dan kearifan lokal dalam menghadapi situasi normal maupun darurat, seperti melawan virus corona COVID-19 yang sedang terjadi kini. Tradisi itu disebut Tolak Bala.

Prof. Dr. Endang Caturwati - Guru Besar Seni Budaya - Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), mengemukakan hal itu dalam wawancara khas Salam Radio (streaming) - Rabu (15/04/20) pagi, pukul 08.00 - 09.00 wib.

Radio dengan sesanti Di Udara Melawan Virus Corona, itu merupakan media Pusat Krisis - Pengarusutamaan Informasi (melawan) Virus COVID-19, mengudara setiap pagi dan malam hari.

Dalam acara siaran bertajuk, "Tembang Tolak Bala Jejak Leluhur Masa Lalu," Sebagai dosen seni budaya, Endang yang juga penari, koreografer, pencipta lagu, penulis buku dan puisi, itu sempat melantunkan salah satu bait tembang dhandhang gula karya Sunan Kalijaga, "Ana Kidung Rumekso ing Wengi" yang sering disajikan dalam peristiwa tulak bala.

"Ana kidung rumekso ing wengi / Teguh hayu luputa ing lara luputa bilahi / kabeh jin setan datan purun / paneluhan tan ana wani niwah / panggawe ala gunaning wong luput / geni atemahan tirta / maling adoh tan ana ngarah ing mami guna duduk pan sirno."  (Ada sebuah kidung doa permohonan di tengah malam. Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun tidak mau mendekat. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat, guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku. Segala bahaya akan lenyap.)

Ketua klaster Sosial dan Humaniora Asosiasi Profesor Indonesia (API), itu juga melantunkan kidung lain dari tradisi kearifan lokal Sunda.

Dalam terminologi ini gangguan bisa datang dari makhluk kasad mata dan non kasad mata. Virus COVID-19, bisa dipandang sebagai bagian dari makhluk yang tak terlihat oleh kasad mata.

Dalam programa siaran yang dipandu Agustian, mantan penari Melayu yang juga sutradara teater, dan aktivis pemberdayaan sosial, itu banyak hal menarik kearifan lokal dari beberapa daerah di Indonesia, yang mengemuka. Setidaknya, Endang mengemukakan beberapa jenis peristiwa tradisi yang berkembang di masyarakat, dan menjadi ajang untuk melantunkan tembang tolak bala.

Ritual Tolak Bala,   di beberapa masyarakat  disebut juga Sedekah Bumi atau Ruwatan Bumi. Memberikah sedekah dan menghilangkan segala yang kotor dalam kehidupan kita, secara lahir dan batin.

Peristiwa tradisi itu, biasanya rutin dilakukan secara reguler setahun sekali - pada waktu tertentu, atau pada peristiwa-peristiwa tertentu, yang sekaligus merupakan momen untuk menyajikan seni tradisi, seperti wayang kulit, wayang golek, atau lainnya.

Peristiwa-peristiwa itu, menurut Endang, merupakan bagian dari upaya pelestarian nilai-nilai budaya dan kearifan lokal sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan, Manusia dan Alam. Atau ritual menyampaikan do'a kepada Tuhan, agar terhindar dari malapetaka.

Di era kini, peristiwa itu biasanya diselenggarakan atas inisiatif dan swadaya masyarakat. Beberapa pemerintah daerah mengaitkannya dengan agenda wisata, tetapi banyak juga pemerintah daerah justru kurang ambil peduli.

Di masa pembatasan sosial berskala besar melawan Covid-19 tentu menghadapi kendala, karena terkait dengan cara memutus mata rantai virus dalam bentuk menjaga jarak fisik dan jarak sosial.

Dari tradisi budaya dan kearifan lokal, itu menurut Endang, kita dapat mengenali, bahwa masyarakat Indonesia, hidup di tengah berbagai simbol dan ekspresi yang juga merupakan sebagai wujud spiritual. Terutama berkaitan dengan menjaga harmoni relasi manusia denganTuhan, sesama manusia, dan  alam. Ini merupakan ekspresi masyarakat agraris dan laut.

