Peluncuran Buku Tubaba

Ikhtiar Membangun Tubaba Lewat Sastra

| dilihat 4572

AKARPADINEWS.COM | BUPATI Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, Umar Ahmad menyebut daerahnya sebagai "Daerah bukan-bukan". Sebutan yang rada membuat dahi mengkerut. Namun, itulah realitas di kabupaten yang dipimpinnya. Kabupaten yang dimekarkan tahun 2008, berpisah dari Kabupaten Tulang Bawang itu memang "daerah bukan-bukan" karena bukan daerah tujuan, bukan pula daerah lintasan.

Agar tidak terus-terusan menjadi "daerah bukan-bukan", pemerintah setempat berinisiatif menempuh jalan kebudayaan. Salah satu ikhtiar yang dilakukan adalah merealisasikan program budaya dengan mengkonstruksikan simbol-simbol budaya baru. Misalnya, yang telah dilakukan, pembangunan Islamic Center, berupa masjid tanpa kubah menyerupai gedung kesenian yang seolah terapung di atas kolam. 

Di sebelahnya, dibangun pula balai adat yang rencananya menjadi pusat kesenian. Bangunan itu didesain oleh arsitek Andra Matin. “Pilihan kami jatuh ke sastra dan seni," kata Umar. Karenanya, Umar pun mengapresiasi terbitnya buku berjudul Tubaba sebagai ikhtiar membangun Tubaba lewat jalan kebudayaan. "Peluncuran buku ini, tiada lain sebagai pintu masuk agar Tubaba lebih dikenal,” kata Umar. Dia menilai, pembangunan Tubaba tidak hanya sekedar fisik, namun juga perlunya mengembangkan kreativitas warga melalui program-program budaya.

Dalam konteks antropologis, Tubaba masih menyimpan ruh masa lalu dan simbol-simbol budaya yang mengalami proses konstruksi dan akulturasi. Identitas sosial budaya masyarakat Lampung yang menghuni kawasan itu kemudian direkam oleh sembilan sastrawan. Mereka melakukan perjalanan ke Tubaba beberapa waktu lalu. Pengalaman selama berada di Tubaba itu yang kemudian direalisasikan dalam buku Tubaba.  

Dalam perjalanannya, mereka melihat rupa rumah adat Lampung berbentuk panggung, masyarakat transmigran yang masih masih kuat dengan identitas asalnya, perkebunan karet, dan sebagainya.

Mereka juga menyimak para pewarah yang berkisah tentang historis dan budaya leluhur seperti mitologi tentang buaya penunggu sungai Tulang Bawang, Tiyuh Pagar Dewa yang konon sebagai pusat Kerajaan Tulang Bawang. Mereka juga melihat Tugu Rato Nago Besanding di ibu kota kabupaten, Panaragan Jaya, dengan visual sepasang pengantin sedang menaiki kereta yang ditarik dua naga sebagai simbol konstruksi budaya baru.

Pengalaman mengunjungi Tubaba ini diarsipkan oleh sembilan sastrawan asal Lampung, Jakarta, Yogyakarta, dan Padang. Karya sastra merka berisi tiga tulisan esai, 11 cerpen, 15 puisi, dan satu naskah teater. Tubaba diterbitkan atas kerjasama antara studiohanafi, Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Tubaba, dan penerbit baNANA.

Sembilan penulis yang terlibat dalam proses penulisan buku ini dikenal telah berkiprah dan menorehkan prestasi dalam bidang sastra. Mereka antara lain: Nukila Amal, AS Laksana, Yusi Avianto Pareanom, Iswadi Pratama, Esha Tegar Putra, Afrizal Malna, Dewi Kharisma Michellia, Dea Anugrah, dan Langgerang Prima Anggradinata. 

Buku itu diluncurkan di Goethehaus, Menteng Jakarta, pada 25 Juni 2016. Peluncuran itu juga dihadiri Gubernur Lampung M Ridho Ficardo, Duta Besar Belgia Patrick Hermann, dan pengelola Studio Hanafi Adinda Luthvianti. Selain peluncuran buku, disuguhkan pula pemutaran film pendek tentang Tubaba dan performance musik Q-ensemble yang dipimpin Lawe Samagaha.

Di atas panggung, Q-Ensamble melakukan eksplorasi dengan menggunakan Cetik, sebuah alat musik tradisi Lampung menjadi Qtik sebagai alat musik baru dengan nada dasar musik yang berbeda untuk mengiringi lagu-lagu Lampung dan puisi Pagar Dewa Esha Tegar Putra.

Proses penggarapan buku yang dimulai sejak Oktober 2015 lalu itu, diawali dari proses kuratorial untuk  memilih penulis hingga melakukan riset lokasi dan tekstual, di mana para sastrawan melakukan perjalanan menyusuri jejak sastra lisan dan sejarah Lampung.

Para sastrawan menyimak berbagai kisah, mencatat, mendokumentasikan, dan menghayatinya. Setelah itu, mereka mengerjakan karya sastranya dari awal Februari hingga akhir April 2016. Sementara proses penyuntingan dilakukan Zen Hae dari awal Mei hingga akhir Mei 2016.

Saat peluncuran buku tersebut, para sastrawan membagi pengalamannya. Mereka duduk setengah melingkar di panggung dengan latar lukisan sosok naga yang memeriksa kukunya yang disebut “Totem Sang Pembaca” karya Hanafi. Mereka dipandu Zen Hae, selaku moderator.

