Renungan 77 Tahun Indonesia Merdeka

Merawat Negeri Terindah di Dunia

| dilihat 205

Bang Sèm

Tak ada yang menyangkal, Indonesia merupakan negeri terindah di dunia. Money.co.uk (7.2.22) via laporan bertajuk "Natural Beauty Report," menyebut, Indonesia mendapat skor tertinggi (7,77) - melampaui New Zealand, Kolombia, Tanzania, Mexico, dan lain-lain --  untuk tujuh indikator: hutan hujan, kawasan lindung, terumbu karang, gunung berapi, pegunungan, garis pantai, dan gletser.

Menggunakan data luas lahan versi Bank Dunia, setiap faktor yang menjadi indikator dihitung per 100.000 kilometer persegi.

Indonesia dengan garis pantai 50.000 kilometer dan 17.000 pulau yang tercatat, tentu layak dan pantas dinyatakan sebagai negeri terindah di dunia.

Raja Fahd dari Saudi Arabia, ketika berkunjung ke Indonesia beberapa masa lampau, berdecak dan menyebutnya sebagai sekeping surga di dunia: hadzihi qit'ah minal jannah 'alal ardh.

Karena keindahan dan kekayaan alamnya, Indonesia - sejak era Nusantara dulu - dari Ternate - Tidore hingga Papua dan Aceh, adalah negeri yang membuat berbagai bangsa di dunia melihatnya sebagai tujuan destinasi dengan segala kepentingan.

Portugis, Inggris, Perancis, dan Belanda menjadikannya sebagai tujuan penjelajahan dan kemudian menghamburkan syahwat penguasaan yang menjelma menjadi penjajahan.

Ekspedisi Magellen sebagaimana kemudian dicatat oleh Pigafetta - awal armada kelananya, meski lebih banyak menukilkan pandangan mata yang mengeksplorasi jarak budaya, tak mengabaikan keindahan alam, itu.

Begitu juga catatan-catatan lainnya tentang Sumatera yang direkam Itsing atau tentang Sumatera dan Jawa yang direkam oleh Stamford Raffles - Gubernur Jenderal Hindia Belanda, menunjukkan hal semacam itu.

Sejumlah kalangan berkeyakinan, keindahan dan kekayaan alam Indonesia merupakan faktor yang paling utama setiap kali membayangkan masa depan Indonesia.

Akan bagaimana Indonesia kelak, memasuki era baru - Society 5.0, setelah melewati fase fase era perburuan, agraris, industri, informasi, konseptual dan transformasi - kala kelak terjadi konvergensi segala perangkat kehidupan.

Soal kita ke depan bukan lagi terhanyut dalam segala sanjung puja tentang realitas Indonesia sebagai negeri terindah di dunia yang dalam konteks kekayaannya tak hanya kaya sumberdaya alam, tetapi juga kaya masalah. Khasnya politik, ekonomi, dan sosial yang antara lain ditandai oleh kemiskinan persisten dan dutch desease (penyakit walanda) - ironi kemiskinan di negeri kaya raya.

Carut marut politik, pola foreign direct investment (FDI - penanaman modal asing secara langsung), kegemaran berutang - sejak mengambil alih utang Hindia Belanda sebagai utang Republik, kemanjaan megalomania dengan kemegahan semu, dan kegagapan menghadapi perubahan dunia, adalah persoalan asasi yang harus dihadapi generasi baru kelak.

Para pejuang pendiri Republik, sejak Kyai Haji Samanhudi, Haji Omar Said Tjokroaminoto, Soetomo, Ki Hadjar Dewantara, Kyai Haji Hasyim Asy'ari, Kyai Haji Achmad Dahlan, Haji Agus Salim, Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan ribuan pejuang lainnya yang meneruskan perjuangan Sultan Hasanuddin, Sultan Iskandar Muda, Sisingamangaraja IX, Pangeran Diponegoro, Jendral Besar Sudirman, dan lain-lain sudah mewanti-wanti ihwal cara merawat negeri terindah di dunia ini.

Proklamasi Kemerdekaan RI (17 Agustus 1945) oleh Soekarno - Hatta, Apel Besar mempertahankan kemerdekaan di lapangan Ikada, Mosi Integral Mohammad Natsir -- sehingga kita mengenal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pasca Republik Indonesia Serikat adalah titik-titik sejarah yang tak bisa dilepaskan kaitannya dengan upaya merawat eksistensi negeri terindah di dunia ini.

Tahun ini kita merayakan - sekaligus memperingati - 77 tahun Indonesia Merdeka di tengah gelombang besar transformasi dunia yang membuktikan rontoknya fundamental sosial ekonomi politik dari sistem kapitalisme global dan sosialisme mondial.

Mestinya, tahun ini menjadi tahun menentukan untuk bangsa ini melakukan manifestasi kongkret atas cita-cita pejuang bangsa yang disuarakan Bung Karno dengan Trisakti: berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan unggul dalam peradaban (berkepribadian dalam kebudayaan).

