Buku Kumpulan Puisi

Pukul Dua Belas Menukar Airmata Soesi

| dilihat 2135

( PUKUL DUA BELAS, Soesi Sastro - Buku Kumpulan Puisi, Cetakan Pertama - November 2015, Diterbitkan oleh Kosa Kata Kita - Jakarta | Supervisi Penerbitan: Kurniawan Junaedi, Pengantar Sapardi Djoko Damono )

BILA puisi hendak dipahami sebagai ‘lukisan aksara’ – Buku Kumpulan Puisi Bertajuk “Pukul Dua Belas,” menunjukkan penyair Soesi Sastro, berhasil ‘melukis dengan aksara.’

Soesi berhasil mengubah impresi tentang realitas pertama kehidupan, menjadi ekspresi yang menjelma menjadi ‘lukisan aksara,’ yang menggambarkan realitas kedua kehidupan itu.

Dengan formula sederhana, Soesi mengajak kita menikmati puisinya sebagai ‘lukisan aksara’ yang mampu mempertemukan dimensi empiris menjadi renungan batin tentang sesuatu yang berada di luar empirisma kita.  Mengubah sesuatu yang biasa-biasa saja dalam empirisma kita sebagai manusia, menjadi sesuatu yang bermakna.

Beberapa puisi berikut tampak sebagai lukisan sketsa yang getir:

pagi ini juru parkir tak bersuara

mulutnya membuka seperti lubang celengan

menelan uang-uang logam

tangannya bergerak ke atas ke bawah

tubuhnya kaku

dagingnya besi

(Juru Parkir)

tukang batik khawatir lilin malam tak lagi terbeli

harganya terbang tinggi

“pohon pinus di hutan tak lagi bergetah tapi berdarah,

tubuhnya dihisap lintah,” begitu katanya

 (Tukang Batik)

Lukisan itu terasa getir, ketika disandingkan dengan lukisan sketsa buram dari puisi naratif yang menohok seperti ini :

jangan menangis isteriku


memeras pengusaha itu biasa


mempersulit perizinan usaha itu wajar


menerima uang panjar perkara itu juga biasa

amplop-amplop datang ke ruangan menyerahkan diri

gulungan koran gendut berisi tergeletak di atas meja-meja

anak buah cukup senang bolu gulung isi, gurih katanya

…..

jangan menangis isteriku ini rahasia kita berdua

sumpah jabatan itu hanya deretan kata yang wajib dibaca

lupakan saja

(Pesan Suami di Rumah Sakit kepada Istrinya)

Lukisan sketsa itu juga kita dapati pada puisinya yang lain :

maka jadilah koruptor bila ingin kaya sekaya-kayanya

makan plastik, dinamit, granit, kredit


tidur bersama kecoa, lipan, laba-laba


hati berkoreng, bernanah

mikir di luar kepala


menulis daftar sajian pemerasan

maka jadilah apa saja ketika neraka dan surga

masih di tangan Tuhan

(Surga dan Neraka di Tangan Tuhan)

pintu nadir telah membuka
bicara

tentang langit kita yang meninggi berbisik mesra

bagi laut maha luas lantang menerjang gelombang bumi

dindingnya bening
memantulkan wajah ambisi manusia

menjilat getah menguliti masa
amarah

tanganmu meremas sekat kacanya

relung pagi bumi luka
 robek

(Sang Ruang)

Lukisan sejenis dengan obyek lain, kita dapati dalam puisi : Ibu Gagah, tamasya tamak, Sahabat dan Pemilu, Aku Mati Bagi Waktu, dan beberapa puisi lainnya.

Soesi juga melukis rindu, bagai melukis dengan akrilik. Ia mempertemukan rindu dan pilu aneka warna, ke dalam kanvas lukisan naluri dan rasa. Simaklah puisi-puisinya: Matahari di Laut Merah, Kiriman Pertanda, Rindu di Jalanmu, Kambium tak di Tempat, Takdir di Matamu, Mahagony in Blue, Lelaki Pencari Suaka, Ketika Jarak tak Berjarak, Menepi, Rindu Akut, Kelopak Malam, Itulah Rindu, dan Tidak Terlambat.

