Isfahan - Shiraz dan Suara Hati Penyair Fatemeh Shams

| dilihat 215

Catatan Jeehan

MUSIM panas belum akan berakhir, tetapi sudah tiba di penghujungnya. Sepekan ke depan, musim panas akan berakhir. Suhu rata-rata di kota ini, sampai di atas 88 ° F. Pertengahan Juli lalu, adalah hari-hari terpanas, berkisar antara tinggi 98 ° F dan rendah 67 ° F.

Saya tak sempat menanti musim dingin, yang akan berlangsung dari November 2018 hingga Maret 2019 tahun depan. Biasanya pada musim dingin, suhur rata-rata berkisar di bawah 59 ° F. Diperkirakan, suhu terdingin akan terjadi pertengahan Januari 2019 mendatang, dengan rata-rata terendah 24 ° F dan tinggi 49 ° F.

Saya duduk di beranda rumah, menyaksikan awan yang menghiasi langit, mengisyaratkan variasi musiman yang signifikan selama tahun berlangsung. Alhamdulillah, jelang meninggalkan kota kelahiran dan tempat ayah ibu saya tinggal sampai kini, saya bisa menyaksikan hari paling cerah.

Tampak langit jernih hingga sore, beberapa bagian, tampak berawan. Ada juga mendung bergerak. Kota ini, meski di musim panas, kadang turun hujan. Saya senang setiap kali hujan turun.

Gerimis, terasa bagai tirai transparan, tempat saya menembus batas, hingga ke perbukitan Dago – Pakar di Bandung, tempat tinggal saya selama ini. Ke sana saya akan pulang, karena di sana, separuh hati saya tertinggal, bersama suami yang kali ini tak bisa menyertai saya ke sini.

Saya membayangkan dia seperti saya, menembus sela gerimis, dan hadir bersama saya di sini, di beranda rumah, tempat dulu dia datang meminang saya. Lelaki Indonesia yang saya kenal pertama kali di Bangi, pinggiran Kuala Lumpur. Saya membayangkan dia sedang menulis puisi untuk saya.

Sesaat saya melupakan dia. Saya bergegas ke Makam Hafez, penyair Persia terkenal di Shiraz. Makam ini dilengkapi dengan aula untuk mengenal penyair Persia. Ke sini, sebagian besar pengunjung dari berbagai daerah atau provinsi lain, datang. Di sini juga mereka bisa menulis, membacakan, dan kemudian meninggalkan puisinya. Pengunjung dari berbagai penjuru dunia, pun banyak meninggalkan puisi mereka dan beragam bahasa. Salah satu di antaranya, yang masih dengan sangat mudah saya dapatkan, adalah puisi untuk saya dari suami saya.

Makam ini dikelilingi taman sangat indah. Saya tak keberatan mengeluarkan 2 juta real (setara 4 Euro) untuk masuk dan berada di tempat ini, mendapakan kenangan terindah di hari lalu.

Shiraz berada di Selatan Iran. Di kota ini, anggur dan puisi bersatu dalam satu cawan. Anggur dari daerah ini dulu difermentasi menjadi wine beralkohol, sekarang tidak, karena wine dan minuman beralkohol, diharamkan agama, dan dilarang oleh undang-undang negara. Minum-minuman anggur olahan di Shiraz, tak akan mabuk. Sesuatu yang diolah sesuai standar dan sesuai takaran aturan agama, memang lezat dan menyehatkan.

Di sini, sebagaimana halnya di kota-kota lain di Iran, terutama di Isfahan dan Qom, saya selalu menemukan Iran sesungguh Iran. Masyarakat yang ramah, murah senyum, dan karib. Sebagian pesona ini, sering saya temukan di Bandung dan beberapa kota di Indonesia yang pernah saya kunjungi. Kehangatan keluarga di sini dan di Indonesia, memang mirip.

Hafez adalah pujangga kebanggaan Iran. Dia menjadi bagian dari masa lalu, masa kini, dan masa depan kebudayaan Iran yang karib dengan puisi dan prosa liris. Kali ini saya tak hanya datang dengan buku puisi Hafez. Saya juga membawa beberapa puisi dua penyair perempuan Iran masa kini, Fatemeh Shams.

