Munas Imbasadi

Ikhtiar Mempertahankan Bahasa Daerah

| dilihat 480

AKARPADINEWS.COM | BAHASA daerah merupakan salah satu produk kearifan lokal masyarakat Indonesia. Bahasa daerah juga menjadi identitas yang mencerminkan kekayaan budaya suku yang ada di nusantara. Sayang, warisan leluhur yang di dalamnya terdapat nilai itu kian luntur. Bahasa daerah kian tersingkir oleh bahasa asing maupun bahasa gaul yang cenderung merusak tatanan bahasa Indonesia.

Persoalan itu menjadi perhatian Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia (Imbasadi) dan dibahas dalam Musyawarah Nasional (Munas) XXII yang diorganisir Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa (KMSJ) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Dengan mengangkat tema bertajuk: “Menggali Kearifan Lokal Yang Terkandung Dalam Bahasa Daerah Sebagai Upaya Membangun Kesatuan dan Keutuhan Budaya Bangsa”, Munas tahun ini ditujukan untuk memupuk kesadaran akan pentingnya menjadikan bahasa daerah sebagai alat komunikasi, sekaligus menjaga keutuhan budaya bangsa.

Kegiatan tersebut diikuti delegasi dari 13 universitas di seluruh Indonesia yang memiliki program studi bahasa dan sastra daerah, antara lain: Universitas Padjadjaran, Universitas Negeri Sebelas Maret, Universitas Sumatera Utara, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Semarang, Universitas PGRI Semarang, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Pendidikan Indonesia, Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, dan Universitas Hasanudin. Munas tersebut diadakan 26-30 Oktober  2016.

Dalam pelaksanaannya, terdapat rangkaian acara yang terdiri dari Simposium Nasional, Pagelaran Wayang Orang yang bekerjasama dengan Sekar Budaya Nusantara di TMII, bakti sosial dan donor darah, peringatan Sumpah Pemuda, wisata budaya, gebyar budaya, dan kunjungan ke perpustakaan pusat UI. Sementara acara inti dari kegiatan ini diadakan di dua tempat, yaitu di FIB UI, Depok, dan Graha Wisata Ragunan, Jakarta Selatan.

Acara Munas ini dibuka oleh Prapto Yuwono, M.Hum, Manajer Umum dan Fasilitas FIB UI, selaku perwakilan Dekanat FIB UI, di Auditorium Gedung IX FIB UI. Prapto berharap Imbasadi dapat menjadi garda terdepan dalam pemeliharaan, pengembangan, dan pemantauan isu-isu kebudayaan, termasuk di dalamnya bahasa dan sastra daerah. Prapto yang juga dosen Program Studi Jawa FIB UI berpandangan, Imbasadi dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam membuat kebijakan terkait kebudayaan nusantara.

Dalam acara Simposium Nasional yang diisi Prof Dr Multamia Retno Mayekti Tawangsih Lauder, SS Mse, DEA, guru besar Linguistik UI, dihabas pentingnya bahasa daerah sebagai bahasa ibu dari berbagai etnisitas di Indonesia. Multamia mengemukakan, dari sudut pandang etnolinguistik (ethnolinguistics) bahasa ibu adalah jendela untuk melihat realitas kehidupan.

Dia menjelaskan, dunia adalah realitas yang sangat kompleks, di mana terdapat suku bangsa yang mempunyai cara tersendiri dalam menyikapi realitas tersebut. Menurut dia, bahasa khususnya kosakata, dapat digunakan para linguis untuk memahami norma, etika, dan cara pandang suku bangsa atau bangsa tertentu melihat realitas dunia.

Dosen yang karib disapa Mia, yang juga dosen pengajar di FIB UI itu menjelaskan, ada 706 bahasa yang masih hidup dan digunakan di Indonesia. Selain itu, terdapat 75 bahasa berstatus sekarat dan 13 di antaranya telah dinyatakan punah.

“Berarti dari 706 bahasa yang hidup di Indonesia terdapat 341 bahasa daerah yang memerlukan prioritas perhatian yaitu 266 bahasa berstatus lemah dan 75 bahasa berstatus sekarat. Mungkin hal ini belum sepenuhnya disadari oleh para linguis Indonesia apalagi oleh non-linguis,” ungkapnya dalam rilis yang disampaikan Imbasadi belum lama ini.