Meski modal sumberdaya alam masih harus dikaji dan diteliti ulang untuk memperoleh data riil, modal nilai bangsa ini Bhinneka Tunggal Ika (dalam satu tarikan nafas) dan Pancasila terus relevan dengan perkembangan zaman.

Merujuk pada modal dasar nilai kebangsaan itu, hal utama yang harus dihentikan adalah gaduh politik akibat kegagalan memahami hakikat demokrasi - sehingga dikuasai oleh pragmatisme politik yang menyuburkan politik transaksional dan memanjakan oligarki.

Kita memerlukan investasi tapi tidak perlu harus memberi ruang kuasa bagi oligarki, yang terlibat  atau berkaitan dalam proses pembuatan kebijakan pemerintah yang dibedakan dari administrasi atau hukum.

Dalam konteks itulah, merawat negeri terindah di dunia ini, harus dimulai dengan membangun kesadaran kolektif dan mewujudkan secara antusias simpati, empati, apresiasi, dan respek antar sesama sebagai manifestasi dari cinta tanah air.

Modal nilai bangsa ini sangat memungkinkan kita merumuskan sistem sosial ekonomi khas pengganti kapitalisme global dan sosialisme mondial yang rapuh, yakni universe prosperity - kesejahteraan semesta berbasis keadilan - kemanusiaan dan kesetaraan, sebagaimana diisyaratkan dalam batang tubuh Undang Undang Dasar 1945 (yang disahkan 18 Agustus 1945).

Modal nilai bangsa ini memungkinkan kita merumuskan dan mewujudkan prinsip dasar demokrasi sebagai cara mencapai keseimbangan - harmoni kebangsaan dalam kesatuan, sebagai suatu sistem politik visioner yang berkedaulatan. Demokrasi beradab yang ditopang oleh musyawarah dan mufakat.

Dalam konteks itu, reinventing penyelenggaraan negara dan lembaga  sosial politik (termasuk partai politik, organisasi kemasyarakatan) menjadi sangat penting, dengan dilandasi oleh kemauan dan kemampuan melakukan reformulasi visionery kebangsaan untuk mewujudkan tujuan berdirinya Republik Indonesia.

Bangsa ini perlu merumuskan satu visi kebangsaan yang sungguh visi, agar tidak terjebak oleh jebakan fantasi  (fantacy trap) dengan kerangka idelistik (idealistic frame) yang jelas. Tentu dengan amat teliti dan cerdas menangkap berbagai fenomena aksi penyelenggaraan negara yang dapat menjadi vision killer yang mematikan visi tersebut.

Caranya? Mengubah minda (cara berfikir), khususnya di kalangan politisi untuk kembali ke jalan para negarawan; di kalangan petinggi untuk kembali ke jati diri sebagai pemimpin; di kalangan akademisi untuk konsisten dan konsekuen sebagai cendekiawan; di kalangan pemuka agama untuk kembali ke jalan peradaban mengurusi umat.

Sekaligus mengembalikan pendidikan pada sistem asasinya sebagai pendidikan yang bukan hanya pengajaran, dan membersihkan institusi pendidikan dari segala laku yang jauh dari nilai dasar pendidikan.

Artinya, dengan perubahan minda itu, kita menyiapkan generasi baru bangsa ini, setidak-tidaknya menjawab simptom para leluhur tentang tibanya masa terjadinya generasi yang hilang, kehidupan manipulatif dan koruptif, penurunan kualitas ekologi, terberainya ekosistem, dan menumbuh-kembangkan kepercayaan rakyat terhadap kalangan kaum terpelajar dan penyelenggara negara. Terutama, karena memiliki kembali pemimpin yang bukan sekadar petinggi negeri.

Merawat negeri terindah dunia ini adalah merawat kebudayaannya (sains, seni, ekologi, ekosistem, teknologi) sesuai perkembangan zamannya.

Menyiapkan generasi baru menjawab asumsi-asumsi yang, antara lain diisyaratkan James Martin tentang tantangan merawat bumi, membalik kemiskinan, pengendalian demografi, penaklukan virus - pandemi, ekonomi berkeadilan, singularitas, transhumanitas, keseimbangan keterampilan dengan kearifan, keserasian kecerdasan dan kearifan lokal, gaya hidup lestari, dan perancangan peradaban baru.

Juga menjawab asumsi Jared Diamond tentang penyelamatan ekologi - khasnya hutan, pantai, samodera, dan angkasa yang tak terpisahkan dengan upaya penurunan friksi, konflik, dan ekstrimisme sosial akibat kemiskinan persisten, struktural dan kultural.

Maknanya adalah kita perlu memandang seluruh aspek penyelenggaraan negara, pemerintahan, pembangunan dan penguatan masyarakat sebagai suatu gerakan besar peradaban. Kesemua itu, dimulai dari diri sendiri. Antara lain dengan berhenti memelihara kedunguan ideologis dan kecerdasan asesoris.

Saya optimistis, kita mampu melakukannya, ketika kita mau dan mampu tidak derhaka - berkhianat kepada tanah air tercinta ini, Indonesia Raya. Lihatlah, bagaimana Rwanda mampu mampu membalik keadaan.. |

Editor : delanova
 
Lingkungan
Polhukam