Menguak Tirai Kontribusi Budaya Betawi untuk Karakter Bangsa

| dilihat 504

Catatan Bang Sém

FORUM Silaturrahmi Pendidik Betawi (FSPB) yang dipimpin H. Samlawi dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) yang dipimpin H. Beky Mardani mengambil langkah strategis :  membumikan kebudayaan Betawi sebagai ruh aktivitas pembangunan Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Organisasi kaum pendidik dan lembaga paling depan mengurusi kebudayaan Betawi, ini memilih jalan olah gagasan dan pemikiran yang diperuntukkan bagi kaum pendidik, menggelar seminar pendidikan.

Seminar bertajuk Membangun Karakter Bangsa berbasis budaya Betawi di era Millenial, itu digelar di Function Hall - jakarta Citywalk, Jakarta Pusat, Sabtu - 3 November 2018. Seminar itu dihadiri 1000 pendidik Betawi yang merupakan praktisi pendidikan dasar dan menengah di DKI jakarta.

Tampil sebagai pembicara dalam seminar itu, guru besar ilmu Antropologi Universitas Indonesia - Yasmine Zaky Shahab, guru besar Universitas Negeri Jakarta -- yang juga Deputi Gubernur bidang Pariwisata dan Kebudayaan  - Agus Suradika, dan dosen bahasa dan seni Universitas Negeri Jakarta - Tuti Tarwiyah, dipandu mantan Deputy Gubernur DKI Jakarta, Margani Mustar.

Guru besar Universitas Negeri Jakarta, Hj. Rugaiyah, Anggota Dewan Kesenian Jakarta Yahya Andi Saputra dan saya sebagai pembahas.

Yasmine mengungkap hal menarik, setelah melalui proses perkembangan yang lintas era, masyarakat Betawi relatif dominan dalam bidang kebudayaan dibandingkan dengan bidang lain, seperti ekonomi, sosial, politik, dan lainnya.

Di sisi lain, bila hendak menggunakan pendekatan Clifford Geerzt, kaum Betawi tidak mempunyai ikatan struktural sebagaimana etnis lain. Kendati demikian, sebagai demografer, Yasmine melihat realitas sosiologis kaum Betawi di wilayah Jakarta, cenderung akomodatif terhadap arus migrasi etnis lain, yang sekaligus membawa serta nilai budaya mereka.

Agus Suradika melihat realitas itu dari sudut pandang lain, tak hanya dalam konteks struktur sosiologis semata, tetapi juga karakter yang terbentuk karenanya. Antara lain, egaliterianisma yang dalam banyak hal sering diidentikkan dengan karakter kaum Betawi yang memang sosialistik-religius.

Agus melihat, misalnya, tiadanya tokoh sentral secara kultural sebagai ekspresi dari egaliterianisma, itu. Prinsip kesetaraan dan keadilan, yang kemudian menjadi nilai budaya global, telah lebih dulu teradopsi dalam watak budaya kaum Betawi.

Dalam satu tarikan nafas, apa yang dikemukakan Agus dalam paparan Yasmine, bernilai positif. Khasnya, ketika gambaran tentang manusia Betawi yang sering dinilai inferior, tak lagi demikian. Terutama, ketika pada paruh pertama dekade 70-an, berdiri Lembaga Kebudayaan Betawi.

Kelembagaan budaya ini dalam konteks budaya membawa hikmah besar. Termasuk pergerakan di sektor ekonomi, ketika kaum Betawi mengeksplorasi nilai budayanya sebagai masyarakat petani dan pedagang.

Tinggal lagi dalam sektor kebudayaan lainnya, seperti politik, kaum Betawi mesti bersatu-padu menentukan posisinya, walaupun karena aspek demografis tak juga serta-merta berubah dari masyarakat yang tergambarkan inferior menjadi superior. Di sini, kesadaran untuk memelihara nilai dan produk budaya menjadi penting, menurut Tuti Tarwiyah, dan mesti menjadi concern kaum pendidik.

Tuti yang tak pernah henti berkreasi dan tak pernah lelah memusatkan perhatian pada pendidikan kebetawian, itu mengambil amsal sederhana tentang pantun. Salah satu produk budaya Betawi yang terkait langsung dengan sastra dan literasi sebagai keperluan penting dalam memelihara dan mengembangkan budaya Betawi.

Merespon Tuti, Rugaiyah mengingatkan tentang tradisi mengaji, yang juga mesti dipahami sebagai proses edukasi mengkaji realitas dan perkembangan budaya kaum Betawi. Ia mengemukakan, pentingnya memberi bold sekaligus cursive pada prinsip : think globally, act locally. Sikap ini penting dalam proses pendidikan dasar dan menengah.

Yahya Andi Saputra mengupas realitas masyarakat Betawi dengan segala dinamika nilai yang meliputinya. Ia mengungkapkan komposisi masyarakat Jakarta, khasnya kaum Betawi yang kian beragam, dan kenyataan, bahwa tak banyak nilai dan produk budaya Betawi yang masih bertahan. Beberapa produk budaya itu, bahkan cenderung 'punah.'

Realitas yang dipaparkan Yahya Andi Saputra, itu adalah jawaban kontekstual atas berbagai pandangan 'risau' Agus. Dari paparan Yahya Andi Saputra, peserta seminar beroleh gambaran lebih luas, bahwa pendidik perlu getun dan kreatif dalam melakukan aksi profesionalnya di lapangan pendidikan. Tentu tak berhenti hanya sekadar memenuhi prinsip-prinsip metodologi didaktis pengajaran.