Untuk itu, Mia menyarankan, perlu ada upaya pendokumentasian dan penginventarisasian bahasa-bahasa daerah yang terancam punah itu dalam bentuk sensus bahasa. Namun, untuk melakukan hal itu, ada beberapa kendala yang dihadapi.

Mia menjelaskan, kesulitan utama bukan pada lokasi di mana bahasa itu berada. Namun, lebih pada informasi dasar tentang bahasa mana yang sudah dalam keadaan sekarat. Kesulitan lainnya yaitu mencari informan. "Biasanya bahasa yang berstatus sekarat ini penuturnya sudah sulit dicari,” paparnya.

Simposium itu diakhiri dengan diskusi terbuka antara narasumber dan peserta. Hasil diskusi itu kemudian dimasukkan ke dalam agenda Imbasadi sebagai salah satu organisasi mahasiswa yang memiliki perhatian terhadap keberadaan bahasa daerah di Indonesia.

Imbasadi yang berdiri pada tahun 15 Februari 1993 di Universitas Hasanudin merupakan salah satu organisasi mahasiswa yang menjadi garda terdepan dalam upaya menjaga, mengembangkan, dan memelihara bahasa dan sastra daerah di Indonesia. Upaya itu diimplementasikan dalam berbagai program kerja hingga saat ini.

Meski demikian, Imbasadi dihadapi beberapa kendala yang kerap menghambat program kerjanya. Faizal Hindarto, Presiden Imbasadi periode 2015-2016 mengatakan, kendala terbesar yang dihadapi ialah sulitnya membangun koordinasi antara pengurus dengan anggotanya yang berada di berbagai universitas negeri.

“Permasalahan utama yang menjadi kendala dalam kepengurusan Imbasadi setiap tahunnya adalah koordinasi yang sulit dibangun dengan baik lantaran keterbatasan jarak yang berjauhan, seperti hubungan LDR (long distance relationship),” tutur Faizal. Meski demikian, Faizal yang merupakan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya optimistik Imbasadi mampu mengatasi kendala tersebut dengan optimal.

Selaras dengan Faizal, Hari Pamungkas, Ketua KMSJ FIB UI periode 2015-2016 mengatakan, seluruh anggota Imbasadi bisa mengatasi kendala tersebut. Menurutnya, seluruh anggota Imbasadi memiliki semangat luar biasa dalam menjaga dan melestarikan bahasa daerah sebagai salah satu kearifan lokal.

“Saya optimistik Imbasadi bisa menjadi garda terdepan, pelindung dan pelestari bahasa daerah sebagai salah satu kearifan lokal. Bahasa daerah sejatinya dapat mempererat persatuan bangsa Indonesia yang beraneka ragam,” ungkap mahasiswa Program Studi Jawa FIB UI angkatan 2013 tersebut.

Pada puncak acara, digelar rapat laporan pertanggungjawaban pengurus Imbasadi periode 2015-2016. Dalam kesempatan itu juga diadakan musyawarah untuk pemilihan Presiden Imbasadi terbaru. Dan, terpilihlah Yonaldi Dasa, mahasiswa Sastra Sunda Universitas Padjadjaran angkatan 2014. 

Hari mengucapkan selamat kepada Yonaldi dan berharap Imbasadi ke depannya dapat lebih solid dan memperjuangkan misi-misi sebagai garda terdepan pelindung budaya lokal Indonesia. Dia pun berharap, misi-misi itu dapat dirumuskan dan diajukan sebagai rekomendasi kepada pemangku kebijakan untuk lebih memperhatikan kebudayaan asli Indonesia.

Acara tersebut berakhir tanggal 30 Oktober 2016 dengan membawa misi-misi segar untuk pelestarian budaya nusantara. Besar harapan, para anggota Imbasadi dapat menjadikan organisasi yang memiliki pengaruh besar terhadap perjuangan kebudayaan. Dengan demikian, keberadaan kebudayaan lokal yang penuh dengan nilai-nilai adiluhung tak sirna ditelan bumi.