Soesi menafikan metafora untuk mengekspresikan rindu yang multi makna. Ia membiarkan persepsinya tentang rindu, hadir di dalam kanvas fantasi yang mudah dikenali, mudah dirasa, dan mudah direnung oleh siapa saja. Melalui puisi-puisinya, itu Soesi menggunakan kata sederhana yang padat makna.

matahari memeluk Laut Merah

bebatuan di bibirmu tak meragu

mengucap rindu pada takdir-Mu

(Matahari di Laut Merah)

ada rindu di antara jalan-jalanmu

ada sesal di tepinya

ada cinta yang tertunda

(Kiriman Pertanda)

jalan tak berpeluh lagi

angin menari berbalut siang

ketika matahari tersenyum

di jalanmu rindu membentang

(Rindu di Jalanmu)

keringat kota terus mengucur

angin cinta tak mampu mengusap

gugur daun kuning menyerapah di halaman

jemari pohon rela melepasnya

rindu tak rekat

kambium tak di tempat

(Kambium Tak di Tempat)

rinduku pada rindang pohonmu

seperti merah saga tak sempurna

(Takdir di Matamu)

wangi dupa asapnya membiru

wajah rindumu melintas ragu

(Mahogany in Blue)

ketika tawa mengajak bibirmu terbuka

ada rindu yang tertunda

(Lelaki Pencari Suaka)

bukankah jauh jarak di kasat mata hanya ilusi pandang

kegelisahan tubuh dimana kesejatian tak pernah

mengenal jarak dalam jiwa

ketika kita memiliki cinta sederhana.

dan rindu kita adalah semangat

(Ketika Jarak Tak Berjarak)

rindumu tetap kudekap

rinduku padamu bagai tinta cina di mana bisa

kutuangkan garis garis mawar,

tulisan cinta dan namaku

(Menepi)

rindu tingkat akut adalah ketika dua matamu sepanjang

jalan hanya tampak wajahku meskipun halilintar, badai,

hujan deras atau tukang asongan lalu lalang di situ

(Rindu Akut)

merinduimu adalah tetes embun di ujung daun, indah

diterpa angin pagi di mana matahari akan melumat

tabirnya

(Kelopak Malam)

itulah rindu

rindu membelai ujung akar

(Itulah Rindu)

pagi itu aku bangun dari mimpi pagi

aku ada di dalam nadimu

mencari pintu keluar

aku rindu cahaya

(Tidak Terlambat)

Dari bagian lain buku kumpulan puisi ini, ketika kita mengeja hakekat puisi sebagai medium yang mempertemukan dimensi artistika, estetika, dan etika, termasuk dimensi spiritual di dalamnya, Soesi juga menyajikan lukisan abstrak ekspresi batinnya. Namun tetap dalam bingkai simpel. Bahkan, ketika dia ingin menghadirkan ekspresi akalbudi perempuan dengan pesona persona yang ketus. Soesi menghadirkan abstraksi dengan tetap berpijak pada realitas empiris.  Dia tidak lari dari eksistensinya sebagai bagian dari kehidupan bumi, meski matahari dan rembulan, pinus dan kambium atau aneka flora lain bisa datang dan pergi, membawa sukacita sambil meninggalkan lara.

Simaklah puisi ini :

kalimat yang lepas dari bibirmu ingin pulang

ketika bertemu waktu

engkau telah miliki surga
 katamu

ada surga lain di atas surga

(Mencari Surga yang Lain)

vihara itu menghangat
 asap hio

kian akrab di wajah malam

jarinya tak mampu menuai air mata

indah merah lilin kusiram tinta hitam

pelan kutinggalkan pintu nirwanamu aku pamit

(Merah Lilin Vihara)

Sejumlah puisi di dalam buku ini, mengingatkan saya kepada sejumlah sosok pemikir idola, para penyair yang menuliskan puisinya sebagai doá. Saya teringat Rabi’ah dari Basrah, ketika menikmati puisi yang ini :

waktu berhentilah untukku

tanpa hentikan nafas-nafas yang berserak di bumi

wahai engkau yang dipuja pujangga

ingin kutukar air mata ini
dengan indah tatapmu

(Menukar Air Mata)