Merespon pandangan Yasmine -- dan juga pemikiran yang berkembang dari pembicara lain -- saya kemukakan relaso korelasi sosial yang tak sepenuhnya berlaku. Hasil riset Geerzt, misalnya -- terutama tentang Patron Client Relationship dan Traditional Authority Relationship -- tak sepenuhnya berlaku. Sehingga yang berkembang dan hidup lebih banyak relasi nilai, yakni adab.

Saya bersepakat dengan pandangan Yasmine yang mengisyaratkan kontribusi kebudayaan Betawi ke dalam kebudayaan nasional, setelah melalui proses negosiasi dan berlakunya asosiasio dan asimilasi budaya.

Terutama, karena sifat budaya Betawi yang relijius, kosmopolit, egaliter, adaptif, setara (ekuit dan ekual), asosiatif, assimilated, demokratis berproses melahirkan karakter dan ciri Betawi yang khas. Yakni, terbuka, dinamis, jenaka, populis, realistis, kontemporer, dan cenderung harmonis.

Produk-produk budaya Betawi yang dipaparkan Yahya dan sebelumnya diungkap Tuti -- yang dapat diajarkan dengan cara paling sederhana untuk memperoleh nilai edukasi -- menawarkan banyak hal yang bisa dikontribusikan dalam keseluruhan konteks kebudayaan nasional.

Sebut saja nilai socio medio rhytm yang bisa digali dari gambang kromong, tanjidor, orkes melayu, orkes keroncong, gambus, marawis, rebana biang dan sebagainya. Pun refleksi dialektis dan dramatis yang tereksplorasi melalui lenong. Yang keduanya, bertemu di belanga sastra dan literasi yang menawarkan nilai tersendiri, antara lain melalui pantun, hikayat, dongeng, jampe, syair, talibun dan keluarganya.

Pada produk budaya tari, dapat diperoleh harmoni yang saling melengkapi dengan produk seni rupa (termasuk batik) yang kuat sebagai produk seni berorientasi populis modes. Akan halnya silat, terutama silat tradisi yang berkontribusi pada silat prestasi diperoleh nilai heroisme, nasionalisme, dan patriotisme. Dan, tentu produk budaya dalam bentuk kuliner memperkaya khasanah budaya nasional.

Ke depan, saya sepakat dengan pandangan Rugaiyah tentang berfikir global visioner, aksi ngulik yang dikemukakan Yahya, dialektika terhadap realitas sosial - budaya - ekonomi - politik yang dicermati Agus. Pun, pengayaan metodologi proses belajar mengajar di lingkungan pendidikan formal dan masyarakat seperti dikemukakan Tuti.

Apalagi, secara historis, sesuai perkembangan era yang selaras dengan perkembangan teknologi informasi, sejak terjadi perubahan dari teknologi tabung elektrik ke transistor dan kemudian ke teknologi komputer dan chip, perlu adaptasi dan percepatan atau pemajuan kebudayaan Betawi yang lebih kongkret.

Kesadaran untuk merespon globalisasi ( a la Soros) dan glokalisasi ( a la Philip Kotler) dan jampi-jampi Alvin Toffler dan John Naisbitt, sudah hidup. LKB memulai dengan peluncuran aplikasi Betawi oleh Agus Suradika sebelum pembukaan seminar. Pula, tercermin dalam sambutan pengantar Beky Mardani - Ketua LKB yang menegaskan eksistensi LKB sebagai lembaga kebudayaan Betawi yang didirikan untuk merespon perkembangn zaman dan budayanya.

Seminar separuh hari, itu tentu belum memenuhi semua harapan H. Samlawi dalam sambutan di awal seminar, khasnya tentang perluasan wawasan budaya Betawi yang tak berhenti hanya pada produk budaya Betawi sebagai bahan ajar. Masih perlu dialog lebih fokus dengan materi lebih spesifik, termasuk bengkel kerja. Tentu yang berdampang langsung bagi kegairahan dan kebahagiaan kreatif para pendidik dalam bekerja dan berkarya.

Apapun, FSPB dan LKB telah memberi contoh, bagaimana beraksi sesuai dengan core, visi, misi, dan program aksi organisasinya. Betawi, dilihat dari aksi FSPB dan LKB itu patut beroleh apresiasi. Karenanya, tak salah kalau dedengkot Betawi, hadir dalam acara itu. Mulai dari Babe H. Edi M. Nalapraya, H. Nachrowi Ramli, H. Effendi Yusuf, H. Rusdi Saleh dan lainnya.

Paparan Yasmine, Agus Suradika, Tuti, Rugaiyah dan Yahya Andi Saputra, membuka ujung tirai kontribusi budaya Betawi atas karakter bangsa. Memperkaya pemahaman peserta seminar dan saya. Bahagia ada di antara para cendekia Betawi ini. Tabek !

Editor : sem haesy
 
Ekonomi & Bisnis
21 Sep 18, 09:06 WIB | Dilihat : 403
Giliran Direksi Pelindo III Dirombak
20 Sep 18, 12:28 WIB | Dilihat : 674
Matamu Itu !!!
18 Sep 18, 14:31 WIB | Dilihat : 505
Kwik Kian Gie Penasihat Prabowo Sandi
Selanjutnya
Energi & Tambang
25 Nov 18, 12:33 WIB | Dilihat : 326
Nicke Widyawati di Tengah Arus Transformasi Pertamina
24 Nov 18, 08:44 WIB | Dilihat : 143
Menjaga Marwah Jurnalis Via AJP2018
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2759
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 781
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
Selanjutnya