Saya suka puisi-puisinya, meski dalam banyak hal saya berbeda pandangan dengannya. Puisi-puisinya lugas dan berhasil masuk ke dalam sukma.

Fatemeh Shams, selain seorang penyair, juga spesialis dalam sastra Persia.  Dia ahli sejarah sosial sastra Persia modern (pasca Revolusi Islam yang digerakkan Imam Khomeini). Dia menulis beberapa buku, termasuk yang terbaru yang akan diterbitkan Oxford University Press, tahun depan, bertajuk A Revolution in Rhyme: Penyair Resmi Republik Islam.

Informasi dari Oxford menjelaskan, buku Fatemeh kali ini merupakan studi tentang sastra pasca-revolusi dengan referensi khusus untuk penyair resmi Republik Islam dan peran yang dimainkan oleh negara di bidang produksi literasi sastra serta cara menggunakan sastra dalam konstruksi identitas.

Yang menarik bagi saya, Fatemeh juga meneliti konteks sastra dengan nisan makam di Iran, menjelaskan puisi sebagai media antara yang hidup dan yang mati. Persisnya, studi kasus puisi batu nisan di Iran kontemporer. Fatemeh menyelesaikan doktoralnya dan meraih gelar Ph.D di bidang Studi Oriental dari University of Oxford. Dia juga mengajar bahasa dan sastra Persia di berbagai lembaga akademis termasuk Universitas Oxford, Universitas SOAS dan Courtauld Institute of Art di Inggris. Selain keahlian akademisnya, Fatemeh juga seorang penyair pemenang penghargaan dengan tiga koleksi yang diterbitkan.

 Saya suka puisi Fatemeh bertajuk Puisi Cinta. Begini dia menulis.

Dengan puisi dan nafsu, dengan api dan malam /Aku menciptakanmu /Di saat-saat mabuk, dengan kegembiraan yang menggelora, Aku menciptakanmu //

Dengan tangan kosong, cawan berisi anggur / Inci demi inci, dan dengan cahaya jiwaku sendiri / Aku menciptakanmu //

Namamu hebatmu, selalu dikenal, di mana saja / Seperti Tuhan sendiri, tanpa gelar dan langsung / Aku menciptakanmu

Dengan tanah dari Tus, musik dan sukacita / Di sana, di mana matahari mencela malam / Aku menciptakanmu

Polah gilamu yang lahir dari Khorasan / Dengan rasa ciuman yang manis, dengan bibir yang bersatu / Aku menciptakanmu

Diam / Anda datang di malam hari, gurunku dipenuhi bintang-bintang / Tanpa alasan sama sekali, tanpa kata-kata yang bisa kutulis / Aku menciptakanmu //

Puisi Fatemeh bertajuk “Betapa Sulitnya..” saya sebut puisi perih. Dia berhasil merekam segala diksi tentang derita dengan narasi yang terang. Berulang kali saya baca puisi ini dengan suara, khas pembacaan puisi perempuan-perempuan Iran, di makam Hafez.

Puisi itu, seperti ini :

Betapa sulitnya untuk tetap hidup / Dalam perang, hujan peluru / Ketika di mana-mana mereka melihat / Apakah kematian dan kegelapan dan rasa sakit / Mereka harus berkemas dan pergi / Pergi ke mana, siapa yang tahu // Untuk daerah yang tidak diketahui /

Itu ada di mana saja, tapi di sana / Di belakang mereka, mereka kehilangan rumah / Hitam dengan abu, di depan / Jalan yang tidak rata dan keras / Dan banjir mereka yang melarikan diri /

Bahunya membawa seorang anak / Lengannya berada di sekitar yang lain / Di belakang mereka berlari bertiga / Seperti gundukan yang ditutupi debu-awan /

Ibu mereka menyusuri / Gunung keheningan dan ketakutan / Dari mata ke mata dengan perang, air mata mengalir / Seperti jus buah delima, merah darah.

