Nota untuk Penyair Sèm Haèsy

Puisi, Pandemi dan Kisruh Logika Publik

| dilihat 362

Syaiful Bahri Ruray

Pagi ini (Senin, 6 Juli 2020), senior saya N. Syamsuddin Ch. Haèsy yang biasa dipanggil Bang Sèm Haèsy, seorang penyair, sahabat karib guru sastra saya, almarhum penyair Husen Mulahele, mengirim tautan youtube berisi puisinyanya yang ditulis pada tahun 1995.

Puisi tersebut diberi judul “Sajak Kursi Goyang.” Dengan syair yang demikian menarik dan menggugah. Saya menerawang konteks Bang Sèm ketika menuliskan bait-bait puisi tersebut, ketika Samuel Huntington lagi naik daun dengan tesa prediktifnya tentang the clash of civilization yang sempat menghebohkan dunia persilatan global tersebut.

"Sajak Kursi Goyang" jelas dalam benak saya, Bang Sèm sedang menggugat logika Tuan Huntingon tersebut. Namun sajak itu terasa masih memiliki korelasi kontekstual dengan situasi dunia sekarang yang tengah dilanda pandemi global.

Karena tidak satupun negara dunia yang benar-benar berhasil berkelit dari serbuan gegap gempita virus corona ini. Dunia seakan kacau balau. Bahkan Lee Hsien Long, Perdana Menteri Singapore menggambarkan bahwa bangsa Asia kini sedang menghadapi era berbahaya, the Endangered Asian Century. Karena cendekiawan penganut madzhab Huntington seperti Francis Fukuyama pun menyatakan negara akan akan mengalami disrupsi, karena tidak ada sistem yang mampu memberikan solusi tuntas atas pendemi ini. Bahkan yang terjadi adalah disfungsional negara (dysfunctional state) dimana kelemahan kepemimpinan (poorly leadership) dan tidak berkompetennya aparat birokrasi dalam menghadapi serbuan pandemi ini.

Kita pun menyaksikan elit gagap di mana-mana karena rakyat yang tak mematuhi apa kata elit, karena kian terhimpit ekonomi. Krisis trust sedang melanda seiring pandemi.

Dan "Sajak Kursi Goyang" Bang Sèm ini, seakan hadir lagi, untuk mengingatkan bahwa ada nurani yang terabaikan, ada disharmoni dalam pendekatan Tuan Huntington, yang sedang melanda dunia kita. Dunia yang tak lagi mengenal batasan negara.

Corona seakan membenarkan tesis lama Kennichi Ohmae tentang the borderless world, juga dibuktikan dalam serbuan pandemi ini. Lalu hiruk pikuk politik pun terjadi, karena tidak satupun menyangka bahwa pandemi sedemikian ganas bisa berlangsung cepat tanpa mengenal batas wilayah bangsa, etnis dan perbedaan sistem ekonomi dan politik serta ideologi.

Setiap hari kita saksikan bagaimana rakyat melawan petugas medis, dengan menjemput paksa jenazah korban yang divonis terpapar corona. Bahkan kini berhadapan dengan aparat hukum. Seakan ada krisis nurani yang kian tak terasah diantara manusia yang digugat oleh Bang Sem dalam "Sajak Kursi Goyang"-nya.

Logika global seakan terbelah, bahkan negara hyperpower sekelas Amerika Serikat pun, Trump menolak memakai masker dalam pidato perayaan hari kemerdekaan Amerika pada 4 Juli 2020 kemarin.  Padahal Presiden Amerika John Fitzgerald Kennedy (1961-1963) pernah menyatakan: “jika politik itu kotor, maka puisi akan membersihkannya, jika politik itu bengkok maka sastra akan meluruskannya.”

Kita bagaikan membaca Sampar (La Peste)-nya Albert Camus, penyair Perancis kelahiran Aljazair, yang mempelopori filsafat absurditas tersebut. Karena dunia kita tengah terpapar  absurditas sedemikian nyata kini. Mungkin kalimat John F. Kennedy  menjadi penting, ketika "Sajak Kursi Goyang" menggugat logika publik yang ditawarkan Tuan Huntington. Bahwa dunia akan selalu berhadapan dengan kekisruhan. Menghadapi sifat dasar yang bermusuhan. Sebagaimana digambarkan Thomas Hobbes tentang homo homini lupus, bellum omnium contra omnes.

Tuan Huntington duduk mencangkung, dengan anggur gelegak di tenggorokannya, merekayasa pandangan orang terpasung, tak melihat cahaya, dalam bait Bang Sèm, seakan mengajak kita untuk meluruskan logika. Dengan menawarkan Al Farabi yang menulis dengan kelembutan hati, juga Mukaddimah-nya Ibnu Khaldun yang ditulis dengan sukma terjaga. Menawarkan alkisah pengelana dari Tangier, Maghribi, Ibnu Batutah yang berziarah hingga Mamlukul Mulk di Timur Nusantara.

Padahal pelopor pemutus mata rantai pandemi, sebagaimana diakui oleh para ilmuan lainnya, berawal dari perintah Nabi. Daripada kita berbalut marah, mengumbar emosi, mendingan kembali mengasah nurani dengan puisi, kembali ke sastra, agar logika kembali terasah, menghadirkan harmoni. Bukan menghadirkan konflik yang membelah kemanusiaan.

Mungkin sajak kursi goyang menawarkan sesuatu dibalik pandemi, menawarkan ketajaman mata bathin. Agar kemanusian tidak terbelah, terdistorsi pada sekat-sekat politik, sistem negara, yang kadang menyesatkan logika publik. Walaupun disodorkan dengan sederet teori untuk merasionalkannya, persis kasus kerancuan logika dalam pengajuan undang-undang HIP (Haluan Ideologi Pancasila) yang tetap dipaksakan oleh elit kita.

Akh, saya membuka lagi catatan lama Camus yang ditulis John Foley: Albert Camus from the Absurd to Revolt, Juga Rubaiyatn-ya penyair Persia, Omar Kayyam yang ditulis  Edward Fitzgerald, lalu saya kirim kepada Bang Sèm, setelah menyimak "Sajak Kursi Goyang" - nya. Karena gugatan atas Tuan Huntingtonnya Bang Sèm, memberi pencerahan di tengah kisruh dana kusut masai akibat pandemi, sambil menghirup kopi pagi yang saya campur dengan gardamun Maghribi dan cengkih Mamlukul Mulk.|  (Batavia, 6 Juli 2020)

 

Syaiful Bahri Ruray, seorang perantau di alam budaya dan filsafat dari Manado

 

Editor : Web Administrator | Sumber : foto : the economist dan dokpri
 
Humaniora
29 Jul 20, 14:08 WIB | Dilihat : 110
Mencandai Masa Depan
29 Jul 20, 09:29 WIB | Dilihat : 92
Mengembalikan Pendidikan Pada Arahnya
22 Jul 20, 14:31 WIB | Dilihat : 223
Sultan Arief yang Arif itu Sahaja dalam Kemuliaan
Selanjutnya
Seni & Hiburan
25 Jul 20, 17:36 WIB | Dilihat : 340
Butong Tak Bisa Pisah dengan Akordeon
22 Mei 20, 05:26 WIB | Dilihat : 773
Refleksi Lagu Kanyaah Indung Bapak
19 Mei 20, 09:55 WIB | Dilihat : 633
Selamat Jalan Alex Aman Chalik
18 Mei 20, 05:02 WIB | Dilihat : 289
Pandemi dan Ramadan dalam Puisi Gus Nas
Selanjutnya