Memaknai Peribahasa Jawa

| dilihat 1877

AKARPADINEWS.COM | KEBUDAYAAN Jawa memiliki banyak ragam jenis peribahasa yang menjadi piranti tuntunan bagi masyarakatnya. Mulai dari tuntunan ideal yang menata sikap hidup hingga menyangkut tata krama dalam bersosialisasi dan beradaptasi yang baik di masyarakat.

Salah satu tuntunan yang mengajarkan kebaikan itu tersirat dalam peribahasa. Misalnya, pribahasa yang akrab di telinga ialah alon-alon waton kelakon. Secara harfiah, peribahasa itu memiliki arti pelan-pelan asal terlaksana. Karena arti harafiahnya itu, peribahasa ini sering dijadikan dalih mengidentikan orang Jawa sebagai sosok yang lelet dan pemalas. Asumsi itu muncul karena tidak melihat makna yang terkandung di dalamnya.

Kesan lelet dalam peribahasa alon-alon waton kelakon merupakan kesan yang salah tangkap dari kata alon-alon. Kata itu berasal dari reduplikasi kata dasar alon yang artinya pelan. Kata tersebutlah yang menghadirkan kesan kelambatan dalam peribahasa alon-alon waton kelakon itu.

Selain itu, keberadaan frasa waton kelakon menegaskan kesan negatif dari peribahasa itu. Frasa itu jika diartikan ialah "asal terlaksana" memberikan asumsi pekerjaan yang dikerjakan hanya sekedar dikerjakan tanpa memperdulikan kualitas dari hasil pekerjaan. Dengan begitu, kesan negatif yang terdapat dalam peribahasa alon-alon waton kelakon mengesankan orang Jawa merupakan pribadi yang lelet dan malas.

Padahal, peribahasa tersebut tidak mengajarkan orang Jawa untuk menjadi pemalas. Sebaliknya, peribahasa alon-alon waton kelakon mengajarkan ketelitian dalam menggarap sebuah pekerjaan. Kata ‘alon-alon’ lebih dimaksudkan untuk berhati-hati dan teliti dalam mengerjakan pekerjaan. Dengan begitu, hasil pekerjaan akan berkualitas baik.

Frasa waton kelakon pun memiliki makna sekunder yang juga menghargai sebuah proses. Sebuah pekerjaan yang dikerjakan. pada akhirnya tidak sekadar berorientasi pada hasil. Namun, juga mempertimbangkan aspek proses sebagai tahapan yang harus dilalui dalam melakukan setiap kegiatan. Dengan melewati proses yang baik, maka dapat menghasilkan hasil baik dan memberikan efek pembelajaran bagi seseorang.

Secara keseluruhan, peribahasa alon-alon waton kelakon sejatinya mengajarkan seseorang untuk melakukan pekerjaan dengan teliti, sambil mempelajari proses atau tahapan-tahapan pengerjaannya. Jadi, adalah salah kaprah jika peribahasa diartikan sebagai kemalasan.

Selain peribahasa tersebut, ada pula peribahasa lain yang sering salah tangkap pemaknaannya oleh masyarakat. Peribahasa itu ialah narima ing pandum. Secara harafiah, peribahasa itu berarti "menerima segala pemberian-Nya".

Arti harafiah tersebut sering dikesankan bahwa orang Jawa merupakan orang yang selalu pasrah dan tidak memiliki keinginan kuat untuk bekerja keras atau terkesan menerima nasib apa adanya.

Kesan itu sebenarnya tidak tepat. Karena, peribahasa narima ing pandum mengajarkan nilai keikhlasan setelah melakukan pekerjaan atau sesuatu hal dengan sungguh-sungguh. Dimensi keikhlasan itu merupakan tameng dari pengharapan berlebihan atas pekerjaan yang sedang dikerjakan. Dengan begitu, seseorang diharapkan tidak menuntut hal yang bukan haknya atau melebihi kewajibannya.

Selain itu, narima ing pandum juga mengajarkan nilai bersyukur atas apa yang dimiliki atau diterima. Orang Jawa, melalui peribahasa itu, diharapkan menjadi pribadi yang selalu mengingat Tuhannya sehingga tidak akan ada rasa takut kekurangan atas apa yang dimilikinya. Hal itu merupakan bagian dari dimensi religiusitas orang Jawa.

Nilai keikhlasan yang terdapat dalam peribahasa itu menjadi pengingat bagi orang Jawa bahwa tiap langkah kehidupan mereka ada sosok penguasa alam semesta atau superior being. Sehingga, apapun yang mereka terima, baik itu kegembiraan ataupun kedukaan memiliki makna bagi kehidupan mereka untuk terus mengingat kepada Sang Pencipta. Itulah arti dan makna sebenarnya dari peribahasa narima ing pandum.

Selain kedua peribahasa itu, ada banyak peribahasa Jawa yang salah dimaknai. Sebagai salah satu produk kebudayaan, peribahasa Jawa harusnya dimaknai dengan mendalam, tidak sekadar arti secara harafiahnya semata. Namun, juga memahami dari aspek filosofisnya.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Ekonomi & Bisnis
13 Agt 19, 10:55 WIB | Dilihat : 355
Inovasi dan Kerja Tangkas Hutama Karya Berbuah Laba
03 Agt 19, 11:23 WIB | Dilihat : 528
HKWay dan Lean Construction
08 Jul 19, 16:21 WIB | Dilihat : 778
BNI Syariah Istiqamah di Jalan Hasanah
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 963
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
Selanjutnya
Polhukam
16 Agt 19, 10:37 WIB | Dilihat : 163
Reorientasi Politik Bangsa Melayu Bukan Rasisme
16 Agt 19, 00:14 WIB | Dilihat : 221
Bersatulah Bangsa Melayu
15 Agt 19, 11:18 WIB | Dilihat : 305
Belajarlah Becermin Sebelum Buli Anies
11 Agt 19, 16:14 WIB | Dilihat : 264
Setiap Pejuang Akan Diuji
Selanjutnya