Dikemukakannya, Sedekah Bumi, misalnya, melambangkan rasa syukur manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rezeki melalui bumi berupa segala bentuk hasil bumi.

Seren Taun, mengekspresikan rasa syukur atas hasil panen padi masyarakat setiap tahun. Upacara ini berlangsung khidmat dan semarak di berbagai desa adat Sunda. Upacara adat ini, bahkan telah berkembang sebagai atraksi wisata, yang melibatkan ribuan masyarakat. Tak hanya dari desa setempat, melainkan dari beberapa daerah di Jawa Barat, bahkan mancanegara.

Bersih Desa atau Tolak Bala yang juga disebut Ruwatan merupakan peristiwa yang berisi ritual memanjatkan doa, supaya terhindar dari segala macam penyakit dan malapekata. Kegiatannya melibatkan masyarakat dan petinggi desa, sekaligus kenduri dengan aneka kuliner dengan memotong kambing, kerbau, sapi, ayam, bebek serta menyajikan sayur mayur dan buah-buahan.

Setiap  desa tidak selalu sama cara mengelola peristiwanya, karena mempunyai  tradisi berbeda satu dengan lainnya. Namun, meskipun berbeda secara ritual,  tetapi tujuannya sama sebagai perwujudan hubungan intens manusia  dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Dalam terminologi islam disebut hablumminallah, hablumminannas, dan hablum minal alam yang tercermin dalam sajian tumpeng.

Tumpeng sendiri merupakan simbol 'metu dan mempeng,' mengerucut ke atas, kepada Allah yang Mahaesa. Lauk pauk terdiri dari tujuh (pitu) macam, sebagai idiom dari pitulungan, sekaligus silih asih, silih asuh, silih asah. Di Sunda, terkolerasi dengan konsep kehidupan manusia, tri tangtu di buwana (prabu, rama dan resi) semacam 'trias politica' dalam kehidupan sehari-hari, yang sekaligus menggambarkan triangle of life.

tumpeng juga menggambarkan bilangan hari dalam sepekan yang terkait dengan dimensi waktu (al asri), dan mesti ada kacang panjang sebagai simbol silaturahmi tak terputus. Tumpeng dan lauk pauknya dimakan bersama sebagai manifestasi dari soliditas dan solidaritas sosial.

Endang tak menyangkal realitas, bahwa kian ke sini, aktivitas tradisi budaya dan kearifan lokal ini mengalami penurunan. Di sejumlah daerah, karena banyak faktor. Mulai dari kebijakan pimpinan daerah, atau  berkurangnya dukungan dari tokoh masyarakat atau tokoh Agama  yang menganggap kegiatan tersebut tidak penting dan lain lain.

Menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, Endang mengemukakan, adanya peristiwa datangnya  tamu yang tidak diundang, teu katenjo ku panon teu kadeuleu ku mata: tidak kelihatan, kasad mata  tapi serangannya luar bisa. Bahkan banyak korban di seluruh belahan bumi, yakni virus COVID 19, beberapa daerah melakukan aksi tolak bala yang disesuaikan dengan situasi.

Sejumlah Kabupaten dan Kota di Aceh, misalnya menggelar ritual keagamaan “tolak bala’ untuk menangkal bahaya Covid-19. Menghidupkan kembali tradisi yang sudah lama dilupakan.  Antara lain dengan menggelar rangkaian zikir, tahlil, salat sunat hajat, dan doa bersama, seperti Rateb Seribee dan lain-lain.

Di Purworejo tradisi tolak bala yang sudah berabad lama, masih sering dilakukan setiap tiba bulan Muharram. Semacam ruwatan, untuk mengusir malapetaka, seperti ruwatan di Dusun Sembir, Desa Bugel, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo Jawa Tengah menggelar ritual tolak bala.