Indonesia sejatinya merupakan negara yang terdiri dari aneka ragam suku. Realitas sosiologis itu menjadi ciri khas yang membedakan Indonesia dengan negara lain. Uniknya, keanekaragaman suku itu disertai dengan kekayaan budaya sebagai identitasnya. Salah satu kekayaan budaya itu adalah bahasa daerah.

Dr Dwi Puspitorini, M Hum, dosen Linguistik di Program Studi Jawa FIB UI beberapa waktu lalu mengatakan, bahasa daerah merupakan kekayaan yang dimiliki Indonesia jauh sebelum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Kekayaan tersebut merupakan wajah dari apa yang disebut Indonesia. Bahasa daerah memiliki fungsi sebagai sumber kekuatan persatuan Indonesia,” ungkapnya.

Namun, keberadaan bahasa daerah semakin tereduksi oleh bahasa nasional, termasuk bahasa asing yang menyusup dalam proses interaksi antar anggota masyarakat di Indonesia. Bahasa nasional sebagai instrumen pemersatu mengharuskan setiap warga masyarakat Indonesia menguasainya. Bahasa Indonesia menjadi media yang menjembatani komunikasi antar etnis yang berlatarbelakang corak budaya dan identitas yang berbeda. Sementara bahasa asing seperti bahasa Inggris mempengarui proses komunikasi seiring perkembangan globalisasi, di mana bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa internasional.

Akan tetapi, bagi Dwi, keberadaan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah, tidak saling melemahkan. “Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan fungsi bahasa daerah sebagai identitas kelokalan suku-suku di Indonesia, tidak saling melemahkan satu sama lain,” ucap dosen pengampu mata kuliah Morfologi Sintaksis Jawa tersebut.

Hal yang paling melemahkan posisi bahasa daerah, Dwi berpendapat, karena sikap kurangnya kesadaran para penutur bahasa daerah, masyarakat pengguna bahasa daerah, dan kebijakan pemerintah. “Kurangnya kesadaran tentang peran penting bahasa daerah menjadi sumber utama permasalahan tersebut,” paparnya.

Hal itu tentu tidak dapat dibiarkan karena mengancam eksistensi bahasa daerah. Setidaknya, temuan dari Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Maluku Utara, menunjukan, bahasa daerah makin tersingkir. Dari hasil penelitian yang dilakukan Fakultas Sastra dan Budaya Unkhair seperti dikutip Antara (7/10), ada 32 bahasa daerah di Maluku Utara yang mulai mengalami kepunahan. Temuan itu tentu memprihatinkan.

Menurut Dwi, faktor kepunahan bahasa daerah disebabkan sikap penutur bahasa daerah itu sendiri. “Orang tua yang masih mampu berbahasa daerah, tidak merasa perlu memberdayakan anak-anaknya dengan berbahasa daerah yang memadai. Orang tua berpikir, kemampuan berbahasa Indonesia dan berbahasa asing lebih menjamin masa depan anak,” papar perempuan kelahiran Magelang, 11 Oktober 1964 tersebut. Dwi menilai, bahasa daerah diidentikan dengan kekunoan, sedangkan bahasa Indonesia dan bahasa asing identik dengan kekinian.

Perilaku penutur yang memandang sebelah mata bahasa daerah itu tidak hanya melunturkan keberadaan bahasa daerah. Namun, juga mengancam eksistensi kebudayaan lokalnya. Karena, sikap yang meremehkan bahasa daerah cenderung disertai pola perilaku yang menempatkan budaya asing sebagai sesuatu yang modern. Sedangkan tradisi dan budaya daerah sebagai sesuatu yang kuno dan tidak “gaul”.

Bahasa dan budaya daerah seharusnya dimaknai sebagai kekayaan intelektualitas dan karakter etnisitas. Dwi menegaskan, bahasa daerah adalah mental tools atau piranti batin yang berguna untuk mengembangkan kemampuan berpikir pada tahap tertinggi, seperti menganalisa, mengevaluasi, dan mensintesa. "Bahasa ibu adalah bekal seumur hidup anak yang berperan dalam keseluruhan hidup anak. Bahasa asing adalah bekal anak pada masa dewasa yang dapat diberikan setelah fondasi bahasa ibu terbentuk,” jelasnya.

