Matarasa Ramadan 1411 H

Pemicu Petaka dan Taubat

| dilihat 363

Bang Sém

ANDA menghendaki bala’ alias bencana? Mudah sekali caranya. Attirmidzi, meriwayatkan, suatu ketika, Rasulullah Muhammad SAW menyatakan, “Jika ummatku telah melakukan lima belas perkara, maka pasti, bala’ akan tiba kepada mereka”.

Sejumlah sahabat bertanya: “Apa saja lima belas perkara yang menyebabkan datangnya bala’ itu?”

Lalu, Rasulullah mengurainya satu per satu.

Bala’a akan datang ke suatu kaum atau bangsa, bila kekuasaan telah dianggap sebagai keuntungan. Dengan kekuasaan, mereka mendulang aneka perbuatan yang hanya menguntungkan bagi dirinya. Karena mereka menganggap dan mengelola kekuasaan, layaknya mereka memperlakukan perniagaan.

Lalu?  “Ketika amanat dianggap seperti ghanimah,” seru Rasulullah SAW. Artinya, seseorang diberikan kepercayaan melaksanakan jabatan itu, tidak untuk menjaga dan memelihara amanat dengan baik. Melainkan menerimanya sebagai ghanimah, harta pemberian, lantaran telah ikut berjasa terhadap diperolehnya sesuatu kekuasaan. Karena itu, mereka menganggap zakat sebagai cukai, dan dirasakan merugikan, karena dianggapnya mengurangi harta.

Lalu? “Ketika suami sudah tunduk kepada isteri”, jawabnya. Bersamaan dengan itu, jumlah orang yang durhaka kepada ibunya bertambah. Demikian pula yang membenci ayahnya. Mereka lebih patuh kepada teman, katimbang orang tua. Lantas, pada masa itu terlalu banyak orang menjerit-jerit (bersuara keras) dan gaduh di masjid-masjid. Pimpinan kaum itu, kata Rasulullah SAW, orang yang rendah budinya.

Pada masa itu, seseorang ditakuti karena kejahatannya, bukan karena kecerdasan dan kearifannya. Karenanya khamr (segala yang memabukkan dalam pengertian konotatif dan denotatif) merajalela, sebagaimana sutra telah menjadi pakaian masyarakat sehari-hari.

Lalu, umat yang hidup di zaman itu, merutuk kutuk umat yang sebelumnya, termasuk para imam, tabi’in, dan para syuhada. Bila ini sudah terjadi, dan lengkap, datanglah bagi kaum atau bangsa itu, azab Allah berupa angin merah - wabah, longsor, dan aneka petaka yang memusnahkan.

Isyarat Rasulullah Muhammad SAW ini juga mengalir dalam kearifan budaya di berbagai bangsa di seluruh dunia, tanpa kecuali dalam kearifan lokal budaya bangsa kita.

Bagaimana menolak petaka atau bala'? Syeikh Nawawi al Bantani dalam Maraqil Ubudiyah a la Bidayatil Hidayah, merujuk pada perilaku dan akhlak Rasulullah. Mulai dari pengendalian diri yang kukuh dan konsisten atas berbagai kecenderungan duniawi yang memungkinkan manusia menjadi hamba syahwat dan hamba perut (abdul buthun). Termasuk mendahulukan cinta dan kasih sayang, katimbang asmara. Menjaga 'pandangan' terhadap perempuan, serta kesetiaan terhadap istri dan suami dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Pengendalian diri, sehingga tidak mudah terhuyung atau kapengpeyongan, ketika sedang dilanun asmara.

Kasih sayang itu tertampakkan dalam sikap tidak menyakiti makhluk lain, tak hanya manusia. Syeikh Nawawi al Bantani, mengamsalkan dengan perilaku sangat indah dan bersih, "binatang tak lari dari dirinya, tak pula menyentuhnya. Bahkan, seekor lalatpun tak pernah hinggap di tubuhnya yang indah."

Kepribadiannya utuh. Apa yang nampak dan tak nampak dari dirinya, sama. Sisi depannya seperti sisi belakang dirinya, terlihat sama indahnya. Tidak menyembunyikan fakta kebenaran baik dari depan mau dari belakang.

Rasulullah senantiasa siaga dan terjaga, sehingga hatinya yang lembut dan bersih senantiasa berada dalam asuhan Ilahi. Syeikh Nawawi mengamsalkan, "qalbu-nya tak pernah tidur, bahkan saat beliau mengantuk dan tidur."

Rasulullah selalu optimistis dan menjadi pemberi solusi atas setiap masalah yang mengemuka dalam kehidupan sehari-hari umatnya. Beliau berjarak dengan masalah dan tak pernah menjadi masalah ketika orang mempermasalahkan dirinya. Selalu menjadi simpul harmoni dalam ajang musyawarah dan muzakarah.

