ISBI Bandung Garda Depan Transformasi Budaya

| dilihat 536

N. Syamsuddin Ch. Haesy

INSTITUT Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung – sebagai bentuk mutakhir perjalanan lembaga tinggi seni dan budaya, dari akademi seni dan sekolah tinggi seni – bagi saya adalah institusi pendidikan seni dan budaya yang bergengsi.

Lembaga pendidikan tinggi seni budaya yang genap berusia 50 tahun ini, dapat tumbuh dan berkembang menjadi salah satu institusi pendidikan strategis, menyongsong seabad Indonesia Merdeka. Khasnya untuk mewujudkan cita-cita kolektif bangsa : Berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan unggul dalam peradaban.

Ketika beberapa hari lalu, Dr. Arthur Nalan, salah seorang pensyarah di ISBI menghubungi saya via telepon bimbit, saya tengah terlibat berdiskusi dengan Tan Sri Johan Jaaffar, salah seorang budayawan (sekaligus sastrawan, jurnalis, penulis skenario dan aktor teater) ternama Malaysia. Khasnya tentang kiprah mahasiswa ASWARA (Akademi Seni Budaya dan Warisan Negara) yang lincah mengulik naskah drama karyanya (yang diangkat dari cerpen Samad Said) Rumah Kedai Jalan Seladang.

Naskah drama ini bercerita sisi dramatik perjalanan bangsa Melayu di dekade 40-an, ketika penindasan fasisme Jepun bertumpuan dengan kaum machiavellian di tengah perjuangan kemerdekaan dari Inggris, dengan segala rona romantismenya. Setting cerita di Singapura, yang kala itu masih menjadi bagian dari Malaya.

Jaaffar mengubah-suai cerpen itu, kala menjabat sebagai pemimpin Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia, sebelum akhirnya menjadi media mogul Malaysia.

Mahasiswa-mahasiswa ASWARA sebagaimana kelaziman proses pendidikan akademi, wajib menyajikan karya pilihan mereka. Tak sekadar memanggungkan, melainkan meneliti peristiwa-peristiwa yang berada di sekitar setting cerita itu.

Termasuk mengulik relasi dan korelasi tata nilai yang berkembang dalam perkembangan peradaban dalam dimensi mutakhir, ketika terjadi perubahan dramatik atas nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat, termasuk pergerakan peradaban dari era agraris, industri, dan konseptual (di mana era industri 4.0 termasuk di dalamnya).

Mahasiswa seni dan budaya berkewajiban melakukan hal itu, karena mereka kelak akan menjadi telangkai, sekaligus penyelaras ketika proses perubahan dramatik masyarakat – negara – bangsa, menemukan titiksimpang peradaban.

Merekalah kelak yang akan berada di garda depan untuk mempertahankan dan mengembangkan tiga basis adab dan keadaban : artistika – estetika – etika.

Tantangan mahasiswa ISBI – Bandung, seperti sering saya diskusikan dengan Arthur, jauh lebih berat dibandingkan dengan mahasiswa ASWARA ataupun institusi sejenis di Touluse – Perancis, Amerika Serikat, Iralia atau Kanada.

Terutama, karena isyarat imajinatif seniman dan budayawan lokal Sunda di masa lalu menemukan realitasnya hari ini : “kawung mabur carulukna (génération perdue), gula leungiteun ganduan (perte de paramètre - pays de performance clé), samak tingaleun pandanna (imitation of mind), cai herang kintun kiruhna (dommages environnementaux), kyai leungiteun aji (les érudits perdent la prière), pandita ilang komara (les intellectuels et les culturalistes ne sont plus respectés).”

Dalam situasi masyarakat – negara – bangsa semacam itu, artistika dan estetika kebangsaan, tak lagi dinafasi oleh etika. Apalagi ketika kini, secara sosio-politik dan sosio-ekonomi, kita sedang kehilangan akalbudi. Khasnya, ketika Reformasi berubah menjadi deformasi, dan kita kehilangan momen memilih jalan perubahan dramatik (transformasi).

Pun ketika kita menyangka fantacy trap sebagai visi, lantaran terlalu lama tak pernah mempertautkan imajinasi individual menjadi imajinasi kolektif bangsa.