Dengan berkembangnya kemampuan penguasaan bahasa ibu, maka generasi muda Indonesia akan memiliki ciri khas dalam berpikir yang membedakannya dengan bangsa lainnya. Hal itu juga akan memberikan warna tersendiri dalam menghadapi tantangan di era globalisasi saat ini. Dengan begitu, generasi muda Indonesia tidak sekedar sebagai pengikut semata. Namun juga dapat menjadi generasi pioneer dan intelek yang berbasis kultural.

Untuk menguasai bahasa asing, Dwi berpendapat, generasi muda Indonesia harusnya memiliki fondasi bahasa ibu terlebih dahulu sehingga proses tumbuh kembang anak sejalan dengan lingkungan masyarakat Indonesia. Di beberapa negara maju, menurut Dwi, bahasa asing baru diajarkan kepada anak-anak ketika mereka menginjak sekolah menengah. Sedangkan untuk anak-anak di sekolah dasar, diutamakan pengajaran bahasa ibu. “Mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk mampu menguasai bahasa asing karena fondasi bahasa ibu sudah kokoh,” tuturnya (Baca: Bahasa Leluhur Jangan Meluntur).

Bahasa daerah merupakan piranti batin yang mengajarkan generasi muda untuk tetap memiliki rasa budaya ke-Indonesia-an. Karenanya, pembelajaran bahasa daerah harus sama pentingnya dengan pembelajaran bahasa Indonesia dan jauh lebih penting dari pembelajaran bahasa asing pada level pendidikan dasar.

Untuk membangun kesadaran itu, tidaklah mudah. Dibutuhkan komitmen bersama masyarakat beserta pemerintah sehingga dapat terjadi perubahan cara pandang soal bahasa daerah. Lalu, perlu dibangun kesadaran untuk menyingkirkan stigma kekunoan sehingga bahasa daerah digunakan sebagai bagian dalam aktivitas masyarakat modern saat ini.

Peran pemerintah untuk mencegah kepunahan bahasa daerah sangat penting. Banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah seperti memasukan mata pelajaran bahasa daerah dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah serta menetapkan bulan Oktober sebagai bulan bahasa.

Dwi juga menekankan perlunya pemberdayaan penuturnya di dalam sebuah keluarga. "Jadi, kalau pemerintah berniat melakukan upaya pemeliharaan bahasa daerah, lakukakan melalui pemberdayaan penuturnya, dalam hal ini orang tua,” katanya.

Upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung layak dicontoh. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, mencontohkan kebanggaannya menggunakan bahasa daerah. Dia menganggap, penguasaan bahasa daerah sama pentingnya dengan menguasai bahasa asing. Karenanya, Kang Emil, sapaan akrabnya, di setiap hari rabu, mewajibkan masyarakat Bandung menggunakan bahasa Sunda. Sementara di hari Kamis, dia menetapkannya sebagai hari berbahasa Inggris.

Pentingnya menjaga eksistensi bahasa daerah diharapkan menyadarkan masyarakat untuk mengubah cara pandang dalam berbahasa. Masyarakat, khususnya orang tua, harus bangga dengan bahasa yang diwarisi para leluhur dan mentransformasikan kepada anak-anaknya. Dengan begitu, akan muncul generasi yang memiliki identitas keindonesiaan. | M. Yamin Panca Setia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Sainstek
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 112
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
23 Des 16, 05:31 WIB | Dilihat : 241
Menanti Kehadiran Penghasil Listrik Berteknologi Nano
16 Des 16, 07:34 WIB | Dilihat : 334
Oasis, Mobil Unik dengan Kebun Mini
11 Nov 16, 14:21 WIB | Dilihat : 835
Motochimp, Si Mungil yang Unik
Selanjutnya
Lingkungan
05 Jan 17, 21:34 WIB | Dilihat : 455
Hidup Sejahtera di Permukiman Terapung Kampong Ayer
02 Jan 17, 15:50 WIB | Dilihat : 275
Merawat Cinta di Bali
28 Des 16, 14:15 WIB | Dilihat : 312
Surga di Jayapura
23 Des 16, 18:26 WIB | Dilihat : 467
Cisomang Bergeser, Cipularang Terganggu
Selanjutnya