Percakapan Covid 19 dengan Budayawan dan Sosiolog

Jarak Budaya - Jarak Sosial dan Paradoks Kemanusiaan

| dilihat 279

"Manusia datang ke bumi sendiri dan kelak akan kembali dan dalam kesendirian, itu juga manusia melangkah di alam abadi, menjumpai Allah Maha Pencipta, sebagai masterpiece yang menjumpai Maha Kreator-nya. Untuk memahami hal itu, manusia perlu membuka cangkang dirinya, menemukan, mengenali, dan menampakkan dirinya," kata Prof. Dr. Endang Caturwati, SST, MS dalam percakapan, Jum'at (20/3/20). Ia berada di kediamannya di Bandung, ketika percakapan telepon dilakukan.

Guru Besar Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yang mendalami kearifan dan kecerdasan lokal, itu memandang, momentum karantina personal, social distancing bisa dimanfaatkan seluruh insan yang mau berfikir untuk lebih mengenali dirinya.

"Untuk mawas diri, melakukan kontemplasi, bermunajat kepada Allah, kemudian mengambil hikmah besar menguatkan imannya dan memahami senyatanya, bahwa hanya Allah saja yang Maha Kuasa. Manusia itu lemah. Sekaligus menyadari, di dunia kita tidak hidup sendiri, tidak juga hanya dengan flora dan fauna. Kita hidup bersama dengan makhluk supermikro yang disebut virus.., dan makhluk itu bisa membinasakan manusia," ungkapnya.

Dalam konteks itu, katanya, dalam kehidupan manusia sehari-hari manusia perlu menghidupkan terus kesadaran akhlak, yang di dalamnya ada norma dan etik. Baik dalam konteks hubungan dengan Allah, hubungan manusia dan dengan alam semesta. Triangle of life.

Apa bentuknya? Hidup bersih dan rendah hati. Bukankah wudhu itu latihan untuk hidup bersih, baik konotatif maupun denotatif. Bukankah salat, terutama saat rukuk dan sujud, kita berlatih untuk selalu bersikap rendah hati?

Sebagai makhluk yang diberi alat kelengkapan sempurna dengan fungsi sebagai pemimpin, kata Endang, manusia mengemban fungsi sebagai pemelihara alam semesta, hidup berdampingan secara harmonis. Diikat oleh nilai-nilai hidup yang artistik dan estetik, karena Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.

Dalam kearifan lokal Sunda, katanya, seorang pemimpin, itu digambarkan paripurna. "Sinatria pilih tanding, manusia kompeten yang mampu menguasai sains dan teknologi dan seluruh dimensi budaya," katanya. "Manusia, yang ada-nya bermanfaat bagi orang lain dan tidak meniadakan orang lain," sambungnya.

Tapi, tak cukup hanya itu. Manusia juga harus kewes pantes tandang gandang, fit and proper - punya kapasitas, kapabilitas, dan integritas. Namun, dia tahu diri, tidak pongah. Karena itu, harus berbudaya, yang ditandai dengan akhlak.

Misalnya, "Handap asor pamakena - pesona personanya tercermin dari sikap santun. Sebagai makhluk sosial dalam berinteraksi mampu berkomunikasi yang baik, Nyarita titih rantih." Dalam agama Islam, ini yang diperintahkan Allah, berkomunikasi bil hikmah wal mauidzaatil hasanah, dengan kearifan dan tutur kata - bahasa yang baik. "Coba pelajari bahasa komunikasinya para wali..," lanjutnya.

Dalam bentuk yang lain, pemimpin dalam kearifan Sunda digambarkan dengan pesona-persona yang terang dan jernih, terutama saat menghadapi masalah besar, seperti saat ini.

"Nyabda diunggang-unggang, dalam mengambil keputusan, memberi instruksi atau perintah, sangat matang pertimbangannya, sehingga tidak membingungkan. Tindakamnnya Ati-ati tur nastiti, cermat lagi teliti. Mun Nyaur diukur-ukur, dalam membuat pernyataan atau bicara dipikir dulu, tidak sembarang bicara. Dalam bersikap dan bertindak, bubuden teu ieu aing. Tidak pongah, tidak jumawa," jelasnya.

Nilai integritasnya juga jelas. Jujur sejujur-jujurnya, montong teuing kanu sejen ka dirina inyana sorangan oge tara bohong (jujur sejujur-jujurnya). Mampu melihat kondisi rakyatnya dengan cinta: husnudzon - baik sangka, bahkan bersikap elegan walaupun kepada lawan (Tara sirik, tara jail, tara hasud najan ka musuh).

Artinya, pemimpin itu, mesti hade lampah, hade peta, hade ucap, hade budi (berbudi luhur dengan segenap kemampuan akal budi yang dimilikinya, sehingga mampu memuliakan orang lebih dulu); Pangaweruh jeung pangartina mudu mapadanan (kewibawaannya tertampak pada kemampuannya memahami realitas dan memberikan solusi terbaik).