Seketika juga teringat Imam Al Ghazali, kala membaca puisi ini :

ramaimu adalah sepi, sepimu adalah rindu

tak sejenakpun mampu kau tutup tirai

bianglala warna di angkasa

hatimu selalu mencari rasa merdeka di mana-mana

pernah ada di kotak obat

bahkan di tumpukan kaset-kaset tua

akhirnya sepimu menyangkut pada seutas tali matamu

tak pandai berdusta
nadimu tak berdenyut,

kau mati di muara cinta

(Ramainya Sepi)

Victor Hugo segera terbayang, dan remang Notre Dame selepas subuh -- dilihat dari jembatan atas Sungai Seine -- segera melintas, ketika menikmati puisi yang ini :

dua doa merayap di tubuh lilin-lilinmu

meleleh-leleh
hangat bertumpuk di bibir cawan

dentang mengaduk malam

melipat rembulan dan matahari dalam rindu rasa nyamanmu
 di depan pintu pagi

musim menanti lonceng

kehangatan masih ada sisa gairah


ketika kulewati Notre Dame

(Lonceng Pagi di Notre Dame)

Pada puisinya bertajuk Pukul Dua Belas, yang menjadi judul buku kumpulan puisi ini, sesaat saya terantuk dan tersedar tentang waktu yang tak pernah bisa didaur ulang. Mengingatkan kita tentang hakekat manusia yang mudah bermain-main dengan waktu.

Mari simak :

jarum panjang mengendus jarum pendek

jarum panjang mencium jarum pendek

jarum panjang melumat jarum pendek

jarum panjang menyetubuhi jarum pendek

jarum panjang meninggalkan jarum pendek

pergi
 kembali 
mengendus-endus


mencium
 melumat 
menyetubuhi


meninggalkan putaran yang tidak punya hati

jarum panjang pergi
 melenggang-lenggang


bergerak
tegap seperti langkah tentara


kadangkala mulus seperti roda tanpa rem

bahkan melata seperti ular berbisa

mata mengintip
menanti penuh degup

suara dentang ketika
 adzan tiba


makan siang datang


rehat terbuka


tidur lelap


memasang perangkap


menabur kembang
dan berbicara dengan Tuhan

Kesemua puisi itu bersinggungan dengan puisinya yang lain: Matahari tak Kau Bawa Pergi, Matahari tak Berkaki, Malam Kehabisan Kata, Awan Pagi ini Berbeda, Rasa Bersalah, Pukul Duabelas Malam, Takdir di Matamu, Menanti Ujung Usia dan lain-lain.

Dalam buku kumpulan puisi ini saya juga menemukan lukisan realis tentang perempuan, seperti yang terekspresikan melalui puisi-puisi : Senyum Perempuan dan Gairah Jiwa, dan Bumi adalah Ibu. Saya juga menjumpai lukisan tentang alam di begitu banyak puisinya dalam buku kumpulan puisi ini.

Soesi nampaknya memang karib dengan alam dan lingkungan sekitar. Matahari, rembulan, awan, bumi, tanah, pinus, embun dan lainnya menjadi sesuatu yang karib dengannya. Begitu banyak puisi di dalam buku puisi ini, berhubungan dengan itu semua. Yang menarik adalah, Soesi terbilang penyair yang membebaskan dirinya dari sejumlah kosakata yang sering dihindari oleh perempuan. Misalnya: nanah !

Karena seluruh puisi di dalam buku kumpulan puisi ini, merupakan puisi kamar, buku ini, layak menjadi souvenir.. |

N. Syamsuddin Ch. Haesy

Editor : sem haesy
 
Humaniora
12 Agt 19, 11:00 WIB | Dilihat : 373
Umrah Digital
11 Agt 19, 13:59 WIB | Dilihat : 310
Bertemu Cinta Sesungguh Cinta di Arafah
10 Agt 19, 17:28 WIB | Dilihat : 264
Hari Arafah
07 Agt 19, 13:12 WIB | Dilihat : 489
Mbah Mun dan Hakikat Pernikahan
Selanjutnya
Budaya
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 561
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
22 Jul 19, 16:15 WIB | Dilihat : 488
Dimensi Kaum Betawi
21 Jul 19, 14:19 WIB | Dilihat : 269
Refleksi dari Arena Lebaran Betawi
Selanjutnya