Mengubah Minda Menyuburkan Kecerdasan Lokal

| dilihat 434

Catatan N. Syamsuddin Ch. Haesy

KECERDASAN dan kearifan lokal terintegrasi dengan perkembangan kebudayaan.  Dalam konteks Indonesia, kecerdasan lokal lahir, tumbuh, dan berkembang bersamaan dengan proses transformasi peradaban, itu.

Menjadi sangat istimewa dan unik dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, karena secara geografis, Indonesia terletak di lintas budaya timur dan barat, Asia -  Australia.

Meminjam pandangan Bernard H.M Vlekke, dalam Nusantara (1961), selain karena posisi strategisnya, keunikan kebudayaan dan peradaban Indonesia, juga disebabkan oleh latar belakang anthropologis-nya. Vlekke menyatakan, Kepulauan Indonesia yang terletak di jalur laut utama antara Asia bagin timur dan selatan, dihuni oleh penduduk beragam ras. Campuran rasial di Hindia sangat menarik, karena tiga ras utama umat manusia berdiam di benua ini.

Temuan Dr. Eugene Dubois (1890) tentang pithecanthropus erectus dan temuan Oppenooth dan Von Koenigswald (1931-1941) atas kerangka manusia purba dari Kala Pleistosen di sekitar Surakarta, menunjukkan manusia Indonesia zaman Purba sebagai keturunan Asia. Akan halnya penelitian Sarasin (bersaudara) di Sulawesi menemukan ras asli orang Vedda (merujuk suku Vedda di Sri Langka), serupa dengan orang Hieng (Kamboja), Miao Tse dan Yao Jen (Cina), dan  Senoi (Semenanjung Malaya), juga Kubu, Lubu, dan Mamak (Sumatera), serta Toala, Mandar, Bugis, Bajau, Buton, Tolaki, dan lainnya (Sulawesi).

Perkembangan itu, kemudian diperkaya dengan gelombang besar migrasi orang Negrito dari kawasan Afrika dan Oceania. Tak terkecuali Proto dan Deutoro Melayu dan Astronesia (Sarasin), seperti orang Gayo – Alas (Aceh) dan Toraja (Sulawesi). Bahkan Arysio Santos dari pendekatan lain (berbasis pola mata pencaharian), meyakini Indonesia merupakan wilayah kehidupan bangsa Atlantis. Antara lain tertampak dengan keberadaan orang Dayak, Sulu, Sangir, Halmahera, dan lainnya.

Boleh jadi karena kompleksitas asal usul manusia Indonesia yang memang pluralis, itulah perkembangan kecerdasan lokal (local genius) yang mewujud dalam keragaman bahasa, penguasaan sains dan teknologi suku bangsa Indonesia sangat beragam dan multi wajah. Baik yang mewujud dalam bentuk aksara, mulai dari pegon (Sunda, Jawa, Bugis, Batak), sampai Arab, China, dan India.

Mengubah Minda

PRODUK kebudayaan (termasuk seni secara multi dimensional) pun menampakkan daya kecerdasan lokal yang membentuk filosofi, dan akhirnya kearifan lokal. Berkembangnya berbagai karya sastra yang mencerminkan kecerdasan lokal dan berhasil mentransformasi sastra lisan menjadi sastra tekstual merupakan salah satu indikatornya yang penting. Kita catat: Tajussalatin, Hikayat Prâng Sabeel, Gurindam 12, I La Galigo, Pararaton, Negara Kertagama, Çarita Parahyangan, Lontar, Babad Tanah Jawi, dan lainnya. Tradisi tekstual ini, menunjukkan, perkembangajn kuat kecerdasan lokal, yang digaris-bawahi dengan pernyataan suku Bajau: “Ilmu orang Bajau, seluas cakrawala, setinggi angkasa, sedalam lautan”.

Pada seni rupa dan kriya, kita dapatkan penguasaan kecerdasan lokal yang melahirkan teknologi yang memadukan tradisi keilmuan, seni, dan kemampuan teknik pengolahan. Kita temukan hal itu pada pembuatan keris, badik, parang, kujang, lembing, belati, dan rencong. Juga pada produk-produk peralatan rumah tangga berbasis logam: emas, perak, perunggu, tembaga, besi, dan timah. Berbagai temuan dalam bentuk tembikar, guci, piring, seni pahat dan ukur, pembuatan patung dan ragam hias lainnya pun menunjukkan hal itu. Termasuk di dalamnya pengolahan sumber daya alam menjadi busana, melalui perkembantgan teknologi tenun yang berkembang turun temurun.

Kecerdasan lokal manusia Indonesia, juga kita temukan dari beragam produk budaya dan teknologi. Baik dalam proses pembuatan perahu cadik, seni arsitektur yang amat beragam (mulai dari Rumoh Acheh, Bergonjong, Limas, Joglo, dan lainnya), sampai  produk-produk instrumen musik yang bersumber dari sumber daya alam lokal. Sebut saja kecapi atau pakacaping (Dayak, Sunda, Bugis, Jawa, Batak) dan Sasando (Rote).

Dalam konteks itu, dari sudut pandang budaya dan seni, kita menemukan kenyataan, bahwa kecerdasan lokal Indonesia tumbuh dan berkembang sebagai ekspresi peradaban yang dihidupkan oleh kearifan lokal. Kecerdasan lokal ini akan terus tumbuh dan berkembang bersamaan dengan perkembangan sains dan teknologi modern, bahkan post modernisma.

Dalam konteks masa depan, kecerdasan lokal ini harus terus dihidupan dengan mengubah minda (mindset) tentang pendidikan. Artinya, seluruh proses pendidikan bangsa ini ke depan, mesti lebih aktif menggali potensi daya cipta dan kreativitas keilmuan berbasis lokal. Semangatnya: menjadi transformer kecerdasan, bukan sebagai obyek atas proses transfer of technology yang selama ini menyeret kita ke dalam jebakan fantasi. |

Editor : sem haesy
 
Sporta
12 Okt 17, 09:39 WIB | Dilihat : 1039
Golf Memadupadan Olah Raga dengan Olah Rasa
12 Okt 17, 06:56 WIB | Dilihat : 574
Perkumpulan UMA Gelar Unity Golf Tournament 2017
16 Jan 17, 11:59 WIB | Dilihat : 778
Tim Elit Membidik Lallana
05 Jan 17, 10:12 WIB | Dilihat : 193
Laga Pembuktian Si Rubah
Selanjutnya
Humaniora
08 Des 17, 21:57 WIB | Dilihat : 199
Mufakat
25 Nov 17, 18:59 WIB | Dilihat : 614
Bu Aisyah Guru dan Ibu Kami
23 Nov 17, 20:26 WIB | Dilihat : 326
Mengintip Mappasitinaja di Munas KAHMI dan FORHATI
17 Nov 17, 08:48 WIB | Dilihat : 604
DOA ISTERI
Selanjutnya