Ah perang itu brutal / Menghancurkan harapannya dengan ketakutan / Mencuri kegembiraan anak-anaknya / Dengan ejekannya yang keras dan kasar /

Tiga anak - satu tidak tersenyum / Tiga anak - satu menderita demam, / Mereka tunawisma dan sekarang, diam / Seperti sebuah puisi yang tak pernah terdengar selamanya/

Di sisi jalan, bingung / Dengan kebaikan matahari / Mungkin seseorang akan datang / Dan lihat dia di sana, seseorang .../

Perang datang dalam sosok manusia / Kematian datang dalam rupa matahari / Matanya tertuju pada langit, membeku / Selamanya, dan tidak melihat siapa pun

Dan kemudian dia tidak melihat apa pun selamanya / Dan selamanya dia terus melakukannya / Keheningannya, dan menutup mata bayinya / Tentang kejahatan di sekitarnya, dan tertidur. 

Satu lagi puisi Fatemeh, yang kini tinggal di London, yang saya baca di tempat makam Hafez. “Jangan Pernah Tertidur,” tajuknya. Seperti ini :

Jangan pernah tertidur, karena ketakutan mimpi buruk / Duduk setiap malam sampai fajar tiba /

Tertangkap di antara bangun dan tidur, seolah tidak teguh dengan minuman / Dalam nama hidup untuk mati, dengan kebutaan mendekat /

Dalam cinta kosong tanpa arti yang berulang tanpa akhir / Dengan mengatakan, “Aku mencintaimu, sayangku! Apakah kamu mencintaiku?"/

Dalam menginginkan hal-hal yang mencapai akhir tetapi tidak pernah dimulai/

Dalam pekerjaan yang sia-sia, tidak ada basa-basi apa pun yang bekerja/

Untuk tak memiliki memori, tak ada batas, dan tak ada tempat / Untuk hanyut dalam pelukan dingin pria / Untuk menyeretmu dengan sebuah koper dan tiga ratus buku/ Untuk memiliki, di antara semua warna, kain kafan menyembunyikan wajahmu /

Merobek hatiku dari cadar dan semua yang mereka maksud/ Dari orang-orang yang batinnya adalah kakus kotor berbau busuk

Merobek hatiku dari kota aneh masa kecilku / Dunia siapa yang berdukacita masih tidak berdosa dan bersih /

Dari ragu tanpa akhir, dari tidak kembali ke sana / Dalam bangun mimpi tanpa Anda, di pelukan dan udara pengasingan / Dalam kerinduan yang tak terbatas untuk hal-hal yang tidak akan pernah saya lihat / Dalam "harapan", kata indah yang tidak hadir itu membawa keputusasaan/

Tanpa tanah air, tanpa cinta, dalam kebingungan liar / Dalam cul-de-sac sempit ini, saya tidak dapat berjalan bebas / Untuk memuntahkan Anda dari saya, dan ah meminta Anda dengan cinta saya/

“Oh negara yang terluka dan usang! / Apakah kamu masih memikirkan saya? ”

Saya memnyebut Fatemeh sebagai penyair rebellion. Sebagaian harapnya ada di masa lalu, mimpinya di hari esok, dan hari ini-nya di luar Iran. Dia menyulam impresi dan impresi personalnya dengan pandangan politik yang dibawanya sendiri. Jelma jadi refleksi kemarahan dan kepahitan.

Tapi, sebagaimana halnya para penyair terdahulu, ada penyair negara dan ada pula penyair non negara. Fatemeh berada di luar negara, dan dari London, dia melihat tanah kelahiran dan telaga cintanya dengan bahasa dan lingkungan sosial yang lain.

Bagaimanapun, puisi-puisi Fatemeh, telah menjadi katarsis, sekaligus ventilasi, sehingga suara batin dan dahaga tentang freedom of expression perempuan Iran, tersalurkan. Dia berbeda dengan saya, yang meskipun jauh dari tanah kelahiran, tetap berada di atmosfir Iran kini. |

 

*) Penulis pembelajar filosofi dan kebudayaan Islam dan Persia

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
25 Jun 18, 16:31 WIB | Dilihat : 1744
Perlawanan Budaya Warga Sempur Bogor
24 Jun 18, 11:58 WIB | Dilihat : 693
Kreativitas Anak Betawi dalam Toponimi Jakarta
19 Jun 18, 11:09 WIB | Dilihat : 546
Merawat Hutan Memelihara Peradaban
Selanjutnya
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 772
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 536
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 541
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
11 Jul 18, 08:53 WIB | Dilihat : 680
Sundulan Berkah Umtiti Hantar Perancis ke Final
Selanjutnya