“Banyak historis yang tertimbun di Tubaba,” kata Iswadi Pratama sebagai putra Lampung. Dia memaparkan secara mendalam proses kreatifnya lewat lima puisi berjudul: Sebuah Peran, Fiksi untuk Wanggai, Ratu yang sendiri, Tersebab Sunyi dan Libretto yang Tak Dimainkan. Iswadi juga menulis satu naskah teater berjudul Reminding Stories#4 yang menjelaskan nilai sejarah tersebut seperti pada kisah sebuah perebutan kekuasan di kerajaan.

Sedangkan Afrizal Malna, yang menulis lima puisi dan satu cerpen, mengangkat sisi mitologi dan historis Tubaba. Itu terlihat saat dirinya menulis puisi Kartografi: Arsip Dalam Lapisan Bawang, Ladang yang Dipindahkan ke Atas Kertas, Koper yang Tak Bisa Ditutup, 1737, dan Pewarah dan Teknologi Lisan.

Afrizal menjelaskan, pilihan mitologi dan sejarah pada puisinya tersebut dengan melihat asal-usul sebagai mata rantai. "Bagaimana saya masuk ke patahan mata rantai dengan imajinasi, bukan yang dikonstruksi,” jelasnya yang dilanjut dengan pembacaan puisi, sembari melakukan performance art dengan properti keresek merah di atas kepalanya.

Dalam cerpen berjudul Terhempasnya Huruf “F”, Afrizal menggunakan perangkat utama berupa kamera untuk merekam objek yang didapatnya selama perjalanan ke Tubaba. Kamera menjadi alat pencatat dan perekam yang kemudian dia tuangkan dalam bentuk cerpen.

Esha Tegar Putra yang memiliki kekhasan dalam kultur Minang dalam karya-karyanya, turut pula mengedepankan warna lokal dalam lima puisi dan satu cerpennya. Esha menggunakan transportasi bus selama 28 jam melalui jalur lintas tengah, dari Padang ke Lampung. Dalam perjalanan itu, dia membayangkan dirinya sebagai perantau. “Saya membayangkan diri saya sebagai perantau dan saya mendengar keluh kesah warga Tubaba tentang harga karet yang turun,” ungkap Esha.

Cerpennya berjudul Tun Rompak Jadi Buaya, diadopsi dari kisah mitologi seekor buaya di Way Tulang Bawang. Begitu pula dengan puisi Ke Pagar Dewa, Hikayat Danau Lambo, Sutan Naik Pepadun, Tentang Umar dan Sambal Panaragan.

Dewi Kharisma Michellia menulis cerpen dalam bentuk realis, berjudul Nenek yang berusia ratusan tahun hingga akhirnya menghadapi kematian dengan caranya sendiri. Lalu, cerpen Pertemuan, yang mengisahkan seorang anak panti yang membawa makhluk halus ke pantinya. Kedua cerpen ini sangat terlihat jika Michel sedang mengalami kemurungan oleh bayang-bayang kematian. Michel yang berasal dari Bali, terinspirasi dari pengalaman tentang magic, keabadian, dan kematian, terutama ketika sang ayah meninggal dunia, sebelum dirinya menuju Tubaba.

Sedangkan dua cerpen yang ditulis Dea Anugrah, menggunakan gaya fiksi seperti dalam esainya, Kisah Afonso dan Penembak Jitu. Dea menuturkan, karyanya dipengaruhi latar belakangnya yang berbeda dengan penulis lainnya. Dea tidak begitu akrab dengan tradisi lisan. Karenanya, ketika menulis cerita, dia hanya bersandar pada bacaan dan membayangkan jika peristiwa di Tubaba juga terjadi di tempat lain.

Ikhwal kisah masa lalu terlihat pada cerpen Yusi Avianto Pareanom. Dalam cerpennya, Ia Pernah Membayangkan Ayahnya adalah Hengky Tornado dan tentang upacara adat pada Tiga Kematian dan Satu Penobatan.

Nukila Amal menulis esai dengan apik yang juga menjadi pembuka buku dengan judul, Kabupaten Muda Itu Tubaba Sekelumit. Nukila menulis catatan perjalanannya dengan begitu detail. Tulisannya serupa rekaman video yang memperlihatkan pemandangan, transportasi yang digunakan untuk menyusuri sungai, barisan pohon karet, suasana di Pagar Dewa, dan berbagai catatan lainnya.

Sementara esai Tubaba Dari Nol dan cerpen Perempuan Yang Disingkirkan, AS Laksana mengakui terpengaruh penulis besar Argentina, Jorge Luis Borges. Dia mencoba menuliskan fiksi agar lebih masuk akal. Setidaknya, ucap Sulak, sapaan AS Laksana, dengan memberi dongeng-dongeng yang bagus. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana bercerita dengan tenang.

Zen Hae menilai, tulisan-tulisan dalam buku ini mempersoalkan kembali karya sastra pesanan dan warna lokal. Sebagai karya pesanan, tulisan-tulisan dalam buku ini cukup berkelas. Para penulis piawai menyiasati tegangan antara pesanan dan kreativitas, antara masa silam dan kekinian, antara khazanah sastra nasional dan khazanah sastra dunia.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Energi & Tambang
Humaniora
05 Jul 20, 19:40 WIB | Dilihat : 74
Negara Bertanggungjawab Prioritaskan Kaum Tuna
01 Jul 20, 20:27 WIB | Dilihat : 96
Misu Misu
10 Jun 20, 21:37 WIB | Dilihat : 720
Abdul Buthun versus Insaniadiy Menghadapi Petaka
03 Jun 20, 22:49 WIB | Dilihat : 354
Sapu Lidi
Selanjutnya