Kebersihan dan kesehatan jiwa raga Rasulullah terjaga, dalam keseluruhan konteks laku kehidupan. HOS Tjokroaminoto memaknainya dengan trilogi, "sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan, dan siyasah." Memelihara diri dari perbuatan syirk, sekecil dan sehalus apapun. Tidak ada kegandrungan lain yang melebihi kegandrungannya kepada Allah, baik dalam makna khuluqiyah - nilai kreativitas dan penciptaan (creativity mind and soul), rububiyah - pemeliharaan (creativity execution maupun created maintenance), maupun uluhiyah - ketergantungan hanya kepada Allah saja. Karenanya, do'a menjadi penting.

Bersihnya ilmu pengetahuan yang dilaksanakan dengan kebersihan jiwa dalam praktik kehidupan sehari-hari, menghindari manusia dari sikap munafik, bermuka-muka. Termasuk dalam memanifestasikan hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) dalam segala sisi peribadatan (ubudiyah), hubungan dengan sesama manusia (hablum minan naas) dalam segala model dan sistem sosio budaya, maupun hubungan dengan alam semesta dalam keseluruhan konteks lingkungan hidup ( tak terkecuali relasi hubungan dengan lingkungan alam dan semesta) sesuai dengan fungsi sebagai rahmat atas alam.

Sekecil apapun noktah syirk, adalah keburukan dan mencelakakan manusia, termasuk ketidak-mampuan mengelola diri kala kasmaran, ketika kegandrungan kepada tokoh idola, tak terkecuali perempuan idaman dalam fantasi, misalnya, melebihi akal sehat dan nalar cerdas. Karena kegandrungan yang melampaui batas kewajaran adalah bagian dari pandang mata yang buruk.

Dalam konteks ini, sebersih-bersih ilmu pengetahuan, akan memandu manusia melakukan aksi kehidupan dengan sebersih-bersih siyasah -- way, cara, strategi -- dalam melayari seluruh aspek dan dimensi kehidupan budaya manusia (sosial, ekonomu, politik, dan lainnya). Manusia akan lara, sansai, nestapa,  ketika mati dalam keadaan ternoda oleh syirk, bahkan syirk setitik zarrah, seperti ghibah (rumors - presumsi negatif ), buhtan (rekacerita negatif - hoax), dan fithan (fitnah) yang termasuk dalam kategori dosa besar, setara dengan 'memakan daging mayat saudara sendiri.'

Tauhid adalah tolak bala yang sesungguhnya, tak ada yang lain. yang mewujud dalam do'a dan penyerahan diri kepada Allah dalam suatu keinsyafan prima dalam mengakui kesalahan dan kekurangan diri sendiri, bukan tamimah yang diperlihatkan dan dipertontonkan dengan permintaan maaf berulang-ulang dan dilanggar berulang-ulang juga. Taubat nasuha adalah tolak bala yang nyata. Karena taubat nasuha adalah pernyataan nilai adalah manifestasi dari penyerahan diri prima: hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal mawla wa ni'mal wakiil. Cukuplah Allah bagiku, karena Allah sebaik-baik penolongku. Karena Allah yang Mahamelihat, sungguh Maha mengetahui apa saja yang dilakukan manusia, hamba-Nya.

Dalam konteks ini, berlakukah hakikat manusia hanya boleh lemah dan pandir di hadapan Allah saja. Caranya, menjalani hidup qana'ah, realistis, mnerima dan menjalani kebenaran hakiki, tanpa harus mencari-cari kebenaran administratif yang menipu. Kata Jalaluddin Rumi, orang pandir mencari-cari kebenaran tertampak (administratif) untuk menghindari kebenaran faktual.

Dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadan di tengah ancaman wabah mematikan yang penularannya bergerak sangat cepat dan sungguh menguji kebersihan tauhid, ilmu pengetahuan, dan siyasah kita saat ini, solusi terbaik yang harus dilakukan adalah taubat nasuha. Menghilangkan seluruh hal yang menjadi pencetus petaka yang diisyaratkan Rasulullah Muhammad SAW dari kehidupan kita sehari-hari.

Mulai dengan memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan dalam menjalankan apa yang sudah digariskan Allah dan diteladankan oleh Rasulullah Muhammad SAW - sebagai suatu aksi pendidikan terbaik. Kemudian, bersikap  husnudzan - berbaik sangka kepada insan sesama sebagai cara husnudzan kepada Allah. Terima dengan baik realitas kebenaran -- yang tampak atau tidak tampak, dan jangan sibuk 'mencari ketiak ular,' mempersoalkan sesuatu yang tak perlu dipersoalkan. Kebenaran yang tampak (administratif - formal) bisa jadi kebenaran kelontong (kitsch) dan menipu, karena jauh dari kebenaran hakiki.. | [ 02.05.20 | #jakarta #petaka #tauhid ] - setitik debu di jagad raya

Editor : Web Administrator
 
Budaya
21 Sep 20, 18:56 WIB | Dilihat : 241
Mengeja Marifat Lewat Pantun Ahmad Zacky Siradj
17 Agt 20, 10:37 WIB | Dilihat : 344
Kemerdekaan
20 Jul 20, 00:16 WIB | Dilihat : 439
Dimensi Kata di Tangan Sapardi Djoko Damono
Selanjutnya
Energi & Tambang