Mengikuti Langkah Diro dan Yesmil Mengolah Daya Haiku

| dilihat 1123

SémHaésy

Diro Aritonang - penyair budayawan dan Yesmil Anwar - aktor teater - cendekiawan - akademisi adalah dua nama yang mesti saya sebut amat punya makna dalam perubahan format saya berfikir tentang puisi. Khasnya sebagai medium ekspresi yang menghantarkan perenungan - interaksi empiris - dan pengenalan atas salah satu titik berangkat perubahan dramatik (transformasi).

Diro yang juga Presiden HaikuKu Indonesia dan Yesmil Anwar yang juga pembina HaikuKu Indonesia (lembaga berbadan hukum) menghidupkan kembali gairah saya berkesenian - khasnya bersastra -- secara dimensional.

Diro memberi saya bukunya berwarna kuning, Jagat Haiku dan buku Haiku karyanya bersampul legam, Suara Keheningan (the Sound of Silence). Akan halnya Yesmil Anwar memberi saya bukunya berwarna merah, Bunga Ilalang. Jagat Haiku mengupas dalam hal ihwal tentang haiku.

Buku-buku ini menganggit kembali kesadaran baru untuk berpuisi. Karena profesi sebagai imagineer sekaligus jurnalis, komunikasi korporat, dan pemasaran sosial - dengan pendekatan marketing paradox, saya memandang haiku sebagai format berekspresi secara komunikatif yang sejalan dengan transformasi budaya masyarakat.

Hermawan Kertajaya (HK) -- ketika sama-sama menjadi juri dalam penilaian BUMN Award (2011-2013) -- mengingatkan tentang pola komunikasi saya (hemat kata-kata dengan jeda) yang khas.  Sambil senyum dengan gaya motivatif, dia katakan, pola naratif semacam itu menjadi khas. Boleh jadi karena sebelumnya -- 1992-1996, sebagai brodkaster televisi -- saya terbiasa dengan visual.

Pada pertemuan imagineer (2014) di Tokyo dan beberapa kali kunjungan ke Jepang (2015 - 2016) saya tersadar kembali tentang Haiku.

Haiku merupakan bentuk lanjut hasil evolusi dari renga, sejenis puisi kolaboratif yang berasal dari awal alaf (milenium) pertama Cina. Renga tertua di Jepang berasal dari abad ke-8. Pada abad ke-13, renga telah berkembang menjadi gaya puisi Jepang yang unik.

Renga ditulis oleh para penyair di bawah arahan master renga, dengan masing-masing penyair menyumbangkan satu larik. Setiap bait dimulai dengan tiga larik, masing-masing lima, tujuh, dan lima (5-7-5) suku kata, diikuti oleh dua baris masing-masing tujuh suku kata. Larik pertama disebut hokku.

Inilah yang pada paruh kedua abad ke 16, berevolusi menjadi Haiku, lalu merebak di abad ke 17 sebagai puisi simpel satu bait dengan aturan ketat 5-7-5. Bentuk Haiku terus-menerus berjaya di Jepang.

Adalah Matsuo Basho (1644-1694) tercatat pertama kali, membuat tiga baris pertama renka menjadi puisi yang berdiri sendiri yang kita kenal sebagai haiku. Dalam beberapa versi kehidupannya, Basho digambarkan sebagai seorang begawan Zen, tetapi banyak informasi menyebut, Basho seorang penyair 'merdeka' yang melakukan praktik Zen terus-menerus dan menerjemahkan Zen dalam satu kesatuan nafas antara kigo, kireji, dan haiga dalam satu nafas.

Mengacu pada Basho yang menempatkan Haiku laiknya "emas yang ditempa hingga memadukan artistika - estetika dan etika." Memadukan deskripsi estetik dalam artistika kata yang menghasilkan keindahan etika, seperti diyakini  Lee Gurga, mantan Presiden Masyarakat Haiku Amerika.

Gurga menyebut, teknik cuting (kireji) merupakan teknik utama penulisan Haiku untuk memahami makna yang nampak dan yang tersembunyi, antara sesuatu yang tersurat dengan yang tersirat. Melalui teknik cutting itu kata saling beresonansi satu dengan lainnya.

Dari Diro Aritonang dan Yesmil Anwar, saya beroleh pengetahuan baru tentang relasi tautan keduanya dalam resonansi sublimatik untuk menciptakan suasana hati dengan  atmosfir semesta yang jelma menjadi ekspresi dan impresi. Ketatnya aturan dalam penulisan Haiku, justru membuka ruang merdeka kepada pembaca atau penikmatnya.  

Pembaca dibiarkan membuat tautan sendiri untuk "masuk ke dalam" haiku, menebarkan kesannya yang bisa kembali ke ruang imaji penyairnya. Pembaca dapat merasakan 'sensasi' satu pernyataan dalam dua frasa.

Kedua master Haiku Indonesia (Diro dan Yesmil) ini mengusik saya untuk mengenali lebih dalam kekuatan aksentuasi kata dalam bahasa ibu (khasnya bahasa Melayu) dalam keseluruhan konteks bahasa Indonesia. Terutama sebagai fitur yang memungkinkan Haiku menjadi penyeimbang di tengah arus besar singularitas yang bergerak bersamaan dengan perkembangan teknologi informasi dan ketergantungan manusia dengan perangkat komunikasi, bimbit (telepon selular).