Tema dies natalis ke 50 ISBI, menarik. “ISBI Bandung Keur Tatar Sunda Jeung Nusantara”. Tak hanya karena tema ini menyimpan hasrat dan spirit agar ISBI Bandung dari tahun ini hingga ke depannya bisa terus berkontribusi banyak untuk Tatar Sunda dan Nusantara. Jauh dari itu, menguatkan komitmen ISBI – Bandung untuk berkontribusi pada kesadaran baru, bahwa seluruh kiprah kehidupan (termasuk pembangunan di dalamnya) adalah gerakan kebudayaan. ISBI berada pada posisi terdepan untuk melihat dimensi Kebudayaan dengan “K” besar dan dimensi kebudayaan dengan “k” kecil.

Secara internal (tanpa mengabaikan yang lain), arah ISBI sebagai lembaga pendidikan tinggi seni dan budaya (sejak kepemimpinan Saini KM, Endang Caturwati dan kini Een Herdiani) jelas rutenya transformasinya.

ISBI setidaknya – saya serap secara subyektif dan berjarak – menyediakan ruang besar sentra kepedulian, untuk dinamika pembelajaran, penelitian, publikasi akademik, performa kreatif, dan inovatif produk senibudaya, termasuk konsultasi (bagi negara) secara profesional di bidang seni budaya.

Outcome-nya adalah modal insan profesional dan kreatif yang kompeten, kredibel, dan bermarwah di bidangnya. Outputnya adalah karya pemikiran dan kreatifitas senibudaya bermartabat untuk memperkuat keberlanjutan produk senibudaya bangsa di hari kemarin, dan produk senibudaya baru yang sesuai dengan perkembangan peradaban, termasuk industri seni mutakhir dan kontemporer.

Semua anasir pendidik di lingkungan ISBI bertanggungjawab memainkan perannya sebagai pemandu kreativitas dan inovasi, pemikir, pelaku advokasi budaya, sehingga lahir para intelektual senibudaya yang selain berijasah dan bergelar akademik, juga profesional dalam berkreasi dan berinovasi menyajikan produk senibudaya yang bermanfaat bagi kemajuan peradaban bangsanya.

Dalam berbagai percakapan dengan Endang Caturwati yang pernah memimpin lembaga ini, dan mencermati pemikiran pimpinan akademik ISBI dalam suatu diskusi terbatas di tingkat nasional, saya optimistis, ISBI mampu memainkan perannya sebagai institusi pengembangan modal insan di bidang seni, budaya dan tradisi, yang berkualitas, memenuhi standar internasional, dan relevan sebagai salah satu energi penggerak transformasi budaya.

Tentu, ISBI Bandung tak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Perlu dukungan simultan dari negara dan pemerintah, baik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset – Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan instansi yang relevan. Dukungan kongkret. Dukungan yang merangsang dan mendukung kebijakan akademik pendidikan seni dan budaya yang dikembangkan bersama secara lokal, nasional dan regional.

Dukungan negara dan pemerintah menjadi penting, ketika ISBI dilihat sebagai salah satu institusi penting dalam menebar pendidikan artistik - estetik – etik bernilai khas Indonesia dan Nusantara (melihat Southeast Asia culture). Terutama ketika pusaran arus besar perubahan orientasi dari Eropa – Amerika ke Asia Pasifik sedemikian deras.

Secara internal, tentu saja, siapa saja pemangku kepentingan ISBI, mesti gencar menginformasikan dirinya dengan segala kegiatan dan sumberdaya yang ditawarkan sebagai pengelola modal insan seni, budaya dan tradisi.

Di sisi lain, tentu ISBI, saya percaya, mampu memainkan fungsinya dalam menggagas, merancang dan mengimplementasikan pemikiran dan aksi budaya yang sesuai dengan perkembangan zaman.

ISBI Bandung saya yakini mampu menjadi garda depan Transformasi Budaya di Indonesia, energi besar transformasi budaya Nusantara. Mulai dari transformasi minda (transformation de l'état d'esprit). Dirgahayu ke 50 Tahun ISBI – Bandung |


(Penulis, Budayawan - Imagineer)

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
03 Okt 18, 15:25 WIB | Dilihat : 411
Gunung Soputan Minahasa Tenggara Meletus
01 Okt 18, 17:02 WIB | Dilihat : 317
Mari Menanam Kebajikan di Donggilu
29 Sep 18, 09:58 WIB | Dilihat : 249
Bangun Solidaritas Sosial Bantu Korban Gempa Sulteng
Selanjutnya
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 823
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 566
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 572
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
11 Jul 18, 08:53 WIB | Dilihat : 717
Sundulan Berkah Umtiti Hantar Perancis ke Final
Selanjutnya