Dalam ritual ruwatan di sini, masyarakat membuat ketupat dengan jumlah ganjil, bisa 7 atau 9. Kemudian menyembelih ‘kambing kendit jantan,’ yang kepalanya dikubur di tengah-tengah kampung dan keempat kakinya dikubur di empat penjuru mata angin,"

Di Banyuwangi ritual tolak bala dan bersih desa khas Suku Osing, diramaikan dengan pergelaran tarian khas Osing, Tari Seblang,

Tarian ini bagian dari ritual bersih desa dan tolak bala agar desa tetap dalam keadaan aman dan tenteram. Tari Seblang sendiri hanya dapat di temukan di dua desa, yakni Desa Bakungan dan Desa Olehsari, Tari Seblang memang hampir serupa dengan ritual tari Sintren di Cirebon dan ritual Sanghyang di pulau Bali.

Ritual tari seblang diawali atau dibuka oleh dukun desa. Mata sang penari seblang ditutup oleh ibu-ibu yang berada di belakangnya sambil memegang nampan bamboo yang didalam bahasa Banyuwangi disebut tempeh.

Sang dukun mulai mengasapi sang penari seblang dengan asap dupa sambil mengucapkan mantera. Setelah sang penari kejiman (trance) yang ditandai dengan jatuhnya tempeh atau nampan bamboo yang dibawa ibu-ibu, maka pertunjukan pun dimulai.

Penari seblang yang sudah kejiman atau kesurupuan menari dengan gerakan monoton, mata terpejam dan mengikuti arah sang pawang serta irama gendhing yang dimainkan. Kadang juga berkeliling desa sambil menari.

Setelah beberapa lama menari, kemudian sang penari seblang melemparkan selendangnya yang digulung ke arah penonton. Penonton yang terkena selendang tersebut harus mau menari bersama si Seblang. Jika tidak, dia akan dikejar-kejar oleh si penari seblang hingga ia mau menari. Alat musik yang mengiringi tarian Seblang di desa Bakungan hanya terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah sarong.

Di Banyuwangi juga ada tradisi Mepe Kasur atau menggebuk kasur yang dijemur di bawah matahari, di desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur. Biasanya tradisi ini digelar pada setiap awal bulan Dzulhijjah.

Yang unik, dalam tradisi mepe kasur (jemur kasur) pada masyarakat Osing, ini  kasur-kasur tersebut berwarna seragam, yakni hitam pada bagian atas dan bawah dan  merah pada setiap pinggirnya, warna hitam dan merah punya arti tersendiri.

Masyarakat Kemiren percaya hitam merupakan warna untuk menolak bala, sedangkan abang atau merah adalah simbol dari keabadian rumah tangga.

Di Malang, tradisi tolak bala dilakukan usai ziarah ke makam tokoh yang berjasa, yang pertama kali membuka desa (bedah kerawang), dilanjutkan dengan selamatan desa. Tumpeng digelar, seperti masih dilakukan di desa Oro-Oro Ombo.

Ritual dimeriahkan dengan Tari Tayub, Kuda Kepang, dan Wayang Kulit.

Di Bali, ritual tolak bala berlangsung reguler. Upacara ini di gelar di setiap Perempatan jalan di wilayah Kuta. Hingga puncaknya di perempatan jalan pasar seni Kuta, dekat Pantai.

Dalam ritual ini, enam barong diarak keliling lingkungan desa adat Kuta. Simbol kebaikan yang diarak bersama dengan benda suci dari Pura, ini diyakini mampu mengusir roh dan hal negatif yang bersemayam di desa, sehingga masyarakat bisa terbebas dari marabahaya dan wabah. Ritual itu dikenal sebagai Nyagluk Merana, yang berisi permohonan keselamatan kepada Tuhan yang bertujuan menetralisir alam semesta dari hal negatif termasuk bencana alam dan serangan wabah penyakit.