Seperti ungkap David Cobb, dari British Haiku Society yang menyarankan Haiku seringkali lebih baik jika haijin mengalir saja dan mengabaikan pemicu lahirnya pernyataan secara spontan, kemudian memberikan dua efek. Misalnya korelasi perubahan waktu dan musim dengan fenomena alam yang menyertainya dan suasana hati yang memungkasnya.

Saya kontak beberapa teman imagineer dari Perancis, Inggris, Belanda, Italia, dan Thailand yang sama-sama berkunjung ke Kabukicho - museum Haiku di Kuyakusho-dori. Saya juga mengontak Akiko-san yang pernah memandu untuk mengulik sejarah kratif Haiku.

Sekarang saya baru paham, mengapa Haiku menarik perhatian Paul Fort, Rainer Maria Rilke, Paul Eluard, dan Paul Claudel, lantas diikuti Jack Kérouac dan Nicolas Bouvier, dan mengembangkannya di Eropa, dengan membentuk komunitas Haiku. Tentu, bukan hanya karena  para intelektual Prancis, itu mendalami puisi Jepang ini akibat ketidaktahuan tentang kunci-kunci retorika Jepang. Terutama untuk memahami dimensi budaya Jepang lewat Haiku.  

Padahal, Léon de Rosny (1837-1914), guru pertama bahasa Jepang di Perancis, hampir pesimistik, dan bangkit menebar Haiku sejak tahun 1859, ketika menerbitkan Oriental and American Review, yang berisi banyak artikel tentang budaya Jepang, sampai akhir hayatnya.

Bagi saya, tak mudah menulis Haiku. Dengan format 5-7-5 (majuma) tak semua penyair dari berbagai belahan dunia mudah menggunakan bahasa ibu mereka dalam menuliskan Haiku. Inilah yang kemudian memacu terbentuknya komunitas Haiku di berbagai belahan dunia untuk mengelola proses kreatif dan 'cara melahirkan'-nya.

Upaya menemukan cara melahirkan dan menghadirkan Haiku dengan rumusan klasik yang ketat, itu akhirnya termudahkan, lewat rumusan dari Jagad Haiku yang ditulis Diro (2018).

Master Haiku Indonesia ini memandu dengan kiat gamblang untuk masuk ke dalam Haiku dengan bahasa puitik: 5-7-5 suku kata dalam tubuhnya; Kigo adalah darahnya; Kireji denyut nadinya; Kesederhanaan adalah sifatnya; Keheningan adalah auranya; Tidak hanya zen atau zazen langkah spiritnya; Juga i'tikaf, ning, sirr, dan kekudusan; Estetrika dan puitika adalah pesonanya; Kecerdasan Haiku adalah mata rasa dan pikiran; Haiku adalah ruh puisi; Inilah Keindahan Haiku.

Diro memandu siapa saja yang berminat menjadi Haijin (penyair Haiku) masuk ke alam kreativitas Haiku dari berbagai jalan, termasuk jalan setapak. Mulai dari jalan filosofi sampai ke jalan realitas untuk mengisi ruang haiku dengan realitas pertama kehidupan sehari-hari.

Yesmil -- dalam suatu perbincangan personal -- memandu saya untuk masuk ke garba Haiku "i'tikaf, ning sirr, dan kekudusan" -- yang disebutkan Diro --, khasnya untuk memilah sesuatu yang empiristik (musim, pergantian musim, atmosfir dan lingkungan) dan non empiristik (perenungan, penyadaran, sublimasi, dan berbagai hal yang bersifat intrinsik). Diro dan Yesmil konsisten pada format Haiku klasik, meski sekali sekala ' rehat' lewat senryu.

Adalah Halal bil Halal Haijin Komunitas HaikuKu Indonesia (Juni 2019) di Cipaku Bandung yang memicu dan memacu saya untuk menjadi bagian dari HaikuKu Indonesia. Dan bersama para intelektual yang berada di dalamnya bergerak melakukan edukasi Haiku sebagai kecerdasan budaya, kepada berbagai kalangan. Termasuk korporasi. Khasnya sebagai bagian dari upaya menghidupkan corporate cultural responsibility yang berpijak pada prinsip corporate commiunity responsibility.

Haiku melatih proses kreatif mengharmonisasi nalar, naluri, rasa dan dria yang kompatibel dengan beragam niat dan kiat baik, menghadirkan kebajikan. Tak terkecuali melalukan 'syair syair' menebar cara mencapai kebahagiaan duniawi dan ukhrawi, terlepas dari petaka. Strategi kecerdasan budaya komunitas HaikuKu Indonesia ini yang menghidupkan gairah, meski tentu, tak semudah membalik telapak tangan. Terutama, kala petang berkemul, gelap datang menyergap, geliat bangsa.

Saya mengikuti jejak Diro Aritonang dan Yesmil Anwar. |

Editor : Web Administrator
 
Budaya
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 540
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 373
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 489
Tilik Literasi Betawi
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 616
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
Selanjutnya
Humaniora
12 Sep 19, 09:18 WIB | Dilihat : 301
BJ Habibie Cermin Besar Kebangsaan
10 Sep 19, 00:10 WIB | Dilihat : 277
Hidup itu sederhana
25 Agt 19, 19:31 WIB | Dilihat : 242
Hantu Drum Roll di Rumah Mompesson
25 Agt 19, 19:58 WIB | Dilihat : 373
Kesabaran dan Kebahagiaan Terletak pada Hal Sederhana
Selanjutnya