Endang mengambil hikmah dari peristiwa 'serangan' virus corona Covid-19, ini untuk memahami fakta dan realitas, akhirnya manusia sebagai makhluk sosial, memerlukan momen untuk menjadi dirinya sendiri.

"Social distancing yang sedang kita alami saat ini, mengubah banyak pemikiran sosiologi, yang secara budaya, sangat menarik," katanya. Menurut Endang, jarak fisik antar manusia yang dianjurkan, hanya satu meter. "Tapi, pernahkah kita membayangkan jarak budaya antar manusia dalam konteks waktu, bisa berbeda ratusan tahun?" tanyanya.

Teka Teki

Dari kaki gunung Tambora - Nusa Tenggara Barat, Dr. Sawedi Muhammad, sosiolog Universitas Hasanuddin, mempunyai cara pandang yang khas. Pemikir cerdas yang tangkas dan berpengalaman melakukan penelitian lapangan di kawasan pertambangan, fokus mencermati tentang jarak sosial terkait dengan dampak virus Covid-19.

Menurut Sawedi, "Jarak sosial menjadi rumus ajaib untuk menghindari penyebaran covid-19. Diyakini bahwa memisahkan jarak akan membuat virus sulit menemukan host baru untuk tumbuh."

Rumus ini, menurutnya, benar-benar kontras dengan apa yang telah ditegakkan oleh manusia untuk bertahan hidup di alam. Sejarah mengajarkan kita bahwa rasional di balik kesuksesan sapiens akhirnya menaklukkan bumi karena komunalitas dan kerjasama.

Demi bertahan hidup, ungkap Swedi, sekelompok kecil orang berkumpul untuk berburu, mengambil makanan dan berjuang melawan hewan liar. Manusia tidak bisa hanya mengikuti garis evolusi tanpa kerjasama.

Dengan menempel bersama, manusia dapat menumbuhkan buah-buahan, sayuran, dan mendomestikasi hewan. Mereka mengembangkan institusi, menciptakan norma, seni, agama, budaya, teknologi melalui interaksi sosial yang intens.

Bahkan penemuan hebat seperti mesin uap, kereta api, pesawat, senjata mesin tidak mungkin tanpa kerja sama tim dan kerja sama. Mereka akhirnya mengembangkan peradaban, memperluas wilayahnya bahkan menginvasi bangsa lain melalui gotong royong yang kokoh dan rantai komando yang kuat.

Manusia mengumpulkan sumberdaya dari komunitas kecil yang miskin menjadi kaya luar biasa dengan bekerja bergandengan tangan baik melalui perbudakan atau perusahaan modern.

"Dan sekarang, karena pandemi Covid-19, manusia memaksa untuk mengadakan jarak sosial, tinggal sendirian, bekerja dari rumah, menghindari jabat tangan, jauh dari ruang publik dan absen dari pertemuan umum," ungkapnya. Ini adalah paradoks kemanusiaan.

Ibu pertiwi semakin tua. Kita sekarang memasuki periode di mana rasionalitas pertanyaan religiusitas dan religiusitas ditantang oleh rasionalitas. Namun pandemi tetap teka-teki.

Ilmuwan berjuang untuk mengungkapkan apa yang benar-benar covid-19; dari mana asalnya dan formula apa yang harus menghapusnya. Apakah karena mengonsumsi kelelawar, pangolin, tikus atau kecoak, makanan tradisional yang telah dikonsumsi oleh orang Cina selama ribuan tahun?

Apakah covid-19 berasal dari kekuatan ibu bumi untuk menyembuhkan dan menyeimbangkan dirinya dari kehancuran yang terus menerus dan fatal yang dibuat oleh manusia? Atau dibuat dari tangan teror yang tidak terlihat oleh suatu bangsa, sekelompok orang untuk tujuan mereka sendiri?

Tidak ada tubuh yang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi. Satu hal yang saya percaya seperti sejarah mengatakan kepada kita bahwa dibalik gangguan besar dan bencana seperti kematian hitam, flu Spanyol, ebola, polio, malaria, anthrax, sars.. akan lahir era baru sebagai akibat dari kemampuan sapiens. Bangkit kembali dari krisis hebat.

Jadi, tetap tenang, jaga jarak sosial.

Hal penting yang kita butuhkan di saat mencoba ini adalah semangat kerja sama. Ingat, kerjasama adalah kunci untuk bertahan hidup, karena sapiens telah melakukannya selama ribuan tahun. | sem

Editor : Web Administrator
 
Budaya
22 Mar 20, 10:39 WIB | Dilihat : 280
Jarak Budaya - Jarak Sosial dan Paradoks Kemanusiaan
28 Jan 20, 09:32 WIB | Dilihat : 323
Saatnya Geli dan Terbahak
28 Okt 19, 11:57 WIB | Dilihat : 632
Sumpah (Serapah) Pemuda
Selanjutnya
Energi & Tambang