Merespon pertanyaan Agus, Endang mengemukakan, tradisi ritual ini tak perlu dipertentangkan dengan keyakinan mayoritas muslim. Karena esensi Sedekah Bumi atau Hajat Bumi adalah menyantuni orang miskin dan sebagai pelaksanaan dari kewajiban setiap muslim mengeluarkan 'hak' saudaranya dari harta yang dimiliki, sebagai pemberian Allah.

Sedekah itu sendiri, merupakan perilaku terpuji yang sangat disukai oleh Allah SWT dan sangat dianjurkan bagi kita yang mempunyai rejeki lebih. Apalagi kerap disyiarkan, bahwa sedekah dapat menolak 70 macam bencana dan yang paling ringan (di antara bencana itu) adalah wabah penyakit.  di dalam sedekah juga terkandung nilai-nilai sosial karena akan tumbuh saling peduli, bekerja sama atau saling tolong menolong.

Bagi muslim, setiap tubuh manusia diwajibkan bersedekah setiap harinya selama matahari masih terbit. Karena sedekah tidak hanya berupa harta benda, melainkan juga berupa tolong menolong seseorang seperti memberi tempat duduk kepada orang yang lebih tua di kendaraan umum juga tergolong sedekah; mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah; bahkan memindahkan duri dari jalan, pun sedekah.

Al Qur'an (Surah Al Baqarah 177) mengemukakan firman Allah, "Manusia sempurna adalah orang yang beriman kepada Allah dan kepada Nabi-Nya, serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, orang yang meminta-minta dan membebaskan hamba sahaya, dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat.” 

Dalam filosofi Jawa, konsep sedekah terungkap dalam sikap, "Sing sopo gelem gawe seneng marang liyan, iku bakal oleh wales kang luwih gede katimbang apa kang wis katindaake  (siapa yang bisa  memberi rasa senang / bersedekah, bakal mendapat balasan yang lebih besar dari apa yang diberikan).

Menurut Endang, "Musibah COVID-19 ini bisa kita lawan dan basmi dengan kebersamaan kita sebagai rakyat, sesuai dengan posisi, fungsi, dan porsi masing-masing.  Bersedekah semampu kita, tenaga, harta, pikiran."

Tradisi dari kearifan budaya yang lama hidup di Indonesia ini, menurut Endang, kita pandang sebagai spirit untuk bahu-membahu dalam menghadapi COVID -19 sebagaimana isi lagu Sunda, Sabilulungan (bersama- sama silih asih , bersatu padu),membasmi musuh  yang tidak terlihat.., sesuai peran kita masing-masing.

Semua ditujukan sesuai dengan doa sapujagat yang sering dibaca selepas salat dan menutup do'a-do'a: Robbanaa aatinaa fid dun-yaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar. (Wahai Tuhan kami, anugerahi kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jauhkan kami dari api neraka).

Salam Radio setiap hari menghadirkan berbagai tokoh, seperti Hamdan Zioelva, Sandiaga Uno, sejumlah ahli yang berkaitan dengan virus dan vaksin, ustadz, para cendekiawan, budayawan, serta praktisi gerakan pemberdayaan masyarakat. | haedar

Editor : Web Administrator | Sumber : foto berbagai sumber
 
Humaniora
26 Sep 20, 06:38 WIB | Dilihat : 96
Memelihara Harapan
22 Sep 20, 14:32 WIB | Dilihat : 77
Monopoli Pikiran
10 Sep 20, 19:31 WIB | Dilihat : 296
Getar Good Voice Rasil
Selanjutnya
Seni & Hiburan
03 Sep 20, 21:13 WIB | Dilihat : 281
Cerita Seputar Alterasi Seni Rupa - Seni Tari
26 Agt 20, 09:04 WIB | Dilihat : 330
Tilik Indonesia Gaya Bu Tedjo
25 Jul 20, 17:36 WIB | Dilihat : 570
Butong Tak Bisa Pisah dengan Akordeon
22 Mei 20, 05:26 WIB | Dilihat : 1083
Refleksi Lagu Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya