Jangan Sembarangan Nyomot Betawi

| dilihat 1752

N. Syamsuddin Ch. HAESY

KECENDERUNGAN meminjam Betawi hanya sebagai latar beragam produk audiovisual, sudah berlangsung sejak lama. Ada yang berhati-hati dan dilakukan dengan cara beradat. Ada juga yang serampangan.

Suasana itu sudah ada dan terasa, sejak spirit Ali Sadikin (di dekade 70-an) menempatkan kaum dan kesenian Betawi dalam keseluruhan konteks budaya, sempat disimpangkan arahnya. Kendati, oleh Alm Djajakusumah (Pak Djadug) dan Alm R. Soemantri, tetapi dengan visi yang jelas, sehingga terasa proporsional.

Sejak Pak Djadug dan Pak Soemantri menghidupkan kembali Lenong, sebagai salah satu kesenian Betawi, sejumlah kesenian Betawi lainnya pun hidup. Sebutlah itu Aneka Topeng (Jantuk, Blantek, dan sejenisnya), Tanjidor, Gambang Kromong, dan lainnya. Karena fokus pada jenis teater dan tari, Samarah, Zapin, Rodat dan sejenisnya, baru diopenin belakangan.

Para sutradara, aktor, dan aktris film asal Betawi, seperti Sjumandjaja, Nawi Ismail, Ali Shahab, Benyamin S, Hamid Arief, Deddy Mizwar, dan lainnya pun berhasil menghadirkan pesona khas Betawi dalam konteks budaya yang universal.

Apalagi, era itu merupakan era pergerakan cepat sistem radio siaran, sejak ditemukannya teknologi transistor yang massif, termasuk di kalangan generasi muda.

Formasi kesenian Betawi juga tak lagi tertampak hanya sebagai potret puzzel budaya. Pun tak sekadar paduserasi antar sub budaya nasional. 

Sjumandjaja lewat Si Doel Anak Betawi yang diangkat dari novel Aman Datuk Modjoindo bertajuk Doel Anak Djakarta, dan Si Doel Anak Modern, berhasil menghadirkan dimensi nilai kaum Betawi (pituin) dan Betawian (pituin dan mukimin) sebagai added value bagi keseluruhan konteks budaya Indonesia. Ini, ketika film dilihat sebagai ekspresi (tak hanya refleksi) budaya.

Hal yang sama berhasil dilakukan oleh Deddy Mizwar melalui Mat Angin, dan Rano Karno melalui Si Doel Anak Sekolahan, kendati dalam Si Doel terdapat family structure dubieus antara tokoh Doel dengan Mandra.

Nawi Ismail, pun berhasil, ketika dengan perspektif lain, menghadirkan realitas pertama kehidupan sosial masyarakat Betawi kebanyakan lewat berbagai film karyanya, sepeeti Biang Kerok, Biang Kerok Beruntung, Pitung Banteng Betawi, dan sejenisnya.

Ali Shahab dengan menggabungkan format fragmen televisi dan lenong, berhasil pula menghadirkan ekspresi Betawi dengan perspektif lain, lewat Pepesan Kosong.

Harmonitas budaya dalam dimensi sosial dan sosio habitus-nya sehari-hari tertampak pada karya Deddy Mizwar bertajuk Abu Mawas dan beberapa karya lainnya: Kiamat Sudah Dekat, Lorong Waktu, Para Pencari Tuhan, Alangkah Lucunya Negeri Ini, dan sejenisnya.

Dari tangan keluarga H. Benyamin Sueb sendiri (via almarhum puteranya Almarhum Beib Benyamin), dimensi budaya Betawi terasakan dan tertampak pada sinetron serial Mat Beken (yang diperankan sendiri oleh almarhum Benyamin S).

Beragam perspektif kaum Betawi bertemu dengan nilai budaya Betawi : brighten (semarak) - termasuk fresh (segar); egaliter ( berkesetaraan dan terbuka - termasuk humble (sederhana) dan firmly (lugas); trully (berkesungguhan) – termasuk konsisten dan konsekuen dalam berkomitmen; actually (untuk menyebut fenomena dan paradigma secara in fact) dengan parameter budaya yang religius, memelihara etika, dan proporsional; serta witty (jenaka) – dan karenanya nilai budaya Betawi tak terkungkung masa.

Hal semacam itu tak kita temukan pada kebanyakan produk audio visual belakangan hari, yang tak mampu melihat dengan jernih Budaya Betawi. Pun tak mampu melihat sosok tokoh, seperti Benyamin dalam keseluruhan konteks pribadinya yang terlahir sebagai anak Betawi. Bahkan, menjadi salah satu potret cerdas manusia Betawi.

Film  Benyamin : Biang Kerok adalah contoh mutakhir ketidakmauan, ketidaktahuan, dan ketidakmampuan produser dan sutradara film melihat dimensi kedalaman insaniah Benyamin S, sebagai sosok manusia Betawi yang tak pernah lepas dari budayanya.

Meski sutradara (Hanung) berkilah, film garapannya bukan genre film biopic dan commedy (boleh jadi untuk menutup kegamangan, karena film ini memang tak jenaka), film ini terbilang, sebagai film kebanyakan yang sekadar menjadikan Betawi hanya sebagai embel-embel.

Ketika memimpin Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), almarhum Benyamin S – bahkan beberapa hari sebelum wafat – masih sempat bicara kepada saya untuk memberikan ruang konsultasi bagi siapa saja produser dan sutradara film untuk melihat Betawi secara multidimensional, atau bahkan berdasarkan angle dan point of view khas yang bisa berdampak komersial sekaligus bermanfaat secara kultural.

Sebelumnya, ketika masih mengurusi operasional Televisi Pendidikan Indonesia, saya dengan almarhum Benyamin S dan Deddy Mizwar kerap melakukan diskusi kreatif, sehingga dimensi sosio budaya Betawi  (artistik, estetik, dan etik) tak hanya sebagai latar. Melainkan sebagai ruh itu sendiri.

Seperti halnya di jiran, apapun genre film (termasuk film televisi) yang dibuat oleh generasi kapanpun, akan terasa budaya Melayu-nya. Begitu juga dengan Thailand, yang sangat terasa thai-nya.

Itu juga yang pernah saya sampaikan kepada sejumlah petinggi stasiun televisi acap bertemu dalam berbagai kesempatan. Termasuk dalam evaluasi penyelenggaraan siaran yang mereka lakukan.

Para produser dan sutradara dapat berkonsultasi dengan Badan Musyawarah (Bamus) Betawi, Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Gerakan Kebangkitan (Gerbang) Betawi, Forum Jurnalis Betawi (FJB) dan lainnya, dengan para intelektualnya (dari berbagai disiplin keilmuan).

Intinya adalah jangan serampangan nyomot (memetik) atau meletakkan Betawi dalam karya mereka. Salah-salah bisa menyesatkan khalayak ramai.

Ilham insani kucuran samawi

Gagasan berkembang kuat maknanye

Sangat terbuka budaya Betawi

Tapi kudu ade kelimahnye.. |

Penulis anggota Gerbang Betawi dan Forum Jurnalis Betawi. Pernah menjadi Pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi.

 

Editor : sem haesy | Sumber : foto-foto dari berbagai sumber
 
Lingkungan
25 Jun 18, 16:31 WIB | Dilihat : 1744
Perlawanan Budaya Warga Sempur Bogor
24 Jun 18, 11:58 WIB | Dilihat : 692
Kreativitas Anak Betawi dalam Toponimi Jakarta
19 Jun 18, 11:09 WIB | Dilihat : 546
Merawat Hutan Memelihara Peradaban
Selanjutnya
Humaniora
12 Sep 18, 11:22 WIB | Dilihat : 242
Harapan Hampa Tenaga Honorer Kategori 2
11 Sep 18, 11:39 WIB | Dilihat : 274
Sadaf Taherian Sang Pemberontak
09 Sep 18, 01:37 WIB | Dilihat : 225
Mbak Tutut
23 Agt 18, 11:35 WIB | Dilihat : 1982
Hakekat Haji Mabrur